Pengalaman Menulis Cerita Hidup Bersama Lansia

Ketika anak-anak muda di Forum Pendidikan dan Perjuangan untuk Hak Asasi Manusia (Fopperham) datang ke Desa Kedungkeris, Nglipar, Gunungkidul Yogyakarta 5 tahun lalu, mereka merasa kecele. Karena pemuda-pemudi yang ingin mereka temui hampir semua sudah pergi merantau ke kota. Padahal Fopperham berharap bisa bertemu anak-anak muda disana yang bisa mendampingi orang Lanjut Usia (Lansia).

Lansia di Gunungkidul mempunyai problem, seperti banyaknya kasus bunuh diri yang dilakukan Lansia, ini yang membuat Fopperham kemudian memutuskan melakukan pendampingan pada Lansia yang didukung Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) dengan Program Peduli dan Pundi Insani.

Yang terjadi di Kabupaten Gunung Kidul tahun 2019 sampai dengan bulan Maret misalnya, terdapat 11 kasus bunuh diri Lansia. Selama tahun 2019 ini kasus bunuh diri diprediksi akan lebih tinggi jumlahnya dari setidaknya pada tiga tahun terakhir.

Sebelumnya di tahun 2018 terdapat 33 kasus bunuh diri, tahun 2017 ada 30 kasus, tahun 2016 terdapat 30 kasus. Sedangkan usia rata-rata korban bunuh diri terbanyak didominasi warga yang berumur 60-80 tahun. Hal lain yaitu banyak Lansia yang mengalami Dimensia. Sejumlah Lansia juga belum mendapatkan akses sosial dan kesehatan termasuk para Lansia korban pelanggaran HAM.

Dari sinilah Fopperham lalu mengumpulkan “sisa” para perempuan yang ada di desa untuk mendampingi Lansia, membuat ruang belajar tentang hak Lansia, membantu membuka akses kesehatan Lansia dan pendampingan Lansia. Bersama Kepala Desa Kedungkeris, Murdiyanto mereka mulai menghubungkan dengan berbagai lembaga penyedia layanan Lansia seperti pemerintah Kabupaten Gunungkidul.

Seiring waktu, para Lansia bersama para pendamping desa ini kemudian belajar menulis. Menulis adalah aktivitas yang dilakukan untuk mengajak para Lansia dan pendamping desa menuangkan cerita keseharian, keluh kesah sekaligus cita-cita mereka.

Lalu setelah menulis, setahun kemudian jadilah buku dengan judul “Selangkah Meraih Berkah Ngurusi Simbah” yang dilaunching pada 25 April 2019 lalu oleh Fopperham di Gunungkidul.
Fopperham melalui Direkturnya dalam tulisan pengantar di buku, M. Noor Romadlon mengatakan bahwa proses penulisan ini melibatkan banyak orang dan banyak pihak, dimulai dari pengumpulan catatan 57 relawan. Penulisan buku ini juga dibantu oleh para mahasiswa Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta yang saat itu banyak melakukan kunjungan pembelajaran untuk Lansia bersama Fopperham di Kedungkeris.

Buku ini ditulis diantara aktivitas Lansia lain bersama Fopperham seperti menyanyi bersama, ngobrol untuk menambah pengetahuan, mengecek tensi, mengukur berat badan, mengetes gula darah, mengecek kolesterol dan asam urat. Serta sembari melakukan senam atau menggerakkan anggota badan untuk senam. Selama itulah di sela-sela waktu, para Lansia atau simbah ini belajar untuk bercerita dan menulis. Jadi buku ini berisi biografi simbah (nenek dan kakek Lansia), cerita tentang kehidupan sehari-hari simbah, serta mengecek kondisi kesehatan mereka.

Para Lansia ini rata-rata berumur lebih dari 70 tahun, mereka ada yang beraktivitas di rumah, namun beberapa masih bekerja. Lansia laki-laki ada yang masih mencari rumput untuk hewannya, sedangkan sejumlah Lansia perempuan yang masih bekerja, rata-rata mereka berjualan nasi rames, bertani di sawah, ada juga Lansia perempuan yang sibuk mengurus suaminya sesama Lansia.

“Setiap hari mbah Kadinem mengurus suaminya yang tiap hari ingin dimasakin sayur pakai santan. Ia merasa pusing karena tidak punya telur dan ayam, namun setiap hari harus memasak dengan santan, ayam dan telur seperti permintaan suaminya,” begitu salah satu kisah yang tertulis dalam buku.

Sedangkan Lansia perempuan lain ada yang menjadi pemijat, membuat tempe untuk dijual dan berjualan di pasar.

Pak Budi adalah laki-laki Lansia berumur 80 tahun. Dulu ia adalah seorang guru yang kemudian menjadi kepala sekolah di Sekolah Nglipar, Gunungkidul. Pak Budi orang yang sangat sibuk di sekolah dan di kegiatan desa. Namun di masa tuanya, ia tak pernah mengeluh walau dengan kegiatan yang sudah jauh berkurang. Kehidupannya menjadi berubah ketika istrinya meninggal dan anak-anaknya sibuk dengan hidupnya masing-masing. Ia menjadi jenuh karena sering sendirian, namun Pak Budi tahu bahwa ia tak boleh merasa sendirian. Maka ia memutuskan untuk tetap semangat menjalani hari tuanya. Pak Budi menjadi salah satu bagian cerita dari para Lansia di desa Kedungkeris.

Lain lagi dengan hidup Mbah Rono. Mbah Rono terserang sakit TBC dan pipi bisul yang lama, ini membuatnya sedih. Namun yang membuatnya lebih sedih lagi ketika cucunya ditangkap polisi karena diduga main judi kartu. Ia selalu minta agar cucunya bisa kembali ke rumah, namun apa daya, cucunya harus menjalani proses hukum di kepolisian.

Ada juga Mbak Pono, usianya udah 85 tahun dan ia sering mengalami sesak nafas. Sehari-hari ia mengandalkan hasil tani dan uang pemberian anaknya untuk hidup. Sejumlah Lansia lain ada yang sakit karena umur yang menua, mbah Sutirah di usianya yang ke-89 tahun berjalan menggunakan tongkat. Mbah Mujiyem, dengan usia 83 tahun sejak jatuh karena diseruduk kambing, kini menjadi tidak bisa berjalan lagi.

Ada juga mbah Mitro yang di usia 70 tahun masih terlihat segar, walau sekarang sudah tidak kuat berjalan jauh lagi. Dulu di masa mudanya, Mbah Mitro bekerja berjualan kelapa, petai, pisang dan daun pisang ke Pasar Wonosari. Biasanya kelapa dipanggul dan harus berjalan sejauh I kilometer. Ada pula mbah Yoso yang di masa tuanya merawat anaknya yang terkena gangguan mental.

Ada juga cerita dari simbah Dasilah yang tertipu dikasih uang palsu, ada juga simbah yang membeli gogek/ katul, namun setelah dimasak di rumah, ternyata gogek itu isinya tanah liat.
Beberapa Lansia lain seperti halnya Lansia secara umum juga mulai mengidap penyakit seperti terkena darah tinggi dan kolesterol, pendengaran berkurang, lambung, tumor, sakit lutut, sulit menggerakkan tangan kanan, sakit gula, jatuh dan harus diplatina, stroke, asma, maag dan terkena asam urat.

Membaca cerita-cerita para Lansia disini kita seperti diajak untuk menyelami kehidupan masa tua orangtua kita, kita juga seperti dihadapkan pada para Lansia yang selalu sibuk, bekerja keras di masa mudanya dan kemudian tidak lagi punya banyak kegiatan di masa tua. Cerita ini seperti membawa kita pada masa-masa, mengingatkan kita pada orangtua kita yang kini hidup di masa tuanya. Walau sakit, tetap riang gembira, selalu penuh harapan. Ini kekuatan tulisan dalam buku “Selangkah Meraih Berkah Ngurusi Simbah.”

Fopperham menuliskan cerita ringan, seolah kita sedang bercengkarama sore bersama para simbah.

Buku ini diterbitkan Fopperham dan Program Pundi Insani Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) dengan didukung Program Peduli. Buku dilaunching pada April 2019 bersamaan dengan acara Gebyar Lansia Peduli di Desa Kedungkeris, Gunungkidul, Yogyakarta.