Launching Buku dan Pameran Sketsa “Tiada Jalan Bertabur Bunga, Memoar Pulau Buru dalam Sketsa”

Referensi 3: Diskusi Pembelajaran Kaitan Antar Isu Kemiskinan Ekstrim dan Hak Asasi Manusia
January 27, 2015
Global Summit for Community Foundation
December 5, 2016

Launching Buku dan Pameran Sketsa “Tiada Jalan Bertabur Bunga, Memoar Pulau Buru dalam Sketsa”

Launching Buku dan Pameran Sketsa
“Tiada Jalan Bertabur Bunga, Memoar Pulau Buru dalam Sketsa”

14682129_1250102198344620_1374738630690196927_o 14706781_1250102245011282_959295402088651911_o 14711142_1250102148344625_46495182965878010_o

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian” demikian kalimat pembuka yang diucapkan Gregorius Soeharsojo Goenito, mengutip kalimat temannya di kamp tahanan paksa di Pulau Buru dalam acara launching buku sketsa berjudul “Tiada Jalan Bertabur Bunga, Memoar Pulau Buru dalam Sketsa” hari Sabtu (15/10) sore.
Kalimat yang berasal dari seorang sastrawan terkemuka, Pramoedya Ananta Toer, menurut penyintas berusia 80 tahun asal Surabaya itu, menjadi salah satu alasan untuk menerbitkan buku sketsa memoar tentang penahanan paksa yang dialami di Pulau Buru. Acara yang diluncurkan di ruang Beranda Kekini Jakarta, tersebut sekaligus memamerkan sketsa karya tentang pengalaman Pak Greg, sapaan akrabnya, selama hidup di Pulau Buru dari tahun 1969 hingga 1978.
Pak Greg yang belajar kesenian di Perguruan Taman Siswa di Madiun ini di depan audiens yang sebagian besar anak muda ini mengatakan sedih jika ingat pengalamannya ketika masih muda sudah dipenjara. “Umurku sudah dikurangi sekian tahun di penjara. Tapi kalau lihat anda-anda yang masih muda dan bersemangat ini, saya ingin hidup seribu tahun lagi,” ujar laki-laki yang juga aktif bermusik, bermain drama dan teater bersama Lembaga Kesenian Rakyat (Lekra) pada paruh pertama 1960-an. Pak Greg, yang menghuni Uni III di Pulu Buru ini berkisah bahwa banyak kenangan pahit bersama ratusan tahanan lainnya mulai dari buruh, tani, pelajar yang tidak bersalah dan tidak tahu apa-apa soal politik namun ia tidak ingin mengingat kenangan pahit tersebut. Banyak juga kenangan lucu dan menarik di Pulau Buru yang justru banyak ia tuangkan dalam sketsanya.
“Seluruh karya sketsa Pak Greg dibuat di Pulau Buru, bukan setelah ia bebas” tutur Aryo Yudanto narasumber lainnya. Aryo yang merupakan pendamping Pak Greg, pernah menjadi pengurus IKOHI Jawa Timur. Pemuda yang kini aktif membantu lembaga Insist di Yogyakarta ini bercerita, pertama kali dirinya mengenal Pak Greg di tahun 2006 ketika melakukan penelitian untuk skripsinya. Judul skripsi yang ditulis saat kuliah S1 jurusan sejarah UNAIR ini berjudul Politik Kebudayaan Lekra Surabaya Tahun 1952-1959. Penelitian yang dilakukan Aryo selama 3 tahun sambil membantu berbagai kegiatan Pak Greg tersebut membuatnya semakin akrab satu sama lain.
Aryo menyampaikan soal bagaimana dirinya memaknai karya Pak Greg dalam kerangka melawan lupa dan merawat ingatan. Menurut pria yang juga lulusan S2 Antropologi UGM ini, merawat ingatan kolektif yang dilakukan oleh Pak Greg dengan cara membuat sketsa satir tentang apa yang dialami selama masa penahanan paksa di Pulau Buru bersama puluhan ribu orang lainnya. Ia juga menambahkan bahwa proses kreatif itu sama penting dengan hasil karyanya.
Narasumber terakhir ialah seorang komikus bernama Reza yang mewakili seniman muda. Pemuda yang dikenal dengan nama Azer ini menyampaikan soal pandangannya atas sketsa Pak Greg dari sisi seni rupa. Ia menyampaikan bahwa karya-karya Pak Greg ini sebagai karya satir yang menggambarkan pengalaman nyata yang dialami di Pulau Buru. Uniknya, karya-karya yang di dalam bukunya tidak menggambarkan kemarahan dan kebencian terhadap rezim Orde Baru seperti beberapa karya seniman lainnya. Ia menambahkan bahwa anak muda saat ini cenderung lebih suka melihat karya menarik yang apa adanya, ringan dan tidak terlalu vulgar seperti karya Pak Greg. “Karya-karya seperti kepala orang diinjak sepatu tentara dan berdarah kurang disukai oleh kebanyakan anak muda”. Karya-karya Azer sendiri yang tergolong satir, disampaikan dengan cara yang jenaka. Karena itu karyanya disukai oleh banyak anak muda.
Acara ini kemudian ditutup dengan ucapan penutup dari panitia, Zico Mulia (Sekretariat KKPK), Zaenal Muttaqin (IKOHI) dan perwakilan dari kerabat, Ibu Nursyahbani Katjasungkana. Setelah itu pembacaan puisi berjudul Nawala, yang ditulis Pak Greg tahun 2008. Acara ini digelar atas inisiatif bersama AJAR, Insist Press, IKOHI JATIM dan Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) yang juga merupakan sekretariat Koalisi untuk Keadilan dan Pengungkapan Kebenaran (KKPK).- zm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *