#SayHerName : Workshop Cipta Karya Dalam Rangka Memperingati HAKTP dan Hari Internasional Perempuan Pembela HAM

Ketoprak Srawung Bersama, Merawat Ingatan, Merayakan Inklusi
November 14, 2017
FightBack Run 2017 #GerakBersama #AgainstSexualViolence
December 6, 2017

#SayHerName : Workshop Cipta Karya Dalam Rangka Memperingati HAKTP dan Hari Internasional Perempuan Pembela HAM

Perayaan ini berdasar pada sebuah keyakinan bahwa upaya pemerintah maupun organisasi akar rumput dalam mengadvokasi isu kekerasan terhadap perempuan sudah banyak. Sayangnya, masih jarang yang menempatkan perempuan sebagai penyintas alih-alih korban dalam strategi advokasi. Istilah penyintas sengaja kami gunakan untuk menghindari narasi yang menempatkan perempuan sebagai pihak tak berdaya. Padahal, ada banyak cerita yang menunjukkan upaya perempuan untuk bertahan dan berjuang memperoleh kembali hak-nya sebagai manusia. Cerita-cerita inilah yang diulik dalam Workshop Cipta Karya #SayHerName.

Workshop yang diselenggarakan atas kerjasama KIPPER, FOPERHAM (salah satu mitra CSO IKa dalam Program Peduli), Institute of International Studies dan Nada Bicara ini berlangsung pada tanggal 1-2 Desember 2017. Dengan sengaja mengundang perempuan dari dua generasi yang terpaut jauh tapi sama-sama hidup di tengah sistem patriarkis. Mereka yang diundang pernah mengalami kekerasan yang sifatnya sistematis dan dilegitimasi oleh negara. Beberapa harus hidup bertahun-tahun dalam trauma dan stigma negatif yang tidak kunjung hilang. Sebagian lainnya mungkin masih terjebak dalam relasi kuasa yang timpang baik di keluarga ataupun lingkungan kampus. Namun, keduanya disatukan oleh keinginan untuk bersama-sama melawan kekerasan terhadap perempuan. Peserta berasal dari ibu-ibu anggota KIPPER yang merupakan penyintas pelanggaran HAM berat masa lalu, dan anak muda dari berbagai universitas di Yogyakarta (UGM, Atma Jaya, UIN, dan ISI) yang berjumlah sekitar 40 orang.

Para peserta kegiatan SayHerName

Workshop Cipta Karya #SayHerName adalah upaya perempuan penyintas dan anak muda lainnya untuk merekognisi cerita para penyintas –bukan hanya soal kekerasan yang dialami tapi juga usaha bertahan hidup yang sudah dilalui. Tidak sekadar berbagi cerita, workshop ini juga menyediakan ruang bagi penyintas dan tiap orang di dalamnya untuk membuat karya bersama.

Di dalam workshop ini tercipta sekitar 12 lagu yang diciptakan oleh para peserta dari 2 generasi. Dan 12 karya ini dipesembahkan untuk mereka yang pernah, masih dan sedang berhadapan dengan resiko kekerasan. Proses 2 hari ini semakin mempererat dan memperdalam pemahaman tentang kekerasan terhadap perempuan yang masih terjadi sampai saat ini, dan juga bagaimana mereka (perempuan) bertahan serta menghadapinya.

Harapannya, karya ini dapat disebarluaskan pada publik sebagai media advokasi dan pendidikan HAM. Karya ini sekaligus menjadi penanda bahwa perempuan penyintas kekerasan tidak menyerah sebagai korban, tapi justru menjadi subjek dalam pembelaan hak-hak perempuan.

 

(AM)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *