Give Back Sale, Belanja sambil Berdonasi untuk Para Perempuan Korban

Adinda dari The Indonesian Institute memiliki hobi belanja. Ia mengatakan bahwa belanja saat ini bukan cuma soal menyenangkan diri sendiri saja, tetapi juga untuk membantu upaya teman-teman untuk berdonasi.

Seperti yang dilakukaan saat Kamis pagi, 13 Desember 2018, saat ia berbelanja sambil berdonasi di acara Give Back Sale yang diadakan Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) , Komnas Perempuan dan Ke:Kini di Cikini Jakarta.

“Lewat kegiatan seperti ini, kita bisa ikut berdonasi untuk meningkatkan kesadaran, upaya untuk melawan kekerasan terhadap perempuan.”

Adinda lalu membeli sejumlah barang seperti tas dan buku-buku. Baginya, kegiatan ini menyenangkan. Ini juga bukan kegiatan Give Back Sale yang pertamakali ia datangi. Sejak IKa, Komnas Perempuan dan Ke:Kini membuat Give Back Sale, Adinda selalu menyempatkan waktu untuk datang.

Valentina Sagala, seorang aktivis perempuan dan pendiri Institut Perempuan juga melakukan hal yang sama. Ia datang di pagi hari dan membeli buku serta boneka, sebagai bagian donasinya dalam Give Back Sale. Bagi Valentina, menjadi sangat penting untuk berpartisipasi dan berdonasi untuk perempuan karena ia melihat bahwa dari tahun ke tahun, angka kekerasan terhadap perempuan selalu meningkat.

“Donasi ini penting bagi teman-teman di berbagai penjuru di Indonesia yang aktif dalam forum pengada layanan, mereka adalah lembaga-lembaga yang memberikan bantuan kepada perempuan korban kekerasan maupun anak perempuan korban kekerasan. Mereka biasanya memberikan  pendampingan psikososial, pendampingan hukum. Untuk itu tentu dibutuhkan banyak sekali pendanaan agar kerja-kerja teman-teman lembaga perempuan dan pengada layanan bisa terus berlangsung,” ujar Valentina.

Give Back Sale yang diadakan pada 13-15 Desember 2018 di Ke: Kini ruang bersama di Cikini Jakarta kemarin, merupakan Give Back Sale yang ketujuh kalinya diadakan. Ratusan orang datang setiap hari untuk berbelanja, mereka mendapatkan informasi soal penggalangan dana untuk perempuan, mengikuti workshop berdonasi dengan senang.

Sejumlah pengunjung yang sedang menginap di hotel-hotel tak jauh dari Cikini, berdatangan membeli baju dan buku. Ada yang membeli buku satu boks besar, ada yang membeli baju hingga 3 tas besar. Semuanya untuk oleh-oleh, dan tentu sambil berdonasi.

Give Back Sale merupakan event penjualan barang-barang yang kemudian hasil penjualannya didonasikan untuk para perempuan korban kekerasan di Indonesia.

Data perempuan korban yang naik setiap tahunnya, membuat Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) dan Komnas Perempuan mulai menyelenggarakan Give Back Sale sejak sejak 2015 lalu. Dalam setiap event Give Back Sale, ada masyarakat yang menyumbangkan barang-barangnya yaitu berupa: pakaian, assesories, selendang, sepatu dan tas dan kemudian barang-barang ini dijual di event Give Back Sale.

Komnas Perempuan menyebutkan jumlah kekerasan terhadap perempuan yang semakin naik.  Di tahun 2013 terdapat 279.688 kasus kekerasan terhadap perempuan, di tahun 2016 terdapat 321.725 kasus dan di tahun 2017 melonjak menjadi 348.446 kasus. Jenis kekerasan terhadap perempuan yang paling menonjol sama seperti tahun sebelumnya yaitu Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) di ranah personal yang mencapai angka 71% (9.609). Ranah pribadi paling banyak dilaporkan dan tidak sedikit diantaranya mengalami kekerasan seksual. Posisi kedua kekerasan terhadap perempuan terjadi di ranah komunitas/publik dengan persentase 26% (3.528) dan terakhir adalah kekerasan terhadap perempuan di ranah negara dengan persentase 1,8% (217). Rata-rata mereka mengalami kekerasan fisik, psikis, ekonomi dan seksual.

Give Back Sale sendiri diselenggarakan untuk membantu individu/ komunitas/ lembaga pengada layanan (Women’s Crisis Center/ WCC) yang sehari-harinya membantu perempuan dan anak korban kekerasan. Para perempuan korban ini selama ini diberikan pendampingan psikologis hingga mendampingi penuntasan kasus sampai pengadilan.

Direktur Eksekutif Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa), Anik Wusari menyatakan bahwa  dengan membeli barang-barang melalui Give Back Sale, maka kita akan membantu banyak perempuan dan lembaga pengada layanan perempuan untuk menuntaskan kasus-kasus kekerasan perempuan.

“Give Back Sale membantu kita untuk terhubung dengan orang-orang yang peduli pada para perempuan korban dan membantu mereka menyelesaikan kasus yang mereka alami,” kata Anik Wusari.

Hingga hari terakhir pelaksanaan Give Back Sale, Kamis (15/12/2018), donasi yang sudah terkumpul dari hasil penjualan kurang lebih sekitar: Rp. 45 juta. Selain menjual barang-barang, dalam event Give Back Sale diadakan juga workshop berdonasi pada Sabtu (15/12/2018). Beberapa topik workshop antara lain: How to Make an Effective Campaign,  It’s All About Me Up, Urban Little Garden, Zero Waste, Pembacaan Tarot dan Sktech.

Dana ini kemudian akan didonasikan melalui program Pundi Perempuan yang dikelola IKa. Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) dan Komnas Perempuan mengelola Pundi Perempuan sejak tahun 2003. Saat ini kurang lebih sudah 80 individu/ komunitas dan pengada layanan untuk perempuan korban kekerasan seksual telah mendapatkan donasi Pundi Perempuan.

Pundi Perempuan merupakan women’s fund (dana hibah perempuan) pertama di Indonesia yang hadir dalam konteks persoalan kekerasan terhadap perempuan di Indonesia dan dalam dinamika dana yang tersedia untuk perubahan sosial.

Digagas oleh Komnas Perempuan pada tahun 2001, dan mulai tahun 2003 dikelola bersama IKa (Indonesia untuk Kemanusiaan). Pundi Perempuan menghadirkan model hibah yang memberdayakan, sesuai dengan nilai-nilai perubahan sosial yang diharapkan. Kegiatan dalam Pundi Perempuan antaralain melakukan penggalangan, pengelolaan, pengembangan dan pendistribusian sumber dana yang akuntabel, memberi dukungan dan mendorong keberlanjutan organisasi, komunitas atau individu yang memiliki inisiatif penghapusan kekerasan terhadap perempuan. Memberikan dukungan bagi kesehatan, keselamatan, kesejahteraan dan kapasitas perempuan pembela HAM. Serta membangun dan mengembangkan jaringan baik di tingkat lokal, nasional dan internasional untuk memperkuat peran Pundi Perempuan.