Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa), 24 Tahun di Jalan Kemanusiaan

Jam 15 sore kurang 15 menit. Beberapa orang sudah datang. Pak Wilarsa Budiharga datang paling awal. Ia tampak duduk berbincang di meja belakang mengenakan baju batik warna biru. Wajahnya tampak segar. Menyusul kemudian ibu Zoemrotin K Susilo. Bu Zoem demikian biasa dipanggil memang tak mau terlambat datang. Ia juga datang lebih awal.

Ibu Zoem dan pak Wili merupakan 2 pendiri Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa), sedangkan satu pendiri lainnya pak Fauzi Abdullah telah meninggal dunia.

Tamu-tamu lain giliran berdatangan. Meja makan berisi lontong opor, bakso dan siomay sudah terhidang di di sisi kanan. Sedangkan meja sisi kiri ada beragam kue tradisional. Nasi tumpeng sudah disiapkan sebagai salah satu penanda peringatan ulangtahun.

Ada banyak yang datang sore ini. 60 orang lebih. Ruang Ke:Kini lantai 1 di jalan Cikini raya, Jakarta satu gedung dengan kantor Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) yang biasanya hanya bisa diisi oleh 50 orang, penuh sesak. Banyak yang berdiri. Yang hadir sore ini adalah para kolega, teman Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa). Semua hadir dalam peringatan ulangtahun IKa yang ke- 24, sore 14 Juni 2019.

“Tak semua bisa kami undang karena keterbatasan tempat, maka kami minta maaf jika tak semua bisa hadir saat ini,” ujar Direktur Eksekutif Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa), Anik Wusari.

Ada yang duduk di kursi-kursi, namun lebih banyak yang berdiri karena semua kursi sudah terisi.

Waktu itu malam hari, demikian Pak Wiliarsa memulai bercerita. Pak wili dan Fauzi Abdullah banyak ngopi di sore hari hingga malam. Atas diskusi dan obrolan keduanya, maka keduanya berpikir harus ada lembaga yang memberikan dana bagi aktivis-aktivis bagi gerakan kala itu. Pemerintahan orde baru yang penuh dengan otoritarianisme membuat banyak aktivis harus bergerak, ada yang melakukan aksi, ada yang melakukan pengorganisiran. Kemudian atas gagasan Pak Wilarsa dan Fauzi Abdullah, mestinya harus ada lembaga yang memberikan dukungan dana.

“Jadi kala itu banyak gerakan sosial yang bergerak secara diam-diam yang harus dibantu. IKa tumbuh dari tradisi untuk memberikan support dana, jaringan, pengetahuan dan kerelawanan sejak berdirinya,” ujar Wilarsa.

Pak Wili dan Fauzi Abdulah kemudian mengajak Zoemrotin. Zoemrotin dalam pidato pengantarnya di ulangtahun IKa mengatakan secara berseloroh bahwa ia diajak untuk mendirikan IKa ketika mereka membutuhkan perempuan sebagai pendiri lembaga ini.

“Jadi sebenarnya yang pertama bertemu itu mas Wili dan Fauzi, tapi karena mereka butuh perempuan, maka kemudian dikontaklah saya.”

Zoemrotin mengatakan dengan terbata-bata. Air matanya menetes mengenang masa itu. Banyak yang tertawa sekaligus terharu mendengar cerita Zoemrotin.

“Dulu kita berdiri sebagai organisasi silent foundation. Organisasi yang diam-diam bergerak memberikan support. Saya ingat di tahun 1994, itu merupakan tahun yang menakutkan dan tekanannya sangat kuat. Kita support dana untuk teman-teman di Jakarta, Surabaya, Yogyakarta. Kita bantu walaupun uangnya tidak banyak, namun nilai kemanusiaannya tinggi. Ini umumnya sebagai bentuk dukungan kita pada anak-anak muda. Dan sekarang IKa menjadi yayasan yang terbuka, dan sudah ada 4 pundi yang dikelola. Ulangtahun ke 24 ini menjadi makna yang berarti, IKa sudah go internasional, sudah dikenal oleh banyak kelompok nasional dan internasional.“

Pak Wiliarsa, setelah bu Zoemrotin menyelesaikan pidatonya menambahkan bahwa tongkat estafet sekarang sudah diserahkan pada anak-anak muda di IKa. Ini merupakan hal baik dan menunjukkan bahwa IKa dari dulu hingga sekarang selalu tumbuh di tengah gerakan sosial di Indonesia.

“Dulu IKa lahir di tengah pergolakan di zaman orde baru dan melakukan support pada gerakan. IKa lahir ketika ada banyak persoalan kemanusiaan yang mendasar yaitu kejahatan kemanusiaan, peminggiran sosial, korban pelanggaran hak asasi manusia yang kehilangan martabat dan haknya. Dan hingga sekarang IKa masih berada dalam ruang gerakan sosial. Saya sangat senang mempercayakan pada anak-anak muda di IKa.”

Di tengah ruangan, Kamala Chandrakirana sebagai ketua pengurus IKa duduk diantara deretan tamu yang datang. Kamala atau mbak Nana dan Direktur Eksekutif Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) saat ini, Anik Wusari adalah pemegang tongkat estafet untuk melanjutkan perjuangan IKa sejak tahun 2010 hingga sekarang.

“Kini di umurnya ke 24 tahun IKa menjadi lembaga yang mencoba untuk selalu terbuka, transparan dan akuntabel. IKa sampai sekarang sudah mengelola 4 pundi kemanusiaan. Pundi Insani untuk korban pelanggaran Hak Asasi Manusian (HAM) berat, Pundi Perempuan untuk perempuan korban kekerasan, Pundi Budaya untuk pluralisme budaya dan Pundi Hijau untuk perjuangan ekologi,” ujar Anik Wusari.

Tumpeng yang berisi nasi kuning, ayam, perkedel dan telur kemudian dipotong sebagai penanda peringatan ulangtahun. Semua lalu berkerumun untuk mengobrol di tengah makanan yang telah disajikan. Ini setelah “Ustad Gaez” Muhammad Ibnu Sahroji memberikan ceramah soal keberagaman. Beberapa relawan atau komunitas pemberdaya IKa juga datang. Di tengah mencicipi lontong dan bakso, beberapa tamu yang datang mengatakan menaruh harapannya untuk IKa.

“Semoga IKa selalu bersemangat dalam perjuangan,” kata Wakil Direktur Wahana Lingkungan Hidup (Walhi), Khalisah Khalid.

“Semoga IKa selalu menginspirasi,” ujar Sinnal Blegur dari Griya Mode.

Mbak Yenni Abdi Suryaningati dari The Asia Foundation berharap IKa tetap melanjutkan perjuangan untuk membela kelompok marjinal di Indonesia. Bunga Manggiasih dari Koalisi Seni Indonesia (KSI) berharap IKa bisa maju bersama dalam mengelola kebudayaan dan pluralisme di Indonesia. Selama ini IKa dan KSI mengelola program Pundi Budaya secara bersama. Program ini diperuntukkan bagi para seniman. Budayawan, komunitas dan individu yang memperjuangkan keberagaman dalam kegiatannya sehari-hari.

Komnas Perempuan sebagai mitra bersama IKa di Pundi Perempuan diwakili Magdalena Sitorus dan Sekjen Komnas Perempuan, Lilly danes. Ibu Magdalena memberikan pidato soal pengalaman bekerja bersama dengan IKa selama ini.

Setelah beranjak malam, semua pulang. Ada Wilson Obrigados dan Sinnal Blegur dari Praxis, Juga Sekar Pireno yang masih tinggal sampai jauh malam.