Menelisik Keterhubungan Wirausaha Sosial dan OMS dalam Ekosistem Ekonomi Solidaritas

27 Oct 2020

Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) kembali mengadakan seri Diskusi Ekonomi Solidaritas yang kedua dengan tajuk “Keterhubungan Wirausaha Sosial dan Organisasi Masyarakat Sipil dalam Tatanan Ekosistem Ekonomi Solidaritas pada Senin, 26 Oktober 2020. Kegiatan yang berlangsung secara daring melalui aplikasi Zoom tersebut kembali dihadiri oleh pendiri, pengurus, staf, serta BRI Institute dengan juga menghadirkan tiga pembicara; Ukke R. Kosasih selaku pendiri Circa Handmade, Romlawati Deputi Direktur Pengorganisasian Komunitas PEKKA, dan Bernadete Deram Koordinator Kawasan 3 PEKKA.

Diskusi ini berfokus kepada pembahasan mengenai keterhubungan wirausaha sosial—apakah terdapat keterhubungannya, seperti apa, dan bagaimana.

Ukke R. Kosasih selaku pendiri Circa memaparkan pengalaman Circa selama 14 tahun dalam melakukan usaha sekaligus melakukan pemberdayaan terhadap perempuan. Pada pemaparannya ia menerangkan bahwa semangat solidaritas Circa telah ada sejak awal. Solidaritas tergambar melalui sistem produksi, bahkan bengkel kerja tempat Circa bekerja pun dibangun dengan asas solidaritas yaitu melalui crowdfunding.

Selain itu terdapat pembicara dari Yayasan PEKKA, Romlawati. Melalui pemaparannya ia menjelaskan bahwa PEKKA menggunakan ekonomi keswadayaan yang berkelanjutan dengan peran untuk menguatkan dan memberdayakan perempuan sebagai kepala keluarga. Tujuan dari ekonomi keswadayaan ini adalah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal, jadi fokusnya ada di masyarakat lokal.

Konteks lokal dari PEKKA juga turut disampaikan oleh pembicara lainnya yaitu Bernadete Deram yang bercerita mengenai Ina-Ina PEKKA di NTT. Berawal dari Ina-Ina PEKKA yang mempunyai mimpi bersama, dibangun kelompok-kelompok Ina-Ina dengan segala potensi dan tantangannya. Saat ini sedang dikembangkan Kebun Kapas Rakyat bersama anak muda dengan komunitasnya.

Pada diskusi ini keterhubungan menjadi fokus dan kata kunci utama yang dibahas lebih lanjut, khususnya menempatkan aktor-aktor dengan misi sosial dalam tatanan ekonomi solidaritas. Pada pemaparannya Ukke R. Kosasih memaparkan bahwa Circa tidak ingin memisahkan antara aktivitas ekonomi dengan peran sosial. Aktivitas Ekonomi dijadikan kendaraan dan hasilnya adalah bahan baku untuk melakukan perubahan.

Ekonomi harus memainkan peran sosialnya karena tanpa kemaslahatan sosial, tidak ada bisnis yang langgeng. Sementara itu Romlawati menjelaskan bahwa aktivitas ekonomi di PEKKA merupakan instrumen untuk menguatkan gerakan perempuan. Peran-peran lembaga sosial atau lembaga nirlaba penting supaya tiga unsur di dalam ekonomi keswadayaan—produsen, pedagang, konsumen—bisa berjalan, sehingga peran-peran pendampingan dan penguatan menjadi sangat penting agar proses ekonomi juga dapat dilakukan sendiri oleh ketiga unsur tersebut. Pada kasus di NTT, gerakan-gerakan serikat didanai oleh koperasi.