Pelatihan Perempuan Penggerak Desa

Belajar dari Tanoker
October 6, 2017
Ini Juga Berkat Pundi Perempuan
October 17, 2017

Pelatihan Perempuan Penggerak Desa

Ibu-ibu peserta pelatihan penggerak desa

Selama tiga hari yaitu 29 September – 2 Oktober 2017, delapan belas perempuan dari Aceh, Lampung, Yogyakarta, Palu dan Sikka mengikuti pelatihan. Selama ini, mereka telah aktif dalam kegiatan-kegiatan di desa, yaitu posyandu, PKK, forum pengajian, dan mengikuti rapat-rapat di tingkat desa. Mereka gigih memperjuangkan kesejahteraan bagi warga desa, mengadvokasi dibangunnya jalan, menggerakkan kegiatan-kegiatan Posyandu, kelompok tenun, kelompok kesenian, dan melakukan pendampingan akses-akses layanan sosial. Delapan belas perempuan ini didampingi oleh (Community Organizer) CO dari mitra Peduli : RPuK – Aceh Utara, PK2TL – Lampung Timur, Fopperham – Yogyakarta, SKPHAM – Palu, PBH Nusra – Sikka. Mereka didampingi oleh CO masing-masing yang semuanya adalah anak muda dan sebelumnya telah mengikuti pelatihan UU Desa yang diselenggarakan di Yogyakarta pada 2016 lalu.

Di  hari pertama para peserta diajak untuk mengenali masalah serta potensi di desa masing-masing. Mereka berkelompok dalam merumuskan masalah dan kemudian mempresentasikan di depan forum. Rosniaty Azis dari YASMIB, Makassar yang bertindak sebagai fasilitator  memberikan serangkaian materi mengenai Perencanaan Pembangunan Desa, dimulai dari alur penyusunan RKP Desa/RKPDes, hingga menjelaskan bagaimana praktik-praktik musrembangdes harus dilakukan untuk membawa aspirasi ibu-ibu.  Kemudian ibu-ibu belajar untuk  mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan desa dan menyusun anggaran.

Para peserta berdiskusi dan membuat anggaran

Bagi para peserta, ini adalah pelatihan pertama yang mereka ikuti di luar daerah. Selain materi yang menarik dan berkaitan lansung dengan kehidupan mereka sehari-hari di desa, acara yang banyak diselingi ice breaking, berjumpa dengan banyak perempuan dari lain daerah, mengobrol santai sambil makan tentang kehidupan mereka di desa, merupakan pengalaman mengesankan untuk mereka.

“Saya pernah ikut pelatihan desa seperti ini, tapi hanya sebatas teori. Pelatihan ini langsung kita diajak praktik, jadi lebih mudah dipahami. Setelah dua hari ini, saya baru benar-benar memahami, ternyata proses penyusunan RPJMDs itu cukup rumit. Selama ini orang hanya bisa menyalahkan pihak aparat desa tanpa tahu dan terlibat dalam proses. Setelah ini, saya akan mengajak warga untuk makin aktif terlibat dan ikut bertanggungjawab terhadap program yang disusun di gampong.” Kata Ibu Fatimah, penggerak desa dari Seumirah, Aceh Utara.

Ice breaking dalam pelatihan

Pada hari ketiga, selama dua jam peserta menyusun RTL yang harus dilakukan di desa masing-masing. Acara dilanjutkan dengan kunjungan ke Desa Ekowisata Nyambu,  Kecamatan, Kediri, kabupaten Tabanan. Rombongan disambut oleh para pengurus desa dan pengelola Nyambu Ekowisata. Setelah disuguhi secangkir teh sereh – minuman khas Nyambu, acara bincang-bincang dimulai dengan dipandu oleh Ni Made Puriati dari Yayasan Wisnu, salah satu lembaga swadaya masyarakat di Bali yang selama ini berhasil mengembangkan jaringan ekowisata desa (JED).

Kepala Desa menjelaskan latar belakang desa Nyambu yang kini telah menjadi sebuah program terpadu yang mampu meningkatkan kapasitas masyarakat dalam mengelola usaha pariwisata sekaligus meningkatkan pendapatan melalui pengenalan potensi desa berupa kekayaan alam, dan budaya yang dikelola masyarakat desa. Sekretaris desa, Ni Sarini menjelaskan peran perempuan, yakni sejak dalam proses penyiapan desa ekowisata hingga menjadi guide untuk tour ke desa, menyiapkan susur sawah dan susur budaya, dan membuat makanan tradisional yang menjadi paket kunjungan. “Para perempuan juga aktif di PKK, berperan dalam Badan Usaha Milik Desa (Bumdes), juga mengelola sampah plastik menjadi produk yang mendatangkan hasil ekonomis.” terang Ni Sarini. Para  peserta antusias bertanya, khususnya tentang bagaimana upaya untuk memulai inisiatif dan peran para ibu sebagai penggeraknya. Acara ditutup dengan pembuatan kue tradisional dan jalan keliling desa.

Foto bersama para peserta pelatihan

 

(LHS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *