Pujiati, Yang Tegak di Garis Depan

09 Sep 2020

PUJIATI lahir di Purworejo pada 19 Juli 1926. Lulus Sekolah Kepandaian Putri (SKP), ia bekerja di LP Grobogan, Purwodadi. Pasca Agresi Militer I tahun 1947, seorang perwakilan dari Laskar Wanita Indonesia (LASWI) datang menjemput pegawai perempuan di kantor-kantor untuk diajak bergabung dalam perjuangan di front depan. Puji melepaskan jabatan di kantor. Ia ikut keluar masuk hutan di garis pertahanan Mranggen, Purwodadi, membantu di bagian dapur dan palang merah.

Dua tahun berada di medan pertempuran, Puji bertemu dengan Juari, seorang pejuang di garis depan. Ia yang membebat dengan perban kaki Juari yang koyak tertembus peluru. Hati mereka bertaut. Begitu peperangan usai, mereka pindah ke Jakarta dan membangun rumah tangga.

Puji bekerja di bagian katering di PT Unilever, sebuah perusahaan multinasional milik Belanda, yang berdiri sejak 1933. Juari bekerja sebagai teknisi. Keduanya aktif di Serikat Buruh Unilever (Serbuni), organisasi yang bernaung di bawah SOBSI (Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia). Putri tunggal mereka, Atik, lahir tak lama kemudian.

Ditempa dalam perjuangan di medan perang melawan kolonialisme, Puji tak bisa diam menyaksikan nasib buruk para buruh perempuan. Ia memimpin pemogokan menuntut cuti haid dan hamil tanpa potong gaji serta menuntut dibuatkan tempat penitipan bayi. Tuntutan berhasil, kendati Puji diganjar hukuman penjara selama tiga bulan.

Tak jera, ia terlibat lagi dalam beberapa kali pemogokan dan pendudukan pabrik. Berdiri tegak di mimbar, berkeliling ceramah ke serikat-serikat buruh, namanya pun kian berkibar.

Tahun 1963, ia dikirim untuk menghadiri Kongres Buruh Wanita Sedunia di Bukarest, Rumania, mewakili Serbuni. Pemimpin delegasinya adalah Sri Ambar Rukmiati, ketua seksi wanita SOBSI. Ia juga dikirim ke Tiongkok untuk belajar membangun serikat buruh yang maju.

Karir organisasi Puji semakin mencorong. Juari, sepenuh hati mendukung istrinya, termasuk, ketika Puji terpilih menjadi Ketua Rukun Warga (RW) di Sunter, Jakarta Utara, tempat tinggalnya.

“Saat itu, hanya dua RW di DKI Jakarta yang ketuanya dijabat oleh perempuan. Kalau saya masuk kerja sore hari, paginya urusan RW. Kalau masuk pagi, sorenya urusan Serbuni.” Terang Puji.

Bahu membahu bersama suaminya, ia merintis berdirinya Taman Kanak-kanak dan kursus baca tulis. Ia juga gigih memperjuangkan fasilitas umum warga, membuat fasilitas pemakaman umum dan membuka lahan pertanian. Pengalaman di medan revolusi menempa Puji menjadi pemimpin tangguh di serikat buruh maupun di wilayah tinggalnya.

Hari-hari sibuk itu sontak berubah pada 10 Oktober 1965. Malam hari, enam orang tentara datang menjemputnya. Ia dibawa ke kantor CPM, diinterogasi selama dua malam, sebelum akhirnya dipindahkan ke Penjara Wanita Bukit Duri. Melewati masa-masa interogasi penuh teror fisik dan mental, ia mengingat pengalamannya dalam perang gerilya.

“Disiksa itu risiko perjuangan. Ada sebab, akibat dan jalan keluar…” ujarnya. Selama enam tahun ditahan di Bukit Duri, Atik, saat itu berusia lima tahun, dibawa serta. Ketika ia dipindah ke Plantungan, Atik dititipkan pada saudaranya di Semarang. Juari, bolak-balik menjenguk dari Jakarta.

Tujuh tahun di Plantungan, Puji tak pernah betah berpangku tangan. Menjahit, menyulam, mengurus bagian dapur, semua dikerjakan dengan riang dan cekatan.

21 April 1979, tepat ketika peringatan 100 tahun lahirnya RA Kartini, Puji dibebaskan. 14 tahun di tahanan, ia gamang menyaksikan gedung-gedung megah dan jalanan yang mulai padat. Ia tertegun menyaksikan anaknya telah tumbuh menjadi gadis remaja. Satu hal yang tak berubah: suaminya tetap setia menunggunya.

“Dulu saya beberapa kali bilang ke Bapak, kalau Bapak mau menikah lagi, silakan. Belum tentu saya bisa pulang.” terang Puji. Dan berkali pula Juari menggeleng, sambil berkata: “Kalau aku sudah mati, baru kita berpisah!” Dan Juari membuktikan ucapannya, dua tahun lalu, ia wafat dan dikubur di Pemakaman Pondok Kelapa, Jakarta Timur.

Ikut keluar masuk hutan di masa kemerdekaan, menjadi aktivis buruh dan dikirim ke forum internasional, dipenjara selama 14 tahun tanpa pengadilan, di negeri yang pernah ia bela dan perjuangkan mati-matian. Setelah bebas, ia berkeliling kampung berjualan gado-gado. Puji menganggapnya biasa saja.

“Ya nggak apa-apa. Semua perjuangan ada risikonya. Ada yang besar, ada yang kecil. Jangan takut risiko!” tegas Puji.

Setelah Juari wafat, Puji tinggal bersama kawan-kawannya di Panti Waluya Sejati, Kramat, Jakarta Pusat.
Awal 2015, ia jatuh terpeleset di kamar mandi. Tulang ekornya retak. Ia tak bisa lagi berjalan, pun duduk berlama-lama menjahit, seperti hobinya selama ini. Tapi Puji enggan menyerah. Setiap hari ia melatih diri untuk bisa berdiri, dan menapakkan kakinya perlahan-lahan.

“Usiaku 91 tahun, tapi ingatanku masih tajam. Dan ini lihat, aku bisa jalan lagi. Tanpa tongkat!” serunya riang, sambil berjalan tertatih. Tongkat jalannya tergeletak di sudut ruangan. Puji enggan menjamahnya lagi.