Kemala Astika, Perempuan Penggerak Komunitas Film

Berangkat dari kegelisahan untuk membangun kota dengan seni dan kiprah anak-anak mudanya, Kemala Astika, perempuan berumur 38 tahun ini kemudian mengumpulkan beberapa anak muda di Kota Cirebon.

Kegelisahan ini bemula sejak ia tinggal kembali di Cirebon. Sudah lama kota ini ditinggalkannya, yaitu sejak ia melanjutkan SMA di Stella Duce dan kuliah di Universitas Sanata Dharma yang ia tempuh di Yogyakarta. Ia juga sempat menjadi guru di Yogya. Setelah itu ia memutuskan kembali ke Cirebon karena ingin menemani ayah dan ibunya.

“Banyak hal yang belum dilakukan ketika saya tinggal kembali disini, terutama untuk seni dan budayanya. Karena saya dulu sekolah di Yogya, saya merasa bahwa seharusnya Cirebon mempunyai ruang-ruang berkesenian seperti yang banyak dilakukan di Yogya,” ujar Kemala Astika.

Setiba di Cirebon, Kemala Astika kemudian melanjutkan pekerjaannya sebagai guru karena dengan menjadi guru, ia kembali bertemu anak-anak yang diajaknya untuk berpikir kreatif. Saat ini ia mengajar sebagai guru Sekolah Dasar (SD) di sebuah sekolah di Cirebon.

Pada masa itulah ia kemudian menikah dengan Ari, laki-laki temannya sejak masa kuliah. Dengan Ari pula, Kemala atau Lala kemudian mengumpulkan anak-anak muda di Cirebon. Mereka lalu mendirikan Cinema Cirebon, sebuah komunitas nonton film di tahun 2016. Komunitas ini kemudian melakukan kegiatan literasi melalui film di Kota Cirebon.

Tak heran jika Lala kemudian banyak masuk ke sekolah-sekolah, kampus, ke desa-desa untuk kampanye soal film dan diskusi berbagai isu sosial melalui film.

Suatu hari ia pernah merasa galau, apakah harus meninggalkan pekerjaannya sebagai guru lalu memilih untuk mengelola komunitas film, karena dengan fokus pada pengelolaan komunitas film, maka ia merasa ini akan membawa pengaruh besar.

Namun jika ia keluar dari pekerjaannya sebagai guru, maka ia tidak bisa mewarnai sekolah-sekolah melalui film. Darip, adalah salah satu office boy di sekolah tempat Lala mengajar. Ketika Cinema Cirebon memberikan ruang bagi siapapun untuk bermain film, maka Darip kemudian menjadi salah satu pemain di Film pertama Cinema Cirebon yang berjudul “Modhar opo Urip.” Film yang menjadi pemenang dalam festival film Majalengka 2018 ini kemudian diputar di banyak tempat. Lala merasa senang karena semua orang, termasuk Darip bisa ikut dalam proses produksi film ini. Ini yang membuat Lala kemudian berpikir bahwa jalan yang ditempuhnya tak pernah salah. Ia harus menjadi guru karena akan melatih kepekaannya, serta mengelola komunitas film dimana ia bisa bertemu langsung dengan masyarakat.

Menggairahkan Nonton Film di Cirebon

Untuk melakukan pemutaran film di tempat-tempat yang berganti, Lala kemudian berkeliling dan mendekati banyak orang di Cirebon. Maka film kemudian bisa diputar secara berkeliling lalu berdiskusi dengan film sebagai pengantar di tempat-tempat yang berganti-ganti, di café, di kedai minum, di sekolah, di universitas, di lembaga sosial juga ke desa-desa di Cirebon. Pernah karena belum mendapatkan tempat, Lala kemudian memutar film di rumahnya yang selama ini juga menjadi home base Cinema Cirebon. Berbagai film documenter diputarnya, dari film tentang perempuan, film keberagaman, film tentang buruh, dll. Intinya film yang banyak diputar adalah film yang menceritakan kelompok marjinal.

“Pada dasarnya kami ingin film yang diputar adalah film yang bisa menawarkan ruang-ruang untuk berdiskusi,” kata Lala.

Nekat karena keinginannya, Lala kemudian juga melihat bahwa pemerintah Cirebon belum juga mendukung pementasan alternatif seperti film-film alternatif, maka ia kemudian nekat membuat sebuah festival di Cirebon yang ia namakan Festival Film Bahari. Festival Film Bahari digagasnya dilaksanakan di pesisir pantai dan ini merupakan festival film pertama di Cirebon. Ini karena Cirebon identik sebagai kota udang, maka festival yang bertemakan laut sangat cocok untuk identitas kota ini.

Mengenalkan kota Cirebon sebagai kota yang mempunyai wajah seni, ini adalah salah satu keinginan Lala. Juga impiannya setelah meninggalkan Kota Yogya.

“Kami ini memang serba nekat, apa saja dilakukan dengan modal nekat. Film Modhar apa Urip diproduksi dari iuran Rp. 100 ribu perorang, kemudian membuat festival film juga bermodalkan iuran kecil-kecilan,” kata Lala.

Ketika ditemui sebelum pemutaran film “Hari Baik,” film ini merupakan film kedua Cinema Cirebon yang didukung Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) dan Koalisi Seni Indonesia (KSI) melalui Program Pundi Budaya, Lala menyatakan bahwa kegiatan mereka selama 2,5 tahun ini selalu berbasiskan iuran atau patungan. Ketika IKa dan KSI membuka Pundi Budaya, Lala kemudian mengirimkan proposal dan diterima untuk menerima dana hibah sebesar 30 juta rupiah, dan jadilah film tentang keberagaman berjudul “Hari Baik.”

Film “Hari Baik” adalah film kedua yang kembali melibatkan anak-anak muda di Cirebon. Beberapa anak yang masih sekolah kemudian ia libatkan untuk menyiapkan konsumsi dan make up. Anak-anak lain yang sudah lulus sekolah dilibatkan untuk menjadi camera person, lighting dan juga editor. Rizal adalah editor lulusan SMA yang “ditemukan” ketika Cinema Cirebon melakukan pementasan keliling ke sekolah-sekolah. Rizal sangat berminat untuk terlibat, maka sejak itulah Rizal ikut menyiapkan festival film dan kini menjadi editor di Cinema Cirebon.

“Teman-teman yang terlibat dalam Cinema Cirebon ini adalah teman-teman yang kami temui di sekolah, mereka datang ke pemutaran film, terlibat dalam diskusi lalu bergabung di komunitas.”

Cinema Cirebon selama ini memang mengelola komunitas yang terdiri dari anak-anak muda di Cirebon. Lala menyatakan bahwa tim produksi film ini selalu terdiri dari anak-anak muda yang siap untuk belajar apa saja terutama di dunia film. Gairah inilah yang kemudian mulai ditumbuhkan Lala, dari mengajak mereka membuat produksi film, mengajak berkeliling melakukan pemutaran sekaligus membuat festival film.

Festival Film Bahari di tahun 2018 misalnya, berhasil dikerjakannya secara kolektif bersama jaringan, mendapat dukungan warga sekitar Kecamatan Suranenggala, Kabupaten Cirebon. Maka festival itu kemudian diadakan di pesisir pantai dan melibatkan warga disana. Tamu-tamu yang datang dari luar daerah dan luar negeri kemudian tidur di balai desa, menggunakan kamar mandi-kamar mandi milik warga dan diajak berkeliling ke wilayah pesisiran.

Lala, menurut Doni Kus Indarto, seorang sutradara film yang kemudian menyutradarai film “Hari Baik” bersama Cinema Cirebon, menyatakan bahwa yang paling penting yang dikerjakan Lala adalah membuka kesempatan dan ruang belajar bagi warga dan anak-anak muda di Cirebon.

“Dia termasuk sabar dan tidak tergesa-gesa dalam membuat film, dia tahu yang penting agar tujuan pesannya sampai kepada masyarakat luas. Ia termasuk berperan sebagai dinamisator, itu yang membuatnya diterima oleh kelompok di Cirebon.”

Dalam berjaringan dengan kelompok dan gerakan sosial di Cirebon misalnya, Lala kemudian bisa masuk dan bergaul dengan kelompok-kelompok ini. Malah Cinema Cirebon kemudian sering diundang oleh organisasi atau lembaga untuk ikut mengkampanyekan isu melalui film. Misalnya, pernah diajak oleh lembaga perempuan untuk berkampanye stop perkawinan anak dan stop kekerasan terhadap perempuan. Cinema Cirebon juga diajak dalam kampanye keberagaman dengan Jaringan Gusdurian, Fahmina Institute disana.

Di tengah situasi persoalan intoleransi yang menguat di Jawa Barat, upaya membangun wacana dan gagasan mempertahankan keberagaman sangat dibutuhkan. Lala kemudian juga membawa keliling film “Hari Baik” yang akan diputar di 17 tempat. Film ini sebagai ruang berdiskusi tentang keberagaman.

Munculnya perempuan-perempuan seperti Kemala Astika akan mengambil peran langsung dalam masyarakat akan membuka dialog antar kelompok agama, etnis dan masyarakat. Kuncinya adalah menghadirkan gagasan keberagaman itu di tengah masyarakat.

Dalam waktu dekat di tahun 2019 ini, Cinema Cirebon juga kembali akan menggelar Festival Film Bahari yang kedua. Festival ini adalah penanda nafas seni, budaya Cirebon untuk membuka ruang diskusi bagi masyarakat yang lebih meluas.

(Foto:minikino.org)