Misa Arwah Menjadikan Ruang untuk Membicarakan Korban 65 Lebih Terbuka

Kamu pernah datang ke Sikka di Nusa Tenggara Timur (NTT)? Ternyata disana banyak sekali acara-acara adat yang dilakukan, termasuk upacara-upacara adat. Ada satu upacara adat yang disebut misa arwah yang baru pertamakali dilakukan di Sikka. Apakah misa arwah ini dan mengapa ini dilakukan sekarang?

Kali ini Lilik HS dari Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) datang ke Sikka bersama Ade Siti Barokah dan Abdi Suryaningati dalam program Pundi Insani untuk program Peduli. Apa cerita menarik disana? Apa bedanya misa arwah ini jika dibandingkan dengan upacara-upacara adat lainnya? Kita simak yuk cerita perjalanan disana:

Awalnya kami datang ke pertemuan dengan komunitas korban di Tuabao. Dihadiri oleh 21 ibu-ibu di kelompok tenun. Diskusi tentang manfaat yang diperoleh dari Program Peduli kami lakukan bersama. Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) bersama mitra salah satunya Perkumpulan Bantuan Hukum (PBH) Nusra di Sikka ini selama 4 tahun memperjuangkan hak ekonomi, sosial dan budaya bagi para korban Hak Asasi Manusia.

“Dalam kelompok tenun ini ada sharing pengetahuan, tentang bagaimana mengikat benang dan pewarnaan. Hingga pada akhirnya semua anggota kelompok tenun telah mahir bertenun dan telah mendapatkan pendapatan tambahan,” ujar seorang mama yang duduk di ujung.

Mama-mama yang datang menyatakan bahwa dengan adanya program Peduli, mereka punya kesempatan untuk belajar tenun, dibantu permodalan serta pengelolaan hasil tenun melalui kelompok tenun.

Kelompok tenun ini juga menjadi ruang untuk pemulihan bagi para korban 65. Mereka menjadi terbiasa untuk bercerita tentang kehilangan di masa lalu dan sekaligus memberanikan diri untuk berbicara di depan umum.

Program Peduli dan Pundi Insani juga pernah melakukan acara upacara adat Gren Tana di Sikka ini, acara Gren Tana ternyata memberi banyak arti bagi para korban, ruang-ruang membicarakan tentang 65 menjadi lebih terbuka.

Misa arwah, Upacara untuk Korban Kekerasan

Lalu tibalah saatnya pada jam 17.30 kami menghadiri prosesi misa arwah untuk para korban kekerasan 1965 di dusun Dobo desa Iantena. Dipimpin oleh Romo John dari Paroki dan Pater Otto Gusti dari Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Ledalero upacara ini dilakukan untuk mengenang warga yang meninggal pada peristiwa tahun 1965 lalu.

“Pada hari ini kita tidak hanya berkumpul tapi juga mendoakan saudara-saudari kita yang telah meninggal 50 tahun lalu pada peristiwa 1965. Yang meninggal bisa jadi mereka bersalah, tapi kesalahan tidak boleh kemudian menjadi alasan untuk menghabisi mereka. Kita sebagai orang Kristen harus mendoakan mereka agar jiwa mereka diterima dalam persekutuan. Di dalam kasih Tuhan. Dalam perayaan ekaristi ini kita akan mendoakan saudara-saudara kita yang sudah meninggal dan menempuh akhir hidupnya secara tidak adil. Yesus yang datang ke dunia untuk membawa revolusi sosial mengundang kita untuk berani menguak kebenaran masa lalu dalam masyarakat kita juga di bangsa kita.”

Misa arwah untuk korban 65 merupakan pertama kali yang dilakukan di Sikka. Pater Otto pun menyebut baru pertama kalinya memimpin misa arwah untuk korban 65 disini.

Desa Lantena adalah salah satu desa di mana jumlah korban 65 cukup besar. Tak kurang dari puluhan warga diambil paksa, dibunuh tanpa ada yang tahu dimana lokasi kuburannya. Peristiwa 50 tahun lampau, masih membekas erat dalam ingatan warga desa. Tak terkecuali Mama Rosmunda Rasenli yang tampak kusyuk mengikuti seluruh prosesi.

“Saya merasa terharu. Ingat kita ingat punya keluarga. Biasanya kalau ada keluarga meninggal kita rawat, kita atur rapi. Kita kubur yang baik. Tapi ini tidak bisa kita lakukan dulu.”

Ia kehilangan salah satu kerabat, yang diambil dari rumah dengan alasan untuk kerja bakti kemudian tak pernah kembali lagi. Mama Edita (60 tahun), duduk di sebelahnya menimpali.

“Saya juga rasa haru. Biasanya hanya bisa mendoakan di gereja.”

Ia kehilangan adik bapaknya, yang diambil paksa dan tak tahu rimbanya. Bersama banyak lelaki lain di desanya pada masa itu. Ia masih umur 4 tahun ketika itu, kala itu ia diajak orangtuanya lari ke hutan. Makan ubi dan pisang mentah. Hingga berbulan-bulan lamanya.

Bertahun-tahun setelah peristiwa tersebut, Mama Edita masih merasa trauma. Ia juga merasa ada ganjalan lantaran tak bisa menguburkan dan mendoakan pamannya dengan semestinya. Misa arwah kali ini sungguh melegakan hatinya.