Celah, Novel tentang Perjalanan Luka dan Kemenangan dalam Peristiwa 65

"Celah" adalah cerita fiksi tentang perjalanan hidup, tentang kemenangan sekaligus kekecewaan. Novel "Celah" karya penyintas 65 Putu Oka Sukanta menulis cerita tentang hubungan antar manusia yang terus bertarung dalam hidup, bagaimana manusia menemukan tembok penghalang, hal-hal kecil yang bertumbuh namun dideskripsikan dengan pengampunan, kasih sayang.

Galuh Wandita dari AJAR menuliskannya dalam pengantar buku ini. Putu Oka banyak menceritakan luka-luka yang belum pernah disembuhkan yang masih menjadi bagian dari peradaban manusia. Novel yang diterbitkan oleh Lembaga Kreativitas Kemanusiaan (LKK), Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat (Jaker), Asia Justice and Right (AJAR) dengan didukung Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) dan Program Peduli ini bercerita melalui sang tokoh aku atau sang protagonis.

Di awal buku yang diterbitkan pada Juli 2018 ini, diceritakan tentang aku atau si tokoh protagonis yang akan menghadiri acara pertemuan dan akan berpidato tentang 65. Namun pertemuan dan acara tersebut tiba-tiba mengubah hidupnya, dari yang tenteram pada awalnya menjadi penuh cucuran air mata dan darah. Ia tiba-tiba menjadi buronan. Sejak tahun 1966-1976 menjadi tawanan kodim, di penjara di Salemba dan Tangerang. Peristiwa inilah yang melatarbelakangi kehidupan sang protagonis yang kental dalam Celah.

Namun masa lalu yang buruk ini kemudian menjadikannya kuat, selalu berpikir ke depan. Hal yang membuatnya bangga ialah bahwa dia merupakan penyair yang bebas menuliskan kata di langit maupun di awan ketika ia dilarang memiliki pensil dan kertas saat berada di penjara. Menulis baginya adalah melawan proses dehumanisasi , maka ia memberikan judul novel ini: celah. Baginya selalu ada celah yang dilahirkan oleh keterhimpitan, karena celah harus diubah menjadi ruang agar orang lain bisa masuk kedalamnya.

Pada bagian kedua, aku diceritakan mencari seorang wartawan perempuan, namanya Lucia. Ia merupakan wartawan yang mempunyai ruang tersendiri untuk seseorang. Lucia menyukai puisi yang dibuatnya, baginya puisi selalu mempunyai filosofinya tersendiri, sebuah kekuatan.

“Diam-diam saya mencari si pirang perempuan wartawan itu. Tetapi saya tidak menemukannya di seluruh ruangan pertemuan pada hari kedua. Saya memang datang sedikit terlambat. Saya keluar dan menjelajahi seluruh jengkal ruangan. Lucia tidak saya temukan. Saya gelisah. Mengapa saya gelisah? Saya tidak punya alasan yang masuk akal untuk menjelaskan perasaan saya."

Di bagian selanjutnya, aku bertemu bagian yang cukup rumit dalam sebuah hubungan. Ia mengalami perceraian sampai ia harus pindah dari tempat ia bermukim. Bagian lain, ia lalu bertemu dengan dunia baru, dan berkenalan dengan perempuan, seorang perempuan yang mampu memahami apa yang selama ini ia alami dan ia rasakan, tetapi hal itu tidak berlangsung lama. Lalu di bab-bab selanjutnya banyak diceritakan sang protagonis bertemu dengan banyak orang berbeda dan cerita tentang lika-liku hidup pertemuan, perjumpaan dan jalinan cerita.

Buku ini juga banyak berisi puisi-puisi yang menarik yang di selipkan didalam ceritanya, ceritanya padat, mudah di pahami oleh pembaca. Ini adalah cerita 65 yang dibalut dengan cerita kehidupan sehari-hari, perjalanan hidup yang tak mudah.

Aktivis dan penulis, AJ Susmana berkomentar bahwa Celah merupakan novel yang satir, sadis dengan pilihan ungkapan kata yang menusuk, tajam dan tanpa kompromi. Sedangkan sosiolog Ariel Heryanto, Profesor Kajian Indonesia pada Universitas Monash, Australia menulis bahwa Putu Oka Sukanta tak hanya menulis, tetapi juga gencar berbagi kisah dan kesaksian secara personal dan sastrawi. Karena berhasil berdamai dengan masa lalu, ia mampu menyorot secara jernih dan tajam peluang dan tantangan bagi Indonesia di masa mendatang, hal ini semua terpapar dalam novel Celah. (Osi naya)