Seni Sebagai Sarana Inklusi Korban Talangsari dengan Masyarakat Sekitar

Gren Tana : Upaya Rekonsiliasi Kultural di Kabupaten Sikka
October 6, 2017
Belajar dari Tanoker
October 6, 2017

Seni Sebagai Sarana Inklusi Korban Talangsari dengan Masyarakat Sekitar

Penyampaian hasil audiensi kepada kelompok seni

Perwakilan IKa tiba di Dusun Subing Putra III (Talangsari), Desa Rajabasa Lama Kecamatan Way Jepara, Kabupaten Lampung Timur pada Senin, 18 September 2017. Warga Dusun Talangsari telah berkumpul untuk mengikuti forum warga yang diinisiasi oleh Paguyuban Keluarga dan Korban Talangsari (PK2TL) melalui Program Peduli. Sebelum forum ini diselenggarakan, terlebih dahulu sudah ada audiensi antara PK2TL dan perwakilan kelompok seni kuda kepang Talangsari dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lampung Timur pada tanggal 7 September 2017.

Akibat peristiwa Talangsari pada 7 Februari 1989 di mana tentara membakar pondok – pondok yang berisi ratusan jama’ah dan anak – anak, hampir 130 orang terbunuh diikuti dengan penculikan, penghilangan paksa, penangkapan sewenang – wenang dan pengusiran. Forum ini dihadiri mereka, korban peristiwa Talangsari, tentunya dengan situasi berbeda.

Hadir 29 orang yaitu kelompok seni kuda kepang/kuda lumping Dusun Talangsari, Indonesia untuk Kemanusiaan  (IKa), Ikatan Keluarga Orang Hilang Indonesia (IKOHI) Jakarta dalam forum warga dengan tema “Seni Sebagai Sarana Inklusi Korban dengan Masyarakat Sekitar. Tujuannya adalah untuk membentuk struktur kepengurusan kelompok seni yang merupakan syarat untuk mendaftarkan kelompok seni tersebut ke  Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lampung.

Pak Suroso, Kepala Dusun Talangsari menuturkan kelompok seni kuda kepang ini telah ada sejak tahun 2008, namun sekarang masih sulit berkembang secara maksimal, bahkan setiap kali pentas masih harus meminjam kostum dan beberapa perlengkapan. Menurut hasil audiensi yang disampaikan oleh fasilitator, setelah terdaftar di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lampung, kelompok tersebut dapat mengakses bantuan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lampung dengan terlebih dahulu dinilai keaktifannya di berbagai pentas dalam kurun waktu setahun.

Diskusi pun kemudian berlangsung, korban dan warga ikut menyampaikan usulan nama kelompok. Tunggul Sari Budoyo dipilih sebagai nama kelompok. Forum menyepakati adanya kata “sari” dari nama Dusun Talangsari yang hendak dipertahankan, mengingat sejak 2014 Dusun Talangsari telah diubah menjadi Dusun Subing Putra III. Pembahasan kemudian dilanjutkan dengan menyusun struktur kepengurusan dan membahas rencana – rencana kepengurusan terpilih untuk mensosialisasikan hasilnya kepada seluruh anggota dan masyarakat sekitar.

Pengisian formulir pendaftaran kelompok seni “Tunggul Sari Budoyo”

Sejak kembalinya korban ke tempat asal mereka yaitu Dusun Talangsari, mereka tidak serta merta diterima oleh masyakarat sekitar. Mereka mendapat stigma dan diskriminasi baik oleh aparat pemerintah dan masyarakat sekitar. Ruang – ruang perjumpaan bagi korban dan warga juga belum terbuka. Namun sejak Program Peduli hadir pada tahun 2015, pelan – pelan rekonsiliasi itu berjalan dan warga mulai menerima keberadaan korban.  Semakin terbukanya ruang perjumpaan, terutama melalui strategi pelestarian seni budaya tradisional dapat memperkuat proses inklusi antara korban pelanggaran HAM dengan warga sekitar Talangsari.

 

(IS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *