Debur Zaman, Membaca Cerita Penyintas 65 Melalui Sastra

Putu Oka Sukanta, seorang cerpenis dan penyintas 65 secara konsisten terus menuliskan tentang ketimpangan. Ini bisa dilihat dari tokoh-tokoh yang ditulisnya. Lihat saja dalam cerpen yang berjudul Luh Galuh, ia menunjukkan banyaknya orang yang dianggap sebagai warga kelas dua:

“Haripun berjalan tanpa menghiraukan keinginan dan kemauan orang yang tak berdaya. Orang-orang seperti Luh Galuh, boleh saja masih punya keinginan, tetapi hari-hari yang terus berjalan tidak pernah menggubrisnya. Hari-hari berlari sambil menolehnya dengan sebelah mata. Kemudian membuang mukanya jauh-jauh. Tidak peduli!”

Luh Galuh adalah warga kelas dua. Narasi ini dan narasi-narasi cerpen Putu Oka Sukanta yang lain, kemudian dikumpulkannya menjadi satu dalam sebuah buku berjudul “Debur Zaman” yang diluncurkan 9 Juli 2019 lalu di Kios Ojo Keos di Jakarta. Buku ini diterbitkan oleh Lembaga Kreatifitas Kemanusiaan (LKK), Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat (Jaker) dan Asia Justice and Right yang didukung oleh Pundi Insani Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa).

Dalam “Debur Zaman” Putu Oka Sukanta merangkum 3 periode cerita yang berada dalam 3 zaman, yaitu di tahun 1960-1965 atau dari masa Lekra dimana Putu dulu aktif disana, lalu di masa kekuasaan orde baru, dan sesudah reformasi.

Di tahun 1964 beberapa cerpennya yang dimuat di Harian Rakyat yang berjudul “Loper”, “Bibi Kerti”, “Kemana Muka Dipaling”. Kemudian periode berikutnya di tahun 70-90an sejumlah cerpennya seperti “Luh Galuh” dan “Pan Blayag” dimuat di Sinar Harapan. Dan beberapa cerpen lain di tahun 2000- 2017 dimuat di Harian Kompas, Jurnal Nasional, Jurnal Perempuan, Media Indonesia, dll.

Buku ini menurut Dodi Yuniar dalam kata pengantarnya menyatakan bahwa Putu yang pernah dipenjara selama 10 tahun tanpa diadili dari tahun 1966-1976 karena keaktifannya di Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), selalu mampu mengembalikan energi kemanusiaan dalam narasi cerpennya. Setelah dinyatakan bebas dari bui ia semakin bisa menulis apa yang diinginkannya. Tulisan yang terdapat pada imajinasinya tersebut lalu ia kumpulkan dan pernah menjadi sebuah buku yang berjudul “Tembang Jalak Bali.” Buku ini kala itu pertamakali terbit di Malaysia, karena di Indonesia sendiri pada masa itu tidak boleh diterbitkan.

“Saya mungkin pengarang yang sedikit menulis, artinya yang berhasil saya kumpulkan hanya 50 tulisan pada periode sebelum 65, namun tulisan-tulisan ini berhasil saya kumpulkan berkat sejawat di Belanda yang mengirim ke Indonesia,” ujar Putu Oka Sukanta.

Dalam menulis ia sudah tak mengenal yang namanya takut lagi, karena ketakutan yang ada didalam dirinya, telah habis semasa di dalam bui .

“Saya seperti tidak pernah menulis, namun pengalaman-pengalaman itulah yang kemudian menjadikan saya penulis,” Ujar Putu Oka Sukanta.

Jurnalis dan pegiat Ingat65 yang hadir dalam diskusi, Prodita menyatakan bahwa proses menulis buatnya merupakan proses yang tidak mudah karena perlu waktu, duduk dan berpikir. Dan siapapun tidak akan bisa menafikan pengalaman pribadi. Maka seperti halnya Putu, menulis menjadi cara yang efektif untuk menceritakan kejadian yang dialami. Ia selalu mendukung penulis dan cerpenis seperti Putu Oka Sukanta dalam menuliskan pikiran-pikirannya.

“Menulis itu tidak melanggar hukum. Dengan kita berani menuliskan pengalaman kita, itu hal yang luar biasa,” ujar Prodita.

Prodita hadir dalam diskusi bedah buku tersebut sebagai salah satu pembicara. Prodita selalu mendukung para penyintas 65 untuk menulis, ia dulu pernah melihat para penyintas 65 yang tak boleh menulis atau mementaskan hasil tulisannya. Sejak itulah ia merasa terpanggil untuk memberikan dukungan pada penulis yang merupakan korban atau penyintas 65.

Pembicara anak muda lainnya, Elang dari Serikat Mahasiswa Progresif Universitas Indonesia (Semar UI) menyatakan bahwa membaca buku-buku yang ditulis para penyintas bagi anak-anak muda merupakan hal yang istimewa.

“Yang spesial dari sastra ialah ia menjadi istimewa, karena kita bisa merasakan apa yang orang lain rasakan,” ujarnya.

Elang menambahkan bahwa tulisan Putu Oka Sukanta sangat istimewa karena anak-anak muda sepertinya bisa merasakan apa yang Putu Oka pernah rasakan.

Buku “Debur Zaman” berisi 18 cerpen. Dodi Yuniar menulis bahwa “Debur Zaman” merupakan suara nafas Putu Oka Sukanta yang dihirup dan dihembuskan sebagai penopang kehidupannya menjadi manusia utuh, menyatakan diri sebagai pejuang yang tak pernah menyerah. Putu Oka Sukanta telah melampaui waktu. (Osinaya)