Angkatan 90 Santa Ursula: Berawal dari Reuni, Jadilah Donasi

Sekelompok anak muda, persisnya 200an anak muda yang sedang bertemu ini adalah mantan siswi-siswi angkatan 90 di Sanur. Sanur, adalah singkatan dari SMA Santa Ursula Jakarta dimana mereka pernah sekolah dulu.

“Kami sudah tak muda, sudah setengah muda,” jawab salah seorang yang disambut tawa yang lain.

Berawal dari Reuni ke-25 di awal tahun 2019, dimana angkatan 1990 bersama-sama di sekolah Santa Ursula pada 25 tahun lalu, maka merekapun bertemu kembali dalam sebuah reuni. Reuni, apapun istilahnya adalah suatu upaya untuk mempertemukan kembali yang dulu pernah bersama, upaya mencari eksistensi diri yang mulai pupus dari memori karena dimakan usia. Ini yang dikatakan Catharina Dwihastarini, salah satu pengurus angkatan 1990 Santa Ursula.

“Mempersiapkan reuni bagi kami, adalah seperti memasuki sebuah pasar malam. Mencoba semua cara perjumpaan dan permainan yang ada. Dulu ketika di sekolah di tahun 90, kami meningat-ingat, dulu kami pernah melakukan apa, maka disinilah kami seperti memulai kembali ingatan itu,” ujar Catharina.

Catharina menyatakan bahwa mereka kemudian mencari, menelusuri dan mencoba beragam kalimat, bentuk, dan kegiatan yang dapat menggambarkan arti sebuah reuni ala sanurian, ala sanurian angkatan 1990. Reuni yang tidak berakhir ketika sebuah tanggal selesai dilalui. Reuni yang terus berlanjut untuk melakukan sesuatu bagi sesama, sebagai seorang sanurian.

Dan pada akhirnya ReUnite, ReNew, dan ReGrow memiliki arti tersendiri bagi angkatan 1990.

ReUnite adalah menjalin kembali tali silahturahmi dan berjejaring, sedang ReNew mengabdi kepada masyarakat sebagai seorang Sanurian dan bagian dari pendidikan di Santa Ursula yang pernah dirasakan. Dan ReGrow artinya menjadi titik awal sebuah gerakan yang meninggalkan jejak dan memberikan arti lebih bagi masyarakat dan bangsa.

“Dalam reuni tersebut angkatan kami kemudian mencoba mencari cara, apa yang bisa kami lakukan untuk orang lain yang membutuhkan? Maka kemudian terpikirlah bagi kami untuk mencari cara untuk berdonasi.”

Sebenarnya kegiatan ini sudah beberapakali dilakukan oleh angkatan 90, seperti mencoba menjadi pendonor darah, dukungan untuk rumah baca, dan kali ini berdonasi.

“Ini sebenarnya merupakan kebiasaan yang juga sering kami lakukan dulu. Donasi bagi kami tidak hanya memberikan dalam bentuk dana. Donasi bagi kami adalah kontribusi dalam kebersamaan yang dikerjakan bagi sesama. Baik kontribusi tenaga, pemikiran, dan lainnya. Karena bagi kami, apapun bentuknya asalkan dikerjakan bersama dan untuk sesama, itu adalah kontribusi, itu adalah donasi dan pengabdian kami. Kami selalu mengacu kepada Reunite, renew, dan regrow.”

Selanjutnya dalam pertemuan ini terkumpullah uang sebesar Rp. 4 juta dan kemudian hasilnya didonasikan untuk Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa), dimana IKa mengelola dana untuk Pundi Perempuan. Dana ini kemudian akan disumbangkan untuk para perempuan korban kekerasan seksual dalam Pundi Perempuan.

Pundi Perempuan sendiri adalah sebuah upaya penggalangan dana bagi lembaga pengada layanan yang bekerja untuk pendampingan perempuan korban kekerasan, serta dana darurat yang dapat diberikan untuk perempuan pembela/pejuang/pekerja HAM yang mengalami ancaman keselamatan maupun kondisi kesehatan kritis baik psikis.

Digagas oleh Komnas Perempuan pada tahun 2000, dan mulai tahun 2003 dikelola bersama Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa), Pundi Perempuan menghadirkan model hibah yang memberdayakan sesuai dengan nilai-nilai perubahan sosial yang diharapkan.

Selama ini sebanyak 90 organisasi/ individu sudah menerima dana hibah Pundi Perempuan yang terdiri dari: 78 organisasi layanan, 3 organisasi korban, 5 individu pekerja kemanusiaan dan 4 dana bergulir bagi pengembangan ekonomi perempuan.