Solidaritas untuk Kemandirian Pangan

22 May 2020

Jakarta, 16 Mei – Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa), Terasmitra, dan Indonesia Berseru meluncurkan gerakan Donasi untuk Kemandirian Pangan, sebuah gerakan pengumpulan sekaligus penyaluran donasi pangan untuk mendukung komunitas membangun sistem pangan mandiri.

Latifah Hendarti dari Yayasan Detara dan Panitia Pengarah Nasional GEF SG sebagai keynote speaker menjelaskan bahwa gerakan ini dilakukan untuk membangun koIaborasi untuk membantu dan menjawab tantangan pemenuhan kebutuhan pangan lokal yang beraneka ragam dan sehat yang kian sulit diakses hari ini, serta merespon kemungkinan krisis pangan di Indonesia.

“Gerakan ini fokus untuk menyemai sistem pangan komunitas yang lebih kuat, memperkuat pengakuan kepada petani atau pembenih di desa, termasuk inisiatif komunitas untuk menyediakan pangan secara mandiri dan memfasilitasi komunitas pendamping teknis.” Sebut Latifah.

Selain itu, peluncuran gerakan ini juga dilanjutkan dengan diskusi bertema “Solidaritas Untuk Kemandirian Pangan” dengan pembicara: Ukke Kosasih (Indonesia Untuk Kemanusiaan, penggiat kemandirian pangan), Tejo Wahyu Jatmiko (Indonesia Berseru, penggiat kedaulatan pangan) dan Slamet (Perwakilan Mitra Terasmitra - Komunitas Pertanian Organik Brenjonk) dengan moderator: Annisa Hertami (Aktris Film “Empu” - nominee Piala Citra).

Tejo Wahyu Jatmiko, menjelaskan bahwa membahas permasalahan krisis pangan yang yang diakibatkan pandemi Covid-19 adalah hal yang urgent, namun tidak banyak pihak yang menyadarinya.

“Pemerintah Indonesia telat dalam merespon ancaman krisis pangan yang selama pandemi. Pemerintah baru memberi perhatian dan bergerak seteleh WHO mengeluarkan seruan bahwa ancaman pandemi juga akan berefek pada krisis pangan.” Ucap Tejo.

Respon itu sangat telat jika dibanding negara lain, mengingat adanya keterhubungan dan ketergantungan antar negara dalam setiap makanan yang dikonsumsi masyarakat. Keterhubungan ini dapat dilihat dari konsumsi masyarakat yang sangat dipengaruhi rantai pangan global, sehingga sangat terbiasa makan buah-buahan, roti, dan daging yang sumbernya berasal dari negara lain.

“Sehingga penting untuk kita di Indonesia membangun sistem pangan komunitas, Sistem pangan dari, oleh, dan untuk masyarakat lokal. Semua berfokus pada keterlibatan masyarakat lokal dengan tidak merusak alam dan merekatkan hubungan sosial masyarakat.” Tutup Tejo.

Hal ini dipertegas oleh Slamet dari Komunitas Pertanian Organik Brenjonk. Ia menjelaskan bahwa membangun sistem pangan komunitas adalah kunci untuk mendorong kemandirian komunitas desa dalam mengelola usaha-usaha berkelanjutan dengan prinsip-prinsip kewirausahaan sosial.

“Membangun sistem pangan komunitas bukanlah hal yang sulit jika kesadaran masyarakat untuk menanam bahan pangan sudah terbentuk. Di lingkungan pedesaan, kita memiliki banyak lahan yang bisa digunakan untuk menaman, namun kita semua bisa mulai menanam dari pekarangan rumah.” Ucap Slamet

Selain mendorong masyarakat untuk menanam, Slamet juga menekankan pentingnya menjaga kelestarian lahan dan bahan pangan dengan tidak menggunakan bahan kimia yang berpotensi merusak kualitas tanah dan bahan pangannya. Jadi sistem pangan komunitas bisa berjalan secara berkelanjutan dengan tetap melestarikan alam.

“Saya bersama keluarga pindah ke daerah Cisarua dari Bintaro untuk menjadi juru kampanye ketahanan pangan yang dimulai dari tingkat keluarga.” Ucap Ukke Kosasih. Ketika pertama kali pindah, lahan yang ditempati Ukke hanya memiliki dua jenis sayuran, setelah empat tahun, tanaman yang dimiliki lebih dari ribuan jenis dan menjadi tempat belajar orang-orang dari kota, terutama Jakarta.

Diskusi ini ditutup dengan kesimpulan dari Annisa Hertami selaku moderator yang menjelaskan bahwa persoalan pangan berkaitan dengan keberpihakan masyarakat dan keberpihakan pemerintah. Gerakan ini diharapkan bisa lebih luas dan banyak dilakukan oleh setiap kelompok masyarakat.

“Di masa pandemi ini yang sangat dibutuhkan masyarakat adalah harapan, dan gerakan kemandirian pangan ini adalah harapan baru untuk menghindari kita dari krisis pangan.” Tutup Aninisa.