Secangkir Kopi dari Playa: Kisah Kepedihan Mendalam Dua Anak Manusia dalam Tragedi 65

Secangkir Kopi dari Playa. Sebuah pementasan teater dari teater boneka Papermoon Puppet Theatre karya Maria Tri Sulitsyani dan Iwan Effendi ini begitu menyedot perhatian penonton di ruang pasar seni Indonesia Development Forum (IDF) pada 22 Juli di Senayan, Jakarta.

Ada yang merasakan trenyuh, ada yang merasakan sebuah kedalaman. Juga kepedihan dari sebuah perjalanan percintaan antara 2 manusia. Di pementasan sebelumnya, ada yang memeluk Ria dan menangis, ada yang tersedu-sedan setelah pementasan usai.

Secangkir Kopi dari Playa adalah cerita tentang kisah percintaan Widodo Suwardjo, seorang mahasiswa di Universitas Gajah Mada (UGM) dan kekasihnya.

Setelah lulus kuliah, Widodo harus meninggalkan kekasihnya karena mendapatkan beasiswa sekolah ke Moskow. Selama itulah mereka berjanji untuk saling setia dan akan menikah suatu saat nanti.

Di tahun pertama Widodo sekolah di Moskow, berkirim surat dengan kekasihnya selalu berjalan lancar. Namun tragedi 1965 yang tiba-tiba terjadi kala itu, membuat Widodo tak bisa lagi menerima surat-surat dari kekasihnya. Surat kewarganegaraan Widodo juga dihilangkan karena peristiwa 30 September 1965 itu. Ia tak bisa pulang dan bahkan tak lagi menerima surat-surat atau kabar dari keluarganya. Hari itu seolah hidupnya tak lagi bisa terhubung dengan orang-orang yang disayanginya, keluarga, kekasih, teman.

Widodo tidak tahu harus kemana. Ia kemudian memutuskan untuk melarikan diri ke Kuba. 40 tahun lamanya berada disana, menyelesaikan sekolah S3 dan bekerja disana, tak bisa pulang ke Indonesia. Di dalam pelariannya itu, ia juga berjanji tak mau menikah karena ia memegang janjinya akan selalu setia pada kekasihnya.

Pada masa pemerintahan Presiden Gus Dur, akhirnya Widodo bisa ke Indonesia. Ia mendapatkan visa untuk pulang. Inilah yang membuatnya ingin mencari kekasihnya. Apa yang dilakukan Widodo? Setiap hari hampir 4 bulan lamanya, ia naik angkutan umum dengan trayek yang sama seperti yang dinaikinya dulu, dengan harapan bisa menemukan kekasihnya.

Kisah ini selanjutnya tercium oleh Ria Papermoon. Ia bersama Iwan Effendi kemudian mengangkat cerita ini ke dalam teater boneka Papermoon yang mereka pimpin dengan judul secangkir kopi dari Playa.

“Kisah ini sangat melekat di hati saya dan entah mengapa saya selalu memikirkannya terus. Maka sejak mendengar kisah itu, kami mencari dimana-mana seluk beluk pak Widodo termasuk mencari kehidupan kekasihnya yang kita tidak tahu berada dimana. Maka mulai saat itu saya berjanji bahwa suatu saat saya akan mementaskan cerita ini dalam sebuah pementasan teater,” kata Ria.

Sejak itu Ria mencari tahu siapakah Widodo melalui internet sampai akhirnya menemukan artikel tentang Widodo. Ria kemudian mengiriminya surat dan menyatakan ingin membuat cerita ini dalam naskah teater.

“Saya menyampaikan pada pak Widodo bahwa ini merupakan cerita kemanusiaan tentang 2 anak manusia yang sangat menggetarkan kami. Cerita seperti ini harus disebarkan pada banyak orang agar orang mengetahui bahwa sejarah suram bangsa ini kemudian banyak menyisakan cerita cinta yang kelam.”

Widodo kemudian menyetujuinya. Ria dan tim Papermoon mementaskannya. Pentas ini kemudian menjadi ruang penyebaran informasi bagi yang lain. Selesai pementasan, Ria mengirimkan DVD pementasan kepada Widodo yang merasa trenyuh menerimanya. Ia merasakan haru yang sangat:

“Siapalah saya yang mendapatkan ruang penghargaan seperti ini, begitu kata pak Widodo dalam email yang dikirimkan kepada kami setelah pertunjukan usai,” kata Ria.

Widodo ketika itu hanya menitipkan pada Ria agar Ria bisa mengirimkan DVD itu pada kekasihnya jika Ria menemukannya. Permintaan dari Widodo ini kemudian yang membuat Ria semangat untuk mencarinya.

Pada suatu hari setelah Ria berhasil menemukan kekasih pak Widodo, DVD tersebut kemudian dikirimkannya. Tepat sebelum ulangtahun Papermoon, Ria menerima telpon dari seseorang. Suara perempuan itu tercekat. Penelepon ini adalah kekasih pak Widodo. Kekasihnya ini kemudian mengucapkan terimakasih. Ia saat ini telah menikah dan mempunyai cucu.

Ria merasakan banjir air mata terjadi kala itu. Ia tidak menyangka bahwa kisah percintaan 2 anak manusia yang dipentaskannya kemudian telah ‘mempertemukan’ 2 orang yang selama lebih dari 40 tahun tak bertemu. Pak Widodo dan kekasihnya memang tak bertemu secara langsung, namun sebuah pementasan teater, ternyata bisa menjadi ruang pertemuan bagi masa lalu yang kelam di tengah sejarah suram bangsa ini. Ini yang membuat Ria selalu semangat bahwa teater ternyata bisa menjadi tempat penting untuk mempertemukan banyak orang, berkomunikasi dengan banyak orang dengan beragam cerita.

Jika anda ingat dan pernah menontonnya, Secangkir dari Playa pernah menghiasi film "Ada Apa dengan Cinta 2." Kisah ini yang mengingatkan ayah dari Rangga yang harus pergi dari Indonesia dan diasingkan keluar Indonesia.

Papermoont Puppet Theatre didirikan pada tahun 2009 oleh Ria dan Iwan Effendi yang merupakan pasangan suami istri. Pementasan Ria dan Iwan bersama tim Papermoon sebelumnya juga pernah menampilkan pementasan teater tentang kisah kelam tragedy 65 yang berjudul MWATHIRIKA. Kisah Secangkir Kopi dari Playa menitipkan pesan pada banyak anak muda juga masyarakat umum lainnya, tentang kejadian 65 lalu yang sudah mengasingkan anak manusia, memberikan kepedihan mendalam dari 2 anak manusia. inilah tragedi yang pernah terjadi dan dikisahkan melalui pementasan teater.

Indonesia Development Forum (IDF) sendiri diadakan Kementerian PPN/Bappenas bersama Pemerintah Australia melalui Knowledge Sector Initiative (KSI) pada 22-23 Juli 2019 dimana Program Peduli The Asia Foundation terlibat di dalamnya. Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) mengerjakan program Peduli dalam Pundi Insani untuk pemenuhan HAM dan pemulihan sosial bagi komunitas korban konflik.(Luviana)