Pelanggaran Masa Lalu yang Terurai Lewat Teater

Bagaimana mensosialisasikan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang tak juga tuntas?. Sekber 65 Solo mempunyai cara sendiri. Salah satunya dengan menggunakan kesenian.

Pendekatan budaya memang digunakan sebagai salah satu cara untuk mengajak anak-anak muda untuk memahami, mengetahui peristiwa pelanggaran HAM yang pernah terjadi di Indonesia. Program ini dilakukan bersama dengan Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) dan Program Peduli.

“Ada sejumlah persoalan pelanggaran HAM yang belun tuntas, maka kami memilih untuk berkesenian bersama dengan para seniman dan budayawan, membuat pementasan bersama,” ujar Koordinator Organisasi Sekber 65, Winarso.

Maka akhirnya kerjasama dengan seniman dan budayawan ini terjadi. Hal ini terlihat dalam pementasan teater berjudul "Ronggolawe" di Taman Budaya Jawa Tengah di Solo, Jawa Tengah pada Sabtu 30 Maret 2019 lalu. Pementasan ini terbilang unik, dengan persiapan selama 2 bulan mereka kemudian mempersatukan antara seniman modern dan seniman tradisi.

Ronggolawe bercerita tentang sejarah masa lalu Majapahit yang penuh dengan kekerasan, salah satunya adalah ketika Raja Kertanegara ingin mengangkat Patih Nambi. Ronggolawe sebagai panglima di Kerajaan Majapahit kala itu meragukan Nambi. Ia menyatakan yang pantas menjadi patih yaitu Lembu Sora yang lebih banyak jasanya pada Majapahit. Maka setelah itu, bisa ditebak, terjadilah peristwa dimana terjadi perang antara Majapahit melawan Ronggolawe.

Didik Dyah sebagai sutradara pementasan menyatakan bahwa mereka mengambil suasana Majapahit saat itu sebagai suasana perang yang penuh dengan pelanggaran HAM. Tragedi inilah yang kemudian dinarasikan menjadi tragedi yang pernah terjadi di Indonesia di tahun 1965 dan terulang kembali.

Ketoprak ini dimainkan oleh beberapa anak korban dan cucu korban. Yang lebih membuat senang yaitu pementasan teater ini dihadiri oleh 400an orang.

Gedung pementasan taman budaya ini seharusnya padat hingga 300 penonton, para penonton membayar tiket untuk berdonasi sebesar Rp. 15 ribu perorang. Namun karena penonton banyak menunggu di depan gedung, ingin nonton namun tiket sudah terjual habis, maka mereka kemudian boleh masuk. Akhirnya mereka menonton dengan duduk di lantai atau bediri di tangga-tangga ruang pementasan.

“Penonton yang datang hingga 400 orang, padahal kapasitas gedungnya hanya 300 orang, ini yang membuat kami sangat senang,” Kata Winarso.

Yang datang kebanyakan adalah anak-anak muda, bahkan hampir 90% adalah anak-anak muda. Ini yang membuat Winarso optimis bahwa cerita tentang pelanggaran HAM bisa dikampanyekan ke anak-anak muda sekarang. Mereka dengan senang melihat dan menyaksikan teater hingga akhir cerita.

Pementasan dengan menggunakan kesenian ini sebenarnya sudah beberapakali dilakukan oleh Sekber 65. Dulu pernah ada pementasan Ketoprak dengan judul Roro Mendut.

Yang paling penting yaitu mempeluas ruang agar anak-anak muda dan kalangan lainnya bisa masuk dan mempelajari pelanggaran HAM sebagai sejarah yang pernah terjadi di Indonesia, lalu ikut memperjuangkannya.

Dalam waktu dekat ini, sebuah pementasan juga sedang mereka persiapkan dan akan dipentaskan setelah Bulan Juni 2019 nanti. Pementasan ketoprak berbahasa Indonesia rencananya akan digelar di bulan itu.