Membangun Daya di Tengah Pandemi, Aliansi Perempuan Lamongan (APeL) Gelar Kegiatan dan Pendampingan Bagi Korban Kekerasan

26 Oct 2020

Aliansi Perempuan Lamongan (APeL) menyelenggarakan kegiatan peningkatan ekonomi produktif bagi perempuan korban kekerasan pada 17 September 2020 dengan menerapkan protokol kesehatan. Kegiatan ini diselenggarakan oleh APeL sebagai upaya untuk meningkatkan keterampilan dan kemampuan ekonomi bagi perempuan korban kekerasan di masa Pandemi Covid 19. Kegiatan ekonomi produktif yang diselenggerakan APeL ini diikuti 24 orang peserta. Pada kegiatan tersebut, peserta mengikuti beberapa pelatihan.

Anis Su’adah selaku perwakilan dari APeL memaparkan, “Pelatihan ekonomi produktif untuk korban terdiri dari beberapa pelatihan yaitu pelatihan pembuatan jamu tradisional untuk peningkatan imun, kemudian membuat masker, membuat olahan alami yang bisa diakses oleh korban di wilayah atau di desanya.”

Kegiatan pelatihan ekonomi produktif dilakukan dengan dukungan dana Pundi Perempuan yang merupakan kerja sama antara Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan dan Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa). Sebagai tindak lanjut dari kegiatan ini, APeL berencana untuk menawarkan dan menjualkan hasil produksi dari kegiatan tersebut melalui media sosial dan kepada lembaga-lembaga yang membutuhkan masker.

Upaya membangun daya di tengah pandemi tidak hanya dilakukan oleh APeL melalui kegiatan peningkatan ekonomi produktif. Sebagai lembaga pengada layanan, APeL juga tetap melakukan pendampingan terhadap korban kekerasan di tengah pandemi sebagai upaya mencapai keadilan. Menurut Anis Su’adah, kekerasan berbasis gender di wilayah kerja APeL masih mengalami peningkatan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Pada periode September hingga awal Oktober, APeL secara intensif melakukan pendampingan terhadap empat kasus kekerasan. Sebagaimana layanan pendampingan pada organisasi masyarakat sipil lain, APeL juga mengalami hambatan tersendiri akibat dari kondisi Pandemi Covid 19.

Pertemuan tatap muka dengan korban dampingan tetap dilakukan oleh APeL, meskipun situasi pandemi masih berlangsung dan Lamongan menjadi salah satu wilayah dengan zona merah. Hal tersebut terjadi karena korban kadang belum merasa nyaman jika pendampingan dilakukan secara virtual atau melalui sambungan telepon. Kondisi pandemi juga memberikan kesulitan tersendiri bagi korban yang ingin menuju Lamongan karena terkendala masalah akses dan transportasi.

Penanganan kasus yang belum sigap dan cepat oleh aparat penegak hukum juga menjadi hambatan tersendiri, khususnya bagi APeL sebagai lembaga pengada layanan. Kondisi pandemi juga menempatkan korban dan pendamping dari APeL pada posisi rentan.

Oleh karena itu, APeL juga memanfaatkan dana hibah Pundi Perempuan untuk mendukung layanan pendampingan terhadap korban kekerasan dan upaya perlindungan terhadap pendamping. Dana Pundi Perempuan, misalnya, dimanfaatkan oleh APeL ketika harus melakukan kunjungan kepada korban lokasinya cukup jauh.

Sementara itu sebagai upaya perlindungan, pemanfaatan dana hibah dilakukan dengan menyediakan alat pelindung diri bagi pendamping dan korban yang didampingi oleh APeL menyediakan masker, hand sanitizer, face shield, dan vitamin. Hal ini menunjukkan upaya dari APeL untuk tetap melakukan pendampingan dan pemberdayaan bagi korban kekerasan, namun dengan juga menerapkan protokol kesehatan.