Panah 7 Srikandi, Hidup Perempuan yang Melesat Jauh

Komunitas Pemberdaya Muda dan Kisah-Kisah yang Menggerakkan
December 19, 2018
Penggalangan Dana dari Pengunjung Hotel untuk Pundi Perempuan
January 9, 2019

Panah 7 Srikandi, Hidup Perempuan yang Melesat Jauh

Membangun keluarga, bertempat dan berteduh di rumah yang nyaman dan ditopang dengan pemasukan ekonomi yang cukup  bersama anak-anak yang lucu dan pintar adalah harapan banyak orang. Namun, apakah semua orang bisa merasakan ini? Demikian sejumlah kalimat yang terdapat dalam kata pengantar buku “Panah Srikandi.”

Buku “Panah Srikandi” adalah buku yang menceritakan tentang para perempuan yang mampu melepaskan panah, keluar dari persoalan hidup yang menjeratnya. Mereka terkena intimidasi, diskriminasi, kekerasan seksual hingga  trauma yang menjerat hidup.

Sekber ’65 bekerja sama dengan Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) melalui Program Peduli dengan dari The Asia Foundation (TAF), menerbitkan sebuah buku berjudul “Panah Srikandi,” pada Oktober 2018 lalu.

Buku yang disusun oleh Didik Dyah Suci Rahayu dan Kelik Ismunanto ini bertujuan untuk memberikan gambaran bagi masyarakat luas tentang definisi korban. Korban adalah mereka yang tidak hanya ditangkap, dibuang, tetapi juga diskriminasi, stereotype yang menimpa keluarganya .

Ini banyak terjadi, salah satunya pada tragedi 1965/1966 misalnya, sang suami  harus meninggalkan keluarganya dan sang istri harus mampu mengatasi semuanya sendirian, bekerja, mendidik anak, menyekolahkan anak di tengah tudingan suami mereka yang mendapat cap buruk sebagai pengkhianat bangsa.

Judul buku Panah Srikandi diambil dari sepenggal kisah Perang Bharatayudha. Ketika para Pandawa tak mampu lagi mengatasi tekanan Resi Bisma, kondisi mereka kritis dan hampir mengalami kekalahan fatal. Lalu munculah Srikandi sang penyelamat dengan membentangkan panahnya mengarah tepat pada Bisma hingga akhirnya gugur Sang Resi Bisma yang maha sakti.

Penulisan dan pengambilan gambar dalam buku ini mencoba melukiskan perjuangan perempuan-perempuan Srikandi.

Terpilih 7 perempuan tangguh yang memberanikan diri membagi kisahnya di buku ini. Mereka adalah para istri korban . Juwita, Suryati, Suyatmi, Sri Muljani, Darsini, Kastinah, dan Sumiyati mengenangkan pahit masa-masa menunggu suami pulang dari tahanan tanpa pernah tahu kapan sang suami akan kembali sekaligus bersusah payah membesarkan anak-anak mereka seorang diri dalam tekanan sosial yang mempersulit kehidupan mereka.

7 perempuan ini mengalami masa pahit ketika suami-suami mereka dipenjara di Bukit Duri, Semarang, Plantungan dan Pulau Buru.  Anak-anak mereka distigmakan buruk. Mereka adalah 7 perempuan yang melesat mengatasi kehidupan yang buruk. Bagai anak panah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *