Komunitas Pemberdaya Muda dan Kisah-Kisah yang Menggerakkan

Give Back Sale, Belanja sambil Berdonasi untuk Para Perempuan Korban
December 17, 2018
Panah 7 Srikandi, Hidup Perempuan yang Melesat Jauh
January 4, 2019

Komunitas Pemberdaya Muda dan Kisah-Kisah yang Menggerakkan

“Saya menjadi pelari yang mendonasikan kegiatan saya, setelah saya bergabung menjadi bagian dari komunitas pemberdaya di Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa). Dan kegiatan lari berdonasi ini saya lakukan sampai sekarang.Buat saya, bergabung dalam komunitas pemberdaya ini menjadi sangat penting dan menginspirasi saya.”

 Ini adalah pengakuan Evie Permata Sari. Ia pernah lari dari Yogyakarta ke Borobudur di Jawa Tengah, lalu mengajak orang untuk berdonasi dari hasilnya menjadi pelari.

Dalam pertemuan komunitas pemberdaya bertajuk “Youth Speak for Fund and Humanity,” yang diselenggarakan Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) dan Komnas Perempuan pada 15 Desember 2018, Evie menyatakan bahwa inspirasi menjadi pelari berdonasi ini ia dapat setelah ia menjadi komunitas pemberdaya IKa. Evie merasakan, rasanya sangat senang bisa membantu orang lain dengan hasil jerih payahnya.

Pengakuan Evie dan sejumlah anak muda lainnya ini, merupakan bagian dari sharing session dan talkshow dari anak-anak muda yang aktif dalam isu kemanusiaan.

Maria Isabella dari Copa de Flores, Balqis Hidayati dari komunitas Kita Anak Negeri, pendongeng anak-anak Kak Ardy Ferdianto, dan Anggun Pradesha dari Sanggar Swara mengisi dalam acara ini.

Mereka berbagi bagaimana keresahannya terhadap isu-isu kemanusiaannya, keterlibatan sebagai komunitas pemberdaya di Indonesia untuk kemanusiaan (IKa) yang kemudian menggerakkan mereka untuk berkontribusi sesuai dengan passionnya.

Maria Isabella menggabungkan kecintaannya terhadap fashion dan kekayaan budaya nusantara Flores, yaitu tenun ikat, menjadi sebuah brand. Ia ingin memberdayakan perempuan-perempuan di Maumere menjadi sebuah brand fashion Copa de Flores. Perempuan muda yang biasa disapa Bella ini juga aktif menggelar workshop Zero Waste Project dan acara Nona Satu Jiwa yang mempertemukan pelaku usaha lokal dengan masyarakat, dimana sebagian keuntungan usaha di acara tersebut disumbangkan untuk Pundi Perempuan yang dikelola Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) dan Komnas Perempuan.

Sementara Balqis Hidayati, masih berstatus mahasiswa di salah satu universitas swasta di Jakarta, dalam forum ini menceritakan bagaimana sebagai salah satu pemain band, ia melihat sejumlah teman perempuan anggota band yang sering dilecehkan secara seksual di belakang panggung oleh lakki-laki. Inilah yang membuatnya tergerak untuk membuat acara dan mendonasikannya untuk Pundi Perempuan.

“Tiba-tiba saja saya merasa tergerak untuk melakukan sesuatu untuk perempuan ketika saya melihat pelecehan yang mereka hadapi sebagai pemain band. Inilah yang membuat saya kemudian ingin berbuat sesuatu dan membantu,” ujar Balqis.

Melalui Organisasi Kita Anak Negeri, Balqis pada November 2018 lalu mengadakan penggalangan dana melalui pertunjukkan musik di Margo City Mall, Depok sebagai bagian dari peringatan 16 Hari Anti-Kekerasan terhadap Perempuan. Hasil penggalangan donasi ini, berupa baju-baju dan assesories, dijual dalam Give Back Sale yang dikelola Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) dan Komnas Perempuan pada 13-15 Desember 2018 di Ke:Kini, Jakarta.

Anak  muda yang lain, Kak Ardy Ferdianto adalah seorang pendongeng. Melalui keahliannya mendongeng, Kak Ardy kemudian mengajak anak-anak untuk ikut peduli terhadap penderitaan para korban yang terkena bencana di Palu dan Donggala.

Kak Ardy berkeliling ke Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Taman Kanak-Kanak (TK), dan sekolah dasar (SD) untuk menggalang donasi melalui Dongeng Celengan Hati selama periode 4-25 Oktober 2018. Hasilnya mengejutkan, donasi yang terkumpul mencapai Rp. 17 juta.

Cerita lainnya datang dari Anggun Pradesha dari Sanggar Swara. Anggun menceritakan perjalanannya bertahun-tahun aktif dalam kegiatan pemberdayaan pada kelompok Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) bersama Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa). Berbagai cara ditempuhnya untuk bertahan di tengah sentimen masyarakat yang masih belum bisa menerima keberadaan LGBT di lingkungannya.

Lewat medium film, Anggun kemudian berhasil menjaring kepedulian masyarakat dalam menggalang dana. Film dokumenter yang dibuatnya berjudul “Emak dari Jambi” berhasil menjadi media untuk menggalang dana sekaligus.

“Dulu saya didampingi oleh Indonesia untuk Kemanusiaan secara terus-menerus, banyak tim IKa yang datang, memberikan masukan dalam pembuatan laporan dan keuangan. Saat ini saya bisa sendiri karena saya menjadi paham jika membuat program atau mengajak orang lain berdonasi.”

Acara ini juga dimeriahkan oleh penampilan musik akustik dari Bagus Bhaskara dan pembacaan puisi oleh Noval Auliady.

Direktur Eksekutif Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa), Anik Wusari, berbagi cerita tentang kegiatan-kegiatan yang didukung oleh Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) melalui berbagai saluran seperti Pundi Perempuan, Pundi Budaya, Pundi Hijau, dan Pundi Insani.Jika Pundi Perempuan dikhususkan bagi para perempuan korban kekerasan, Pundi Insani untuk korban pelanggaran hak asasi manusia masa lalu, Pundi Budaya untuk keragaman dan demokrasi dan Pundi Hijau bagi para pejuang lingkungan.  Hadir juga Mariana Amirudin, Komisioner Komnas Perempuan.

Anik Wusari maupun Mariana sepakat bahwa kegiatan-kegiatan kemanusiaan perlu mendapat dukungan dari anak-anak muda.

“Bukan melihat dari jumlah nominal dana yang diberikan, tetapi keterlibatan anak muda untuk ikut peduli terhadap isu-isu kemanusiaanlah yang perlu menjadi catatan penting,” kata Anik Wusari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *