Ketoprak Srawung Bersama, Merawat Ingatan, Merayakan Inklusi

Belajar Bersama dalam Lokakarya Komunikasi Mitra Peduli 2017 -2018
November 9, 2017

Ketoprak Srawung Bersama, Merawat Ingatan, Merayakan Inklusi

Salah satu mitra Program Peduli IKa di Solo mengadakan acara Srawung Seni Bersama pada 6 November 2017 di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah. Acara ini terdiri dari pentas keroncong, pembacaan puisi dan ketoprak. Satu orang perwakilan IKa berkesempatan menghadiri acara tersebut. Acara yang sedianya akan dimulai pukul 19.30 terpaksa mendur karena hujan deras. Pukul 20.00 para penonton mulai hadir ke lokasi. Mereka datang berombongan dari berbagai daerah di sekitar Solo. Sekitar 200 penonton yang sebagian besar berusia lanjut memadati teater.

Para penonton memasuki ruang teater

Untuk menyambut para penonton, lagu keroncong dari Pak Wilardi dan timnya dari Himpunan Artis Musik Keroncong Indonesia (HAMKRI) dikumandangkan. Di luar ruang teater, beberapa kerajinan hasil karya para anggota organisasi korban dipajang untuk ditawarkan.

Kerajinan dari barang bekas hasil karya para anggota organisasi korban kekerasan masa lalu

 

Sebagai pengantar pembacaan puisi dipersembahkan oleh beberapa seniman, yaitu Bambang dan Hamzrud. Para penonton bertepuk tangan dengan meriah seusai melihat penampilan mereka. Selanjutnya, Didik Dyah, selaku pimpinan produksi dari ketoprak sekaligus pembawa acara, memberikan sambutan diikuti oleh perwakilan IKa dan ketua LPSK. Ketiganya menekankan pentingnya mempelajari sejarah, masa lalu, dan kebudayaan melalui Ketoprak sebagai seni tradisional.

Para pemain keroncong membawakan lagu dengan Bu Betet sebagai penyanyi

Pak Bambang tampil membawakan puisi

 

 

Malam semakin larut, namun antusias penonton untuk menyaksikan acara inti pementasan yaitu Ketoprak berjudul Roro Mendut tidak surut. Pementasan ini mengangkat perseteruan antara Kadipaten Mataram dan Pati dengan tokoh utamanya Roro Mendut. Informasi mengenai peristiwa kekerasan masa lalu yang sampai saat ini masih berdampak bagi para korban diselipkan dalam skenario. Walaupun pesan yang dibawakan cukup berat, pementasan Ketoprak dibawakan dengan sangat jenaka. Salah satu adegannya adalah seorang anak yang ditegur ibunya karena terus-terusan merokok. Sang ibu membesarkan anaknya seorang diri karena ayahnya hilang – dijemput paksa dan si anak melampiaskan kerinduan pada ayahnya dengan merokok. Hal tersebut menggambarkan kondisi keluarga yang menderita karena anggota keluarga mereka menjadi korban kekerasan masa lalu.
Bu Betet sebagai salah satu keluarga korban yang sudah sering bermain peran di panggung mengatakan acara malam itu agak sepi tapi ia bersyukur karena pementasan berjalan baik. Ia mengatakan bahwa Ketoprak sebagai salah satu budaya dapat menjadi cara untuk menyatukan masyarakat. Hal tersebut senada dengan yang diucapkan Cucuk Suhartini yang berperan sebagai Roro Mendut. “Aku seneng kok bisa ikut, karena acara seperti ini rame dan banyak orang bisa terhibur, karena nenekku juga punya pengalaman langsung jadi aku excited juga sama ceritanya”, kata Cucuk, keluarga korban yang juga memiliki latar belakang seni teater.

Suasana Pentas Ketoprak

Pemain Ketoprak pada acara ini adalah gabungan kelompok teater modern yang bernama Teater Surakarta (TERA) dan teater tradisional yaitu Ketoprak Srawung dengan jumlah sekitar 20 orang. Kedua kelompok itu melebur menjadi Ketoprak Srawung Bersama. Selain itu ada 5 orang keluarga korban kekerasan masa lalu yang ikut menjadi pemain. Inilah bentuk inklusi yang nyata dalam kesenian. “Awalnya mereka agak minder ya, tapi malam ini mereka dapat tampil dengan baik di panggung”, tutur Winarso, perwakilan dari organisasi korban dan sebagai penyelenggara acara.
Ketika ditanya mengenai tujuan dari diadakannya acara ini dan keterkaitannya dengan Program Peduli, Winarso, “Persoalan Program Peduli adalah gimana bisa inklusi dengan masyarakat luas, sebagai alat pemenuhan korban dalam ekosob terutama dalam budaya dan sosial sehingga (kami) melibatkan seniman teater modern. Teater tradisi sangat efektif untuk menjangkau masyarakat karena hampir seminggu sekali pentas”
Acara ditutup sekitar pukul 23.30. Kehadiran sejumlah anak muda yang turut menyaksikan acara ini menjadi hal yang cukup membahagiakan karena kesenian tradisional identik dengan generasi tua. Harapan bahwa generasi muda akan lebih memiliki pemahaman dan ingatan akan peristiwa kekerasan masa lalu menemani langkah kami pulang malam itu.
(GA)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *