Catatan dari Yogyakarta: Cerita-Cerita Inspiratif dari Pertemuan Pandu Inklusi Nusantara

Teater, Dongeng Keliling dan Festival Keberagaman yang akan Semarakkan Program Pundi Budaya
November 1, 2018
Penggalangan Dana Pundi Perempuan selama Kampanye 16 hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan: 25 November – 10 Desember 2018
November 25, 2018

Catatan dari Yogyakarta: Cerita-Cerita Inspiratif dari Pertemuan Pandu Inklusi Nusantara

Apa yang terjadi jika sebanyak 150 kader inklusi dari berbagai pilar Program Peduli, dipertemukan dalam sebuah pertemuan? Meriah dan sarat dengan cerita-cerita kemanusiaan.

150 kader inklusi ini, mewakili sekitar 5000 kader inklusi yang tersebar di 75 kabupaten / kota di 22 provinsi di Indonesia. Pandu Inklusi Nusantara (PINTAR) yang bertujuan untuk membangun solidaritas antara kader serta memberikan apresiasi atas kerja-kerja kader dalam membangun inklusi sosial bersama program Peduli ini berlangsung di Yogyakarta pada 6-8 November 2018 lalu.

Program inklusi merupakan program yang menggunakan sudut panjang orang lain dalam memahami masalah. Dalam program ini, IKa (Indonesia untuk Kemanusiaan) yang merupakan salah satu organisasi yang melaksanakan program Peduli, hadir dalam pertemuan tersebut.

Para kader saling berbagi cerita, saling menyemangati dan menginspirasi. Mereka berasal dari berbagai pilar kegiatan: anak dan remaja rentan, Hak Asasi Manusia (HAM) dan restorasi social; korban diskriminasi, intoleransi dan kekerasan berbasis agama. Kemudian dari masyarakat adat dan lokal terpencil, waria, orang dengan disabilitas yang datang dari berbagai kota di Indonesia dari ujung Aceh, hingga Sumba. Dari Palu hingga Yogyakarta.

Acara yang berlangsung pada 6-8 November ini berlangsung sangat meriah. Peserta Pandu Inklusi Nusantara diajak untuk saling terhubung dengan cara bercerita pengalaman mereka dalam membangun gerakan inklusi sosial melalui Program Peduli.

Berbagai cerita inspiratif dibagikan dalam cerita-cerita pada hari pertama. Cerita ini kemudian juga dilengkapi dengan kunjungan ke titik-titik pembelajaran inklusi yang ada di wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah, diantaranya desa Karangrejo, Magelang yang berhasil mengelola eko wisata dengan melibatkan masyarakat dan memastikan kelompok miskin dan difabel sebagai penerima manfaat utama. Desa lain lagi yaitu Desa Panggungharjo, Bantul yang dinobatkan sebagai desa inklusi terbaik tingkat nasional.

Organisasi Foperham juga punya kisah menarik dalam membangun kerelawanan bagi para korban HAM di Yogyakarta. Dalam pertemuan ini, Forperham kemudian mengajak organisasi yang hadir untuk berkunjung ke komunitas Bentor di Malioboro, Yogyakarta.

Tiga hari yang sarat cerita.

Setelah melakukan kunjungan, hari-hari itu juga dihiasi dengan dengan apresiasi dan puncak perayaan pada 7 November 2018 di gedung Pusat Kebudayaan Koesnadi Harjosumantri (PPKH) Universitas Gajah Mada (UGM).

Dalam acara di UGM ini, ada 10 cerita luar biasa dari 10 kader dalam pemaparan pengalaman mereka.

“Para kader inklusi ini adalah mutiara-mutiara yang ada di sekeliling kita. Yang bekerja tanpa kenal lelah untuk memperkuat dan menguatkan sejumlah populasi tersembunyi dalam masyaakat yang selama ini termarginalkan,” demikian ungkap Ibu Abdi Suryaning Ati dari The Asia Foundation.

Dalam acara tersebut, kepada seluruh kader disematkan pin sebagai bentuk pengukuhan sebagai kader inklusi.

Bapak Sanusi (76 tahun) adalah penyintas 65 dari Sekber Surakarta yang terpilih mewakili pilar HAM dan Restorasi Sosial yang kemudian mendapatkan pin. Di hadapan sekitar 400 peserta yang memadati ruangan, pak Sanusi berkisah bagaimana upaya membangun kembali harkat kemanusiaan yang terenggut sebagai tahanan politik.

Bagi pak Sanusi, Forum pertemuan bulanan yang dilakukan organisasi Sekber 65, yang didukung lewat Program Peduli menjadi benar-benar menjadi ruang pemulihan dan merawat semangat para korban. Dari sini, pak Sanusi dan korban yang lain misalnya memperoleh akses kesehatan lewat Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK). Hal ini menjadi titik balik para korban. Mereka merasa diakui dan dimanusiakan oleh negara. Hal yang selama ini tak pernah mereka dapatkan.
Dari Pilar HAM dan Restorasi Sosial dengan Indonesia untuk Kemanusiaan sebagai mitra paying, hadir sejumlah kader dari RPUK -Aceh, PK2TL – Lampung Timur, IKOHI – Jakarta, Sekber 65 Surakarta dan Karanganyar, Foperham – Yogyakarta, SKPHAM – Palu dan Perkumpulan Bantuan Hukum (PBH) Nusra – Sikka. Semua mengaku senang dan tersemangati dengan adanya pertemuan ini.

“Senang. Bisa dengar cerita dari teman-teman lain se-Indonesia. Jadi merasa semangat dan tidak sendiri sebagai korban,’ Kata Pak Ignatius Nasi, kader dari PBH Nusra, Sikka.

Ignatius Nasi adalah pemimpin adat Soge yang sebelumnya menginisiasi upacara adat Gren Mahe. Upacara ini merupakan upaya untuk membangun rekonsiliasi kultural di tingkat lokal di Nusa Tenggara Timur.

“Pertemuan ini sangat bagus. Ini baru pertama kali saya bicara di depan orang sebanyak ini. Saya merasa benar-benar diapresiasi oleh Program Peduli. Jadi bertambah semangat sebagai kader inklusi.’ Kata Pak Sanusi.

Forum Pandu Inklusi Nusantara, telah menjadi ajang para kader belajar dari perbedaan, dan menghentikan segala prasangka dan bersama mewujudkan Indonesia Inklusif yang setara-semartabat.

(Lilik HS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *