Belajar dari Tanoker

Seni Sebagai Sarana Inklusi Korban Talangsari dengan Masyarakat Sekitar
October 6, 2017
Pelatihan Perempuan Penggerak Desa
October 6, 2017

Belajar dari Tanoker

Para peserta dalam festival egrang

Pada 21 – 23 September 2017 lalu Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) berkesempatan untuk hadir di acara tahunan Festival Egrang yang dibuat oleh Tanoker (dalam bahasa Madura berarti Kepompong) di Ledokombo, Kabupaten Jember Jawa Timur. Fesitival tahun ini menjadi festival ke-8 yang digelar oleh Tanoker dan dihadiri oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan & Perlindungan Anak, Ibu Prof. DR. Yohana Susana Yambise dan Bupati Jember Ibu dr. Hj. Faida MMR.

Acara tahunan ini pertama kali digagas oleh Suporaharjo dan Farha Ciciek yang memutuskan pulang ke kampung halamannya di Ledokombo pada tahun 2009. Mereka prihatin melihat berbagai masalah yang kompleks menimpa anak-anak TKI/TKW di Ledokombo. Pasangan ini kemudian mendekati dan menyapa anak-anak untuk melakukan berbagai aktivitas bersama-sama. Di Tanoker, anak-anak ini belajar berbagai pengetahuan dan bermain berbagam permainan tradisional, outbond, musik, menari, drama dan lain-lain. Sementara Egrang digunakan sebagai icon komunitas Tanoker.

Festival Egrang ke-8 tahun ini di juga dibarengi dengan berbagai diskusi terkait dengan pengasuhan anak berbasis komunitas. Peserta yang hadir di kegiatan yang diadakan selama tiga hari ini diikuti juga beberapa anak yang merupakan perwakilan dari Garut, Bandung, Jakarta, Sumba Barat Daya dan Lombok Timur.

Kelompok ibu-ibu yang berpartisipasi dalam festival egrang

Banyak hal yang bisa dipelajari dari perjalanan IKa ke Tanoker ini. Kerja-kerja pengorganisasian masyarakat yang dilakukan oleh pasangan Farha Ciciek & Suporaharjo luar biasa. Pada pelaksanaan festival ini contohnya, mereka tak hanya melibatkan anak-anak tetapi kelompok Ibu-ibu, bapak-bapak sampai dengan remaja yang ada di Ledokombo. Komunitas ibu-ibu diberdayakan untuk menyiapkan aneka makanan tradisional khas Jember, mulai dari rawon singkong, sate jamur dan lain sebainya.

Seluruh masakan yang dibuat oleh ibu-ibu ini dinikmati oleh seribu orang peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Sementara itu, banyak bapak-bapak, anak-anak dan remaja ikut menyiapkan transportasi, akomodasi dan membuat berbagai dekorasi sepanjang jalan yang dilalui oleh para peserta festival dan penyusunan rangkaian acara serta perlengkapan untuk acara tahunan tersebut.

Festival Egrang ini juga membawa berkah tersendiri bagi warga sekitar Ledokombo.  Banyak rumah warga yang menjadi penginapan bagi para wisatawan yang datang untuk menonton festival tahunan ini. Dengan menerapkan ketentuan hanya rumah yang memiliki toilet saja yang akan menjadi penginapan bagi para tamu secara tidak langsung telah mengubah kebiasaan warga Ledokombo yang sebelumnya aktivitas MCKnya di sungai menjadi lebih memperhatikan sanitasi dengan membuatnya di rumah mereka sendiri.

Tidak sedikit aktivis yang sukses melakukan kerja-kerja pengorganisasian di berbagai wilayah. Namun hanya sedikit saja dari mereka yang bisa sukses melakukan pengorganisasian di wilayahnya sendiri. Pasangan Farha Ciciek dan Suporaharjo ini telah membuktikannya, dari tujuan kecil hanya ingin merawat orang tua  mereka di kampung, ternyata telah memberikan perubahan besar bagi masyarakat sekitarnya dan pada akhirnya juga telah menginspirasi dunia.

(VN)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *