Program Pemaknaan

Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) melihat pemberian hibah sebagai sarana untuk memperkuat gerakan sosial dalam mencapai tujuan mereka keadilan sosial, hak asasi manusia dan keberlanjutan ekologi. Hibah yang diberikan berskala kecil (mikro) dan ditujukan untuk mendukung inisiatif berbasis masyarakat oleh organisasi masyarakat sipil setempat.

Dalam beberapa tahun terakhir, beberapa pertanyaan penting yang menjadi perhatian kami: Bagaimana kami dapat memahami dan memastikan bahwa dukungan kami benar-benar berkontribusi pada kemajuan yang berarti dalam pencapaian tujuan gerakan? Karena tujuan gerakan bersifat jangka panjang dan transformatif, bagaimana IKa dapat secara bertanggung jawab mengukur, memahami, dan mengomunikasikan kontribusi hibah. Faktanya bahwa dana hibah tersebut sangat kecil dan hanya mencakup jangka waktu maksimal satu tahun.

IKa menyadari bahwa model pemantauan dan evaluasi konvensional yang biasanya dibiayai oleh lembaga donor besar tentu tidak dapat diterapkan pada implementasi dana yang disalurkan, karena berbiayatinggi dan ketergantungan pada tenaga ahli yang mahal. Kami ingin menemukan model berbeda yang tidak hanya terjangkau tetapi juga mencerminkan perspektif kami dan dibangun di atas kekuatan kami, terutama jaringan kepercayaan kami yang telah lama terjalin di antara para aktivis dan pembuat perubahan yang berkomitmen di seluruh negeri.

Untuk tujuan ini, dan diinformasikan oleh hasil konsultasi dengan para pemimpin pemikiran dalam gerakan sosial serta para ahli dalam evaluasi program, kami telah mengembangkan pendekatan yang memungkinkan untuk menghasilkan makna (bukan penilaian) untuk sebuah inisiatif (hibah) dalam kaitannya dengan spesifik konteks dan terkait dengan misi transformasi sosial yang lebih luas.

Pendekatan ini dinamakan ‘pemaknaan’. Pendekatan ini telah dicoba dalam konteks hibah untuk inisiatif rekonstruksi pascabencana berbasis masyarakat di Sulawesi Tengah pada tahun 2019 di mana seorang sejarawan muda, aktivis literasi , seorang jurnalis independen dan seniman yang terlibat secara sosial dari daerah tersebut membantu kami dalam proses partisipatif ‘menghasilkan makna’ dengan mitra lokal yang mana adalah penerima manfaat dana hibah IKa. Keempat individu ini berperan sebagai pemakna yang dapat diartikan sebagai seseorang yang memberi makna.

Kami telah merencanakan untuk mengembangkan lebih lanjut pendekatan Pemaknaan sehingga dapat diterapkan pada keempat bidang utama pemberian hibah kami, yaitu Women’s Fund, Human Rights Fund, Green Fund, dan Cultural Fund. Namun ketika Covid-19 terjadi, jelas kita perlu melakukan adaptasi terhadap model kita agar bisa dilakukan secara offline maupun online, dengan memanfaatkan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. Indonesia berada di posisi yang tepat untuk adaptasi ini karena telah diidentifikasi sebagai negara kelima yang paling aktif secara digital di dunia pada tahun 2020.

Tujuan dari aplikasi hibah ini adalah untuk memberikan IKa sarana untuk mengembangkan lebih lanjut model pengukuran ‘pemaknaan’ sehingga dapat disesuaikan untuk digunakan dalam ruang gabungan online-offline untuk dana hibah IKa dengan karakter yang berbeda dan konteks aktivisme Indonesia yang beragam, berdasarkan etika yang dirawat bersama.

Tujuan

  1. Untuk lebih mengembangkan pendekatan pemaknaan sebagai model IKa dalam mengukur kontribusi pemberian hibahnya untuk tujuan perubahan sosial
  2. Menghasilkan alat-alat praktis untuk penerapan pendekatan pemaknaan di lapangan
  3. Membangun kumpulan orang-orang yang berkualitas (pemakna) yang mampu menerapkan pendekatan pemaknaan dalam konteks yang beragam

Kegiatan

  1. Produksi model pemaknaan adaptasi IKA: Maret-Mei 2021
  2. Workshop dengan pool pemaknaan model pemaknaan IKA: Juni 2021
  3. Aplikasi dengan empat penerima hibah di setidaknya tiga area pendanaan IKA: Juli-September 2021
  4. Lokakarya pembelajaran dan evaluasi dengan pemangku kepentingan utama: Oktober 2021
  5. Finalisasi modul berdasarkan pelajaran yang didapat: November 2021

Selalu dapatkan kabar terbaru dari kami!