Mendapat Stigma, Supiah Tetap Bergerak Bersama Perempuan Talangsari

Ibu Supiah (54) adalah seorang ibu rumah tangga di Dusun Talangsari III, Kabupaten Lampung Timur. Ia memiliki mimpi yang sederhana, yaitu agar agar dusunnya tidak lagi mati seperti dulu.

Sejak terjadi peristiwa kekerasan di Talangsari pada 7 Februari 1989, yakni insiden penyerbuan terhadap pondok pesantren kelompok Warsidi oleh aparat keamanan di Dusun Talangsari III, Desa Rajabasa Lama, Kecamatan Way Jepara, Kabutapen Lampung Timur. Puluhan korban tewas, dianiaya dan ditangkap. Mereka pun terusir dari dusunnya. Inilah yang membuatnya sangat pedih, dusunnya ketika itu seperti mati rasanya.

Baru di tahun 2000 atau kurang lebih 11 tahun kemudian, satu per satu mereka kembali lagi ke dusun Talangsari. Peristiwa itu berdampak panjang hingga hampir tiga dekade kemudian.
Warga Talangsari ketika itu mendapatkan stigma ‘orang-orang lokasi’ dan dianggap sebagai bagian dari Gerakan Pengacau Keamanan (GPK). Ini berujung pada eksklusi sosial. Mereka selain dikucilkan oleh tetangga desa, mereka juga tersingkir dari akses pembangunan. Jalanan masuk ke dusun mereka tidak diaspal, sehingga kerap becek ketika musim hujan tiba. Listrik pun belum menyala. Padahal, desa-desa sebelahnya telah dialiri listrik. Dusun menjadi terisolir dan mati.

Warga Talangsari juga kerap diperlakukan tidak adil dalam pemberian akses layanan sosial. Ibu Supiah sendiri pernah mengalami perlakuan buruk itu ketika ia mau memeriksa kesehatan anaknya.

"Tahun 2005 saya punya anak, laki-laki masih kecil. Ketika itu ada imunisasi polio. Lantas ada teman yang cerita, kenapa semuanya diminta ke sana kok saya enggak? Katanya orang lokasi tidak boleh diajak. Sudah seperti anak tiri saja saya ini," kenang Supiah.

Di tahun 2015, Ibu Supiah bersama warga lainnya, bersama Organisasi Paguyuban Keluarga dan Korban Talangsari (PK2TL) dan Pundi Insani Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) dalam Program Peduli kemudian mulai membangun komunikasi dan pertemuan dengan berbagai pihak untuk menyelesaikan persoalan-persoalan disana. Berbagai aktivitas penguatan warga di dusun Talangsari pun dibentuk seperti unit koperasi dan kelompok tani. Relasi dengan pemerintah Kabupaten Lampung Timur pun mulai dibangun untuk membantu menyelesaikan persoalan ini.
**
Membangun Forum Perempuan, Mengajak Para Perempuan Berdaya **

Ibu Supiah kemudian mulai tergerak mengumpulkan para perempuan di dusunnya. Mereka yang semula tak pernah dilibatkan dalam kegiatan desa pun kemudian membuat forum perempuan dengan melakukan berbagai kegiatan seperti pelatihan kesehatan reproduksi, serta pelatihan untuk peningkatan ekonomi, seperti pembuatan keripik singkong dan pembuatan abon lele. Forum perempuan ini juga menjadi ruang untuk saling berbagi, membangun kepercayaan dan meningkatkan kapasitas.

Untuk memberdayakan ibu-ibu, Supiah juga rajin mengajak kelompoknya untuk berpartisipasi dalam kegiatan bazar, memasak apa yang ada di desa dan yang bisa diolah.
"Potensi yang ada di desa kami seperti singkong, pisang, talas. Ya itu yang kita masak dan olah. Tidak perlu cari ke dusun lain. Hasilnya dijual di kegiatan bazar. Saya ajak ibu-ibu untuk masak buat keripik singkong, talas, dan berbagai penganan lain," ungkapnya

Tidak mudah bagi Ibu Supiah untuk menggerakkan para ibu-ibu di Talangsari. Semula, perempuan tidak pernah dilibatkan dalam rapat-rapat organisasi korban PK2TL serta kegiatan di desa. Mereka juga tidak banyak bergaul dengan warga dusun lainnya, ditambah dengan stigma yang terus melekat.

Supiah juga memiliki mimpi yang lebih besar yang sedang ia upayakan. Membangun koperasi adalah cita-citanya agar ibu-ibu dapat menabung dari keuntungan hasil penjualan olahan dan mengakses bantuan pinjaman.

Hal lainnya, senam kesehatan juga dilihat Supiah sebagai salah satu kegiatan yang dapat membangun keakraban masyarakat sekaligus perlahan menyembuhkan luka para penyintas.
Supiah kemudian mengajak "orang lokasi" untuk datang di kegiatan pengajian hingga Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) agar terdapat ruang interaksi dan bersosialisasi dengan masyarakat. Melalui ruang dan forum-forum inilah, stigma dan diskriminasi yang melekat perlahan luntur. Relasi sosial kembali terjalin.

**Talangsari Kini **

Kini, perubahan di dusun Talangsari sudah tampak nyata. Para perempuan telah memiliki ruang untuk saling berbagi, menguatkan dan meningkatkan kapasitas. Para perempuan yang awalnya sama sekali tak pernah bicara di depan forum, kini mulai berani menyuarakan aspirasi. Mereka juga terlibat dalam Musrembang dan bisa memberikan usulan. Para perempuan ini kini menjadi motor penggerak kegiatan desa. Relasi antar warga pun mulai cair. Stigma sebagai orang lokasi pun pelan-pelan memudar.

"Sekarang sudah ada acara sendiri. Anak-anak bisa ramai, bahagia, tertawa, ikut lomba-lomba. Ibu-ibunya juga ikut bergabung. Tarik tambang, tanding masak antar RT, macam-macam," cerita Supiah.

Secara ekonomi, keripik singkong dan abon lele kini telah dipasarkan dan bisa dibeli oleh masyarakat. Pada sebuah festival di Lampung Oktober 2018 lalu, warga dusun Talangsari bersama Paguyuban dan Keluarga Korban Talangsari (PK2TL) bersama-sama menyelenggarakan acara festival desa Inklusi dan bazar industri rumahan. Festival ini diadakan di Desa Rajabasa Lama, di lapangan desa dusun Sinar Dewa Timur Kecamatan Labuhan Ratu, Lampung Timur.

Festival ini merupakan kerjasama dengan Program Peduli dimana PK2TL dan IKa (Indonesia untuk Kemanusiaan) terlibat di dalamnya. Acara festival dilakukan untuk pengembangan ekonomi pangan warga. Dalam acara digelar bazar industri rumahan dimana aneka makanan dan hasil karya tangan semuanya dibuat dan diproduksi oleh ibu ibu dari Desa Rajabasa Lama. Disana para ini berjualan abon yang diproduksi para ibu warga dusun Talangsari, cilok, abon dan tiwul.