Mengenal dan Memanfaatkan Teknologi Social Crowdfunding

11 Nov 2020

Sebagai bentuk kerja sama dengan BRI Institute, Indonesia untuk Kemanusiaan mengadakan kegiatan pelatihan yang dihadiri oleh Pengurus dan Badan Pelaksana, serta komunitas pemberdaya Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa). Hal ini dilakukan dalam rangka peningkatan kapasitas IKa pada posisinya sebagai sebuah organisasi sumber daya masyarakat sipil yang menghimpun, mengelola, membagi, mengembangkan sumber daya sebagai dukungan terhadap gerakan perubahan sosial dalam kerangka hak asasi manusia dan kelestarian sumber daya alam. Pelatihan ini diselenggarakan pada Kamis, 5 November 2020 melalui aplikasi Zoom mengingat kondisi Pandemi Covid-19 yang belum berakhir.

Pelatihan pertama dengan BRI Institute ini memiliki tema “Pengenalan dan Pemanfaatan Teknologi Social Crowdfunding”. Pemanfaatan teknologi crowdfunding menjadi salah satu upaya IKa dalam menghimpun dana dari publik. Pada pelatihan pertama tersebut dipahami bahwa crowdfunding merupakan terobosan metode penggalangan dana karena memudahkan setiap orang dalam berdonasi, namun demikian, lembaga harus mempunyai izin dari kementerian terkait jika akan menyelenggarakan crowdfunding.

Satya Arisena Hendrawan selaku pembicara yang juga merupakan dosen di BRI Institute turut menyebutkan bahwa sebelum suatu lembaga akan menyelenggarakan crowdfunding perlu mengetahui model-model crowdfunding. Pertama* reward crowdfunding* yaitu pemberi dana menerima hadiah oleh penyelenggara sebagai imbalan atas kontribusi yang telah dilakukan. Kedua donasi crowdfunding yaitu pemberi dana tidak menerima imbalan apapun. Ketiga lending crowdfunding yaitu penggalangan dana dalam rupa pinjaman sekelompok orang, bukan dari bank dan harus dikembalikan dalam bentuk angsuran. Sedangkan keempat equity crowdfunding, penggalang dana akan memberi reward berupa kepemilikan perusahaan kepada investor dalam bentuk saham. Berdasarkan keempat model tersebut suatu organisasi dapat dengan jelas menentukan crowdfunding apa yang sesuai dengan kebutuhan organisasinya.

Satya Arisena Hendrawan juga menuturkan bahwa manfaat dan keuntungan dalam crowdfunding yaitu menjangkau lebih banyak donatur, memudahkan donatur dalam berdonasi dan penerimaan donasi bisa dilakukan melalui Virtual Account dan sebagainya. Tapi sebelum itu harus dipastikan campaign di platform crowdfunding sudah memiliki izin resmi karena jika tidak memiliki izin resmi akan merugikan pembuat campaign.

Dalam mengkomunikasikan suatu campaign atau kampanye perlu menjangkau secara luas donatur sehingga sosial media memiliki peran yang sangat penting. Membangun sosial media juga harus menggunakan ilmu tersendiri karena tidak mudah dalam melakukan kampanye.

Pada kesempatan yang sama Soraya Oktaviani selaku staf IKa menanggapi bahwa diperlukannya aplikasi untuk mempermudah dalam melakukan campaign dan perawatan donatur agar donatur yang sudah berdonasi tidak merasa diabaikan sehingga akan menjadi anggota tetap donatur IKa. Suatu hal yang merugikan apabila donatur berpindah atau meninggalkan IKa yang merupakan lembaga penggalang sumber daya.

“Tapi pada kenyataannya sampai saat ini belum ada aplikasi yang menunjang hal tersebut. Masih hanya literasi yang beradopsi sosial crowdfunding seperti kitabisa.com” Satya Arisena.

Tetapi bisa dikatakan IKa tidak ketinggalan dengan teknologi crowdfunding karena IKa sendiri sudah menggunakan platfrom crowdfunding Kitabisa.com, juga ada Global Giving yang berbasis dari luar negeri.

Bagi IKa, kegiatan ini merupakan salah satu upaya mengembangkan kapasitas IKa dalam cara bekerja, melaksanakan program dan layanan, dan cara memaknai IKa sebagai lembaga sumber daya bagi masyarakat sipil. Sebagai lembaga pembelajaran, IKa ingin selalu relevan dengan konteks kekinian, salah satunya dengan mengadaptasi perkembangan teknologi dalam kerja-kerja transformasi sosial.