Indonesia untuk Kemanusiaan Dukung Pementasan Teater Kelompok Minoritas “Sepenggal Kisah Kampung Duri”

Hujan deras yang mengguyur Jakarta pada Jumat, 26 April 2019 lalu cukup membuat beberapa orang yang ingin datang dalam acara pementasan teater Sanggar Seroja menjadi terhambat. Acara malam itu tetap berlangsung.

Sebuah panggung teater yang terletak di tengah ruangan Sanggar Remaja di Jakarta Barat sudah siap untuk digunakan. Lampunya remang. Pementasan malam itu mengambil cerita tentang refleksi hidup antara anak dan orangtuanya.

“Latihannya selama setahun, kami melakukan workshop, reading lalu latihan bersama-sama. Latihan yang lengkap ini kami perlukan untuk saling memahami karakter masing-masing,” demikian dikatakan Rikky MF, ketua tim pementasan ketika ditanya soal persiapan yang dilakukan Teater Seroja dalam pementasan ini.

Kelompok minoritas yang menjadi pemain teater ini kebanyakan adalah para waria. Selama ini beberapa dari mereka tinggal di Kecamatan Tambora, Jakarta Barat.

Daerah ini merupakan daerah paling padat se-Asia Tenggara dan termasuk wilayah yang paling rawan konflik di Jakarta. Banyak komunitas waria yang tinggal di daerah ini dan rentan mendapatkan kekerasan, narkoba, minuman keras, premanisme, prostitusi, pencurian, pelecehan serta pengusiran.

Kerentanan tersebut tak lepas dari pandangan masyarakat dan kebijakan negara yang belum memberikan ruang pada identitas dan orientasi seksual waria sebagai bagian dari keragaman dalam masyarakat dan bernegara.

Di area yang rawan ini, sekelompok waria kemudian mengorganisir diri untuk bergerak dalam kegiatan kesenian. Ini dilakukan sebagai tanggapan mereka terhadap berbagai diskriminasi, eksploitasi dan pengucilan.

Para pelaku seni ini meyakini bahwa melalui kesenian, waria dapat mengungkapkan kesejatian eksistensinya, membuka ruang-ruang bagi masyarakat dan negara untuk memahami dan menghormati kemanusiaan mereka sehingga meraih tatanan hidup bersama yang damai. Kelompok berkesenian ini menyebut diri: Sanggar Seroja.

Sanggar Seroja adalah kelompok kesenian, yang sebagian besar anggotanya adalah para transgender. Dua anggota Sanggar Seroja sudah lebih dari 20 tahun berkecimpung dalam kesenian, tari, monolog, lenong dan teater. Sanggar Seroja sendiri sebelumnya diresmikan pada tanggal 20 Oktober 2016.

Selama ini Sanggar Seroja sudah beberapa kali mengadakan pementasan teater di beberapa festival kampus dan sejumlah event budaya sebagai bagian dari perjuangan ruang identitas dan keberagaman.

Pada Oktober 2018 lalu, Sanggar Seroja menerima hibah Pundi Budaya dari Indonesia Untuk Kemanusiaan (IKa) dan Koalisi Seni Indonesia (KSI) untuk melakukan pementasan seni. Hibah dana ini memberikan dukungan dana pada edukasi keragaman gender melalui teater transgender. Hibah ini kemudian juga digunakan untuk melakukan workshop yang menggali berbagai masalah yang dialami kelompok transgender di Kecamatan Tambora Jakarta Barat.

Setelah melakukan workshop, lalu lahirlah konsep pementasan teater berjudul “Sepenggal Kisah Kampung Duri” yang merupakan pertunjukkan elaboratif kumpulan kisah dari pengalaman 10 transgender di wilayah Grogol, Jakarta Barat pada Jumat, 26 April 2019 lalu di Auditorium Gelanggang Remaja, Jakarta Barat.

Teater “Sepenggal Kisah Kampung Duri” ini menceritakan tentang hubungan antara anak dengan orangtua, pengalaman diskriminasi, duka, impian serta cinta dan harapan yang mewarnai relasi keduanya. Teater akan menampilkan pergulatan dalam relasi-relasi ini. Pertunjukkan ini juga akan disuguhkan dengan perpaduan karya seni audio, musik, drama , visual art, tari dan monolog sastra.

Manajer program Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa), Inggrid Silitonga dalam pembukaan acara pementasan teater menyatakan bahwa pementasan ini dilakukan karena Sanggar Seroja merasa prihatin dengan dunia hiburan khususnya televisi. Selama ini banyak kelompok minoritas termasuk waria yang tak mendapatkan tempat di dunia hiburan dan tersingkir. Maka teater kemudian menjadi jawaban bagi mereka untuk meluaskan kegiatan, ruang berkesenian bagi para waria.

“Pada dasarnya Indonesia untuk Kemanusiaan dalam program Pundi Budaya selalu mendukung upaya-upaya untuk menciptakan ruang baru bagi kelompok minoitas termasuk waria,” ujar Inggrid Silitonga.

Karya-karya yang dipertunjukkan ini selain dipentaskan, juga akan disiarkan di Youtube channel Seroja TV sebagai bentuk pendidikan publik untuk memberikan warna keragaman identitas gender di Indonesia.

Pementasan Teater Sanggar Seroja “Sepenggal Kisah Kampung Duri” ini melibatkan tim antaralain:
Sutradara : Elaborasi semua team
Pemimpin Produksi : Trisfahilda Fauzi
Ketua : Rikky Muchammad Fajar
Manager Panggung : Donny Lazuardi
Sekretaris dan Keuangan : Eka Bunga Edelweiss
Desain Grafis : Indra Prasto
Lighting : Aziz Dyink
Audioman : Sentanu
Video Jockey : Indra Prasto dan Arsha
MC : Anna Amalia

Pemain :
Pandan Atha Kamari, Devi Bernadette, Monica, Metha, Wanty Soraya, Tatiana Kaldera, Donita Barbara, Indra Herdyansyah,Denissa, dan Sofiani Megawaangi

Team pendukung
Viviana Barbara Rossa, Tuti Amalia, Galbera Nana