Ekonomi Solidaritas dan Keberlanjutan Gerakan Transformasi Sosial

07 Oct 2020

Ekonomi solidaritas! apa yang ada dibenakmu ketika kamu mendengar kata ekonomi? Yang pastinya kebutuhan pangan untuk keberlanjutan hidup yang tidak jauh dari pemikiran individu masing-masing.

Bagi IKa ekonomi solidaritas ini adalah dasar pikir dan juga prinsip untuk setiap program yang dijalani oleh IKa. Ekonomi solidaritas sendiri merupakan sistem dan praktik ekonomi alternatif yang menyandang aspirasi untuk mengatasi berbagai bentuk ketimpangan sosial-ekonomi dan merealisasikan kemaslahatan bagi semua. Kamala Chandakirana, Ketua Pengurus IKa, mengatakan bahwa sistem ekonomi solidaritas merupakan sistem ekonomi yang dirasa dekat dengan nilai-nilai IKa.

Oleh karena itu, IKa menyelenggarakan rangkaian kegiatan diskusi mengenai Ekonomi Solidaritas yang pertemuan pertamanya dilaksanakan pada Selasa, 06 Oktober 2020. Diskusi mengenai Ekonomi Solidaritas ini, jelas Kamala Chandrakirana, merupakan suatu proses menciptakan kerangka yang berkelanjutan dan sistemik untuk memastikan sumber daya memadai bagi upaya-upaya perjuangan keadilan, kehidupan lebih adil dan bermartabat, serta alam yang berkelanjutan.

Pada diskusi ini Aditya Perdana, Direktur PUSKAPOL UI dan Peneliti Tamu IKa, menyampaikan bahwa gerakan ekonomi sesungguhnya muncul di berbagai tempat di dunia. Tahun 1991 menjadi awal kemunculan jaringan ekonomi solidaritas dan alternatif. Namun, baru pada tahun 1997 jejaring global terbentuk dengan upaya menjadi kekuatan baru.

Penekanan pembangunan sosial dan ekonomi tidak lagi mendahulukan negara dan aktor ekonomi, tetapi mendahulukan manusia. Pada pemaparannya, Aditya Perdana juga menyampaikan bahwa ekonomi solidaritas harus hadir dalam seluruh aspek kegiatan ekonomi dimulai dari produksi, distribusi, konsumsi hingga tata kelola pemerintahannya. Ia juga menyebutkan bahwa esensi dari visi ekonomi solidaritas adalah soal transformatik, bagaimana melakukan perubahan yang terjadi secara perlahan tetapi juga sistematis. Sebagai upaya mencapai visi tersebut, maka nilai-nilai diperlukan yaitu kemanusiaan, demokratik, solidaritas, inklusi, kesetaraan dan keadilan, dan kreativitas.

Benito Lopulalan, Asian Liaison ASEC, yang juga menjadi pembicara pada diskusi ini juga memaparkan bahwa ekonomi solidaritas merupakan ekonomi yang menghadirkan manusia. Asumsi yang dimiliki ekonomi solidaritas adalah bahwa sumber daya tidak terbatas dan banyak bentuknya. Bagi ekonomi solidaritas, modal tidak hanya berbentuk uang. Terdapat modal manusia, alam, kultur, budaya, dan segala jenisnya. Namun, yang mampu menggerakkan semua adalah modal sosial—kemampuan untuk membangun jejaring saling percaya atau trust network. Strateginya adalah sharing economy, reciprocity, redistribusi, dan lain sebagainya. Penggerak utamanya adalah kehendak untuk menciptakan dampak.

Jadi pada dasarnya diskusi ekonomi solidaritas ini merupakan wadah dalam berbagi pengetahuan dan pengalaman. Sugiarto, pelaksana tugas Direktur Eksekutif IKa, menambahkan bahwa tema diskusi ini diangkat sebagai perwujudan visioning Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) yaitu mendorong kehidupan manusia lebih bermartabat dalam kerangka hak asasi dan kelestarian alam sehingga IKa dapat menemukan gambaran komprehensif mengenai konsep dan praktik ekonomi solidaritas untuk memperkuat organisasi masyarakat sipil. Diskursus mengenai ekonomi solidaritas juga dilatarbelakangi oleh situasi sosial ekonomi pada masa Pandemi Covid-19 di mana ekonomi solidaritas dapat menjadi ekonomi alternatif bagi tumbuh kembangnya gerakan transformasi sosial untuk selalu berlanjut.