Doa Bersama 29 Tahun Peristiwa Talangsari

Pendanaan Grand Challenge Canada
February 6, 2018
The Inclusive Global Leadership Initiative (IGLI) Nominations
February 13, 2018

Doa Bersama 29 Tahun Peristiwa Talangsari

Para warga berkumpul untuk Yasinan

Usai Maghrib, satu per satu bapak mengenakan peci dan kain sarung datang ke mushola. Sorotan lampu senter menjadi penerang jalanan yang cukup gelap. Bapak ustad datang tak lama kemudian. Acara pun dimulai. Mereka mendaras Surat Yasin dengan khidmat.

Malam itu, Selasa 6 Februari, diadakan acara Yasinan atau doa bersama dalam rangka peringatan 29 tahun peristiwa Talangsari. Peristiwa Talangsari terjadi pada 7 Februari 1989, di dusun Talangsari (kini bernama dusun Dusun Subing Jaya III), Desa Rajabasa Lama, Kecamatan Labuhan Ratu, Kabupaten Lampung Timur. Penembakan terhadap jemaah pengajian yang dianggap sebagai Gerakan Pengacau Keamanan, yang menewaskan banyak korban. Warga Talangsari pun turut menerima dampak peristiwa. Rumah-rumah dibakar, mengungsi selama 11 tahun, hingga bertahun-tahun menanggung stigma sebagai “kelompok Mujahiddin.” Padahal, mereka adalah warga desa biasa, yang tak pernah tahu menahu kegiatan yang ada di pesantren yang menjadi pokok soal penyerangan oleh aparat.

Para warga berkumpul untuk Yasinan

Sejak pagi, para ibu sudah sibuk memasak di dapur salah seorang warga, yang berada tepat di sebelah mushola. Dua buah tungku besar menyala. Ibu Ratinah (70 tahun), sibuk memotong sayuran di dapur. Pagi tadi, Supiyah, salah satu kader penggerak Desa Talangsari, menjemputnya ke rumah. Ia diajak membantu memasak untuk Yasinan nanti malam.

Hari itu, untuk pertama kali Ratinah menginjakkan kaki kembali ke lokasi mushola, di mana anaknya menjadi korban 29 tahun silam.

“Biasanya saya tidak mau datang ke sini. Tidak tegel (tega). Setiap ke sini, masih ingat anak saya…” tuturnya pelan. Swasono, saat itu masih usia SMP. Ia menjadi murid mengaji di pesantren di Talangsari. Hingga sebuah peristiwa mengerikan itu terjadi. Ratinah bersama 4 anaknya lari mengungsi.  Esok harinya ia mendapat kabar, Swasono ditemukan meninggal. Situasi mencekam, tak ada yang berani kembali ke lokasi. Ratinah pun tak pernah tahu ke mana Swasono dikubur. “Ngungsi, sampai 11 tahun. Tidak berani ke sini. Takuttt…” tuturnya.

Ia tahu beberapa tahun terakhir ini banyak kegiatan yang diselenggarakan di dusunnya. Ada pengajian rutin, ada lomba Agustusan, juga beberapa kegiatan pelatihan yang dilakukan di mushola. Supiyah kerap mengajaknya, tapi Ratinah masih enggan datang.

Ayo mbok, melu. Ben akeh koncone.“ Ratinah menirukan ajakan Supiyah tadi pagi. Ia pun luluh. Pertama kalinya ia berani masuk ke dalam mushola. Padahal, sudah bertahun-tahun ini, mendekat saja ia enggan.

“Sekarang sudah iklaskan anak saya. Kalau dipikir terus, nanti malah sakit”. Ujarnya pelan. Ketika IKa dan fotografer yang sedang mendokumentasikan kegiatan tersebut meminta izin mengambil fotonya, ia mengangguk tak keberatan. Dengan suara lirih, ia cerita, kebun jagung di mana ia berdiri adalah tepat lokasi pondok, di mana anaknya kemudian ditemukan meninggal.  Foto-foto usai, ia pun bergabung bersama ibu-ibu di dapur.

“Ikut kegiatan begini ya biar dapat hiburan” Tambah Ratinah. Dengan cekatan tangannya mengambil sejumput bakmi goreng, tumis buncis, orek tempe, sepotong ayam goreng, kemudian ditata ke dalam baskom plastik, yang sudah diisi nasi. Ibu-ibu lain menambahi dengan sebungkus kerupuk, menata deretan baskom plastik dan menghitungnya. Ada 40 wadah baskom plastik disiapkan untuk peserta Yasinan.

Bu Ratinah menata makanan

Langit berangsur gelap. Lampu di dapur telah menyala terang. Demikian pula mushola. “Baru 3 tahun ini lho ada listrik” Tutur Supiyah. Dulu, setiap malam mereka mengandalkan lampu minyak sebagai penerangan. Kemudian, berganti menjadi ‘menggantol’ listrik dari desa tetangga. Dampak dari peristiwa 29 tahun lalu, Dusun Talangsari menjadi dusun yang terisolir. Akses listrik, jalan dan pergaulan sosial pun terhambat.

Kini, listrik menyala terang. Jalanan telah diaspal. Warga pun tak merasa takut-takut lagi membuat kegiatan.

“Sejak ada Peduli, sudah beda. Dulu mana pernah kita dapat bantuan-bantuan dari desa seperti beras, sekarang dapat.” tambahnya.

Bacaan Yasin telah usai. Pak ustad mendaras doa, salah satunya mendoakan para korban peristiwa Talangsari 29 tahun silam.  Sambil terus mendorong kesungguhan negara dalam menyelesaikan kasus Talangsari, setidaknya kini warga mulai dapat menikmati hak-haknya sebagai warga negara dalam akses pembangunan. Tak ada lagi stigma. Selain pulih dari trauma, kerukunan antar warga pun semakin terjaga.

(LHS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *