Di Georgia, Kami Saling Belajar Bersama Organisasi Filantropi untuk Isu Hak Asasi Manusia

Kami tiba pada pukul 13.20 waktu Georgia. Matahari sedang hangat-hangatnya. Turun dari bis, rombongan kami disambut dengan penuh hangat. Teman-teman dari Leli Foundation yang merupakan mitra dari Taso Foundation telah menyiapkan jamuan makan siang di halaman depan kantor mereka yang rindang oleh beberapa pohon arbei. Pegunungan Kaukasia berselimut salju terhambar di belakang.

Taso Foundation sendiri merupakan organisasi filantropis dengan misi memberdayakan perempuan dan mendukung Hak Asasi Manusia (HAM) dan perdamaian di Georgia. Sejak berdiri, ia telah mendukung lebih dari 381 proyek lembaga perempuan dan berbagai kelompok inisiatif, salah satunya adalah Leli Foundation. Dalam peer learning kali ini, dengan Leli Foundation inilah kami berkunjung untuk belajar bersama.

Peer Learning adalah salah satu bagian dari rangkaian dari pertemuan tahunan Foundation For Peace (FPP) kali ini yang diselenggarakan selama tiga hari di kota Tbilisi, Georgia pada 10-12 Mei 2019 lalu.

Berdiri sejak 2006, Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) merupakan salah satu anggota selain berbagai organisasi dari India, Nepal, Irlandia Utara, Bangladesh, Srilanka, Palestina, Serbia dan Georgia. Selain untuk membangun hubungan kerja yang efektif dan langgeng di antara anggota FFP dan dengan para pemangku kepentingan, pertemuan rutin ini juga menjadi forum untuk saling belajar antar para anggota yang rata-rata adalah organisasi pemberi hibah yang concern pada isu tentang perdamaian dan transformasi sosial.

Peer learning, merupakan salah satu cara untuk saling belajar. Kami berkunjung dan bertukar pikiran ke masing-masing organisasi mitra dan komunitas. Kali ini, tempat belajar adalah Bersama Leli Foundation yang mengembangkan organisasi akar rumput di kota Kakheti, sekitar 2 jam dari Tbilisi, ibukota Georgia, serta ke salah satu mitra Taso yang lain yang bekerja dengan para pengungsi Chechnya dan komunitas Muslim lokal. Kedua organisasi ini dipimpin oleh perempuan.

Nana Nersezashvili, ketua Leli Foundation menyambut kami dengan hangat. Beberapa perempuan tampak sibuk menyiapkan santap siang. Dua orang ibu sibuk mengolah tepung dan membakar roti. Kami disuguhi sebuah pemandangan langka, proses pembuatan roti tradisional Georgia, ada yang berbentuk oval dan panjang, dan yang dipanggang dalam oven berbentuk bulat dan besar.

Orang Georgia menyebutnya t'one. Perempuan setengah baya dengan telaten membantu saya yang ingin mencoba menyerok kue yang telah matang dari tungku. Sayang, kue terjatuh dan masuk ke dalam bara. Ia tertawa saja. Kue diambil dengan tangannya,dan disodorkan pada saya. Wow, enak banget! Terasa manis gurih dari adonan terigu, kacang almond, dengan sedikit bumbu vanilla.

Jamuan makan siang pun dimulai. Marina Tabukashvili, Direktur Taso Foundation memperkenalkan kami. Bapak kepala desa setempat ikut beri sambutan. Beliau senang sekali dengan kehadiran kami, ia bilang agak takjub setelah tahu kami dari berbagai negara, yang barangkali tak pernah didengar seumur hidupnya.

Ia lalu berkisah sedikit tentang Georgia, tentang makna penting perdamaian bagi negaranya. Aneka suguhan, aneka roti: tonis puri, mchadi, dan khacapuri, roti khas Georgia berbentuk pipih dengan lelehan keju tebal di dalamnya yang baru keluar dari panggangan, daging panggang dan ikan, aneka sayur segar dan tak lupa anggur khas Georgia. Ya, negeri di pegunungan Kaukasia ini terkenal sebagai pembuat anggur terbaik di dunia.

Usai santap siang, kami diajak berkeliling menyaksikan gedung berlantai tiga yang saat itu tengah direnovasi di sana sini. Beberapa ruangan kerja tertata apik, ruangan meeting, ruang olahraga seperti tenis meja, ruang fitness dan ruangan catur, juga ada ruang bermain anak, ruang musik hingga beberapa ruang yang dipakai untuk berbagai pelatihan.

Lamat-lamat kami mendengar suara anak-anak bernyanyi. Benar saja, begitu masuk ke ruang pertemuan, ada 7 anak laki dan perempuan telah berjejer usia sekolah dasar bersiap menenteng alat musik tradisional yang mirip dengan gitar. Dengan gembira, mereka membawakan 2 buah lagu. Anak-anak itu begitu manis. Pipi mereka merah, usai terpanggang matahari. Kami bertepuk tangan panjang sekali begitu lagu kedua usai dinyanyikan.

Sampailah pada meeting. Dengan penuh antuisas, Nana berkisah tentang Leli Foundation yang diketuainya. Berdiri sejak 2006 sebagai tempat untuk kegiatan perempuan dan anak muda, baru pada 2011 Leli Foundation menjadi yayasan komunitas dengan mandat untuk memberi hibah. Wilayah kerjanya di Kakheti, sekitar 2 jam naik mobil dari Tiblisi, ibukota Georgia.
“Kami bekerja dengan 18 komunitas di 50 desa, terdiri dari kelompok perempuan dan anak muda. Kami juga memiliki lebih dari 100 relawan.” Ujar Nana.

Ia berkisah bagaimana pengembangan organisasi akar rumput yang dipimpinnya. Kantor Leli Foundation menjadi pusat pendidikan non formal dan mengorganisir keterlibatan masyarakat sipil di wilayah Kakheti. Mereka juga bekerja untuk mengembangkan para petani kecil, menyebarkan teknologi modern dan pendekatan ramah lingkungan di bidang pertanian. Leli Foundation bekerja untuk mendukung masyarakat sipil dan korban konflik etnis dan agama minoritas yang terdampak dari konflik lama di Georgia. Perempuan menjadi salah satu pilar bagi organisasi ini.

Beberapa slide foto yang menggambarkan aktivitas mereka khususnya dengan anak-anak muda membuat kami tertarik. Mereka membuat berbagai kegiatan seperti pemutaran film, konser, olahraga hingga program pertanian.

Para perempuan tampak tersenyum cerah dengan berbagai kegiatan menjahit, membuat kue, membuat kerajinan, juga bernyanyi Bersama-sama. Leli Foundation juga memberi support pada usaha kecil untuk perempuan, diantaranya adalah pelatihan tata rias, menjahit dan membuat kue. Dukungan yang diberikan juga dalam bentuk membuat rancangan bisnis serta konsultasi untuk pengelolaan finansial.

Bagaimana Leli Foundation membangun keswadayaan? Bagaimana mobilisasi sosial untuk dikonsolidasikan lebih lanjut melalui filantropi komunitas? Demikian menjadi beberapa pertanyaan kami. Dengan antusias, Nana berkisah bagaimana mereka mengembangkan berbagai usaha kecil seperti membuat kursus pertanian dan pembudidayaan lebah dan membuat madu. Madu hasil produksi mereka, telah dipasarkan hingga ke kota. Leli Foundation juga melibatkan lebih dari 100 relawan dalam menggerakkan komunitas. Mereka tak semata bekerja dengan bertumpu pada Lembaga-lembaga donor.

Pukul 18 00 kunjungan pun usai. Matahari belum lagi tenggelam. Nana masih mengajak kami keliling kantornya. Ia menunjukkan ruangan mungil di pojok dan meja kerjanya, yang dihias ornament kupu-kupu.

“Iya, saya suka kupu-kupu…’ ujarnya sambil tertawa.

Ia mengajak saya berfoto sambil duduk di kursi di dekat jendela, berlatar pegunungan Kaukasia (yang sayangnya tak nampak). Kami ngobrol lagi di halaman depan. Hingga kemudian benar-benar berpamitan pulang kembali ke penginapan, berjarak lebih dari 1 jam. Esok hari, kami akan meluncur ke salah satu mitra Taso yang lain, yang bekerja untuk memberi advokasi pada para pengungsi Chechnya dan komunitas Muslim lokal.