Mimpi Anak-Anak Indonesia: Jangan Ada Bullying dan Perlakuan beda pada Kami

Anak-anak kelas 1 berharap tidak ada lagi perlakuan yang berbeda terhadap mereka di sekolah. Mereka juga berharap adanya penambahan jumlah taman bermain untuk anak sebagai tempat bermain yang layak. Permintaan ini disuarakan oleh anak-anak di Hari Anak Nasional, yang diadakan Program Peduli dimana Pundi Insani Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) terlibat di dalamnya pada 23 Juli 2019 lalu di Makassar. Perlakuan berbeda artinya tidak membedakan anak dari golongan kaya, miskin, bentuk badan, dll karena semua anak mempunyai keunikan sendiri-sendiri, jadi tak boleh dibeda-bedakan.

Di luar anak kelas 1, ada anak-anak lainnya. Anak-anak kelas 2 berharap mendapat kesempatan yang sama untuk bersekolah meskipun mereka berasal dari kelompok rentan.

Anak-anak lainnya juga menyuarakan tentang banyaknya perkawinan anak di komunitas mereka yang membuat banyak anak putus sekolah. Sedangkan anak-anak dari kelas lain mengungkapkan harapannya seperti:

“Semoga mendapatkan pola asuh orangtua yang baik, tidak ada lagi bullying yang sering menimpa mereka, juga masalah lain seperti banyaknya anak-anak yang menjadi pekerja anak.”

Program Peduli The Asia Foundation (TAF) mengadakan acara Temu Anak PINTAR (Pandu Inklusi Nusantara) ini pada 20 – 23 Juli 2019. Acara yang diadakan di Makassar ini telah mempertemukan anak-anak dari 11 provinsi di Indonesia. Anak-anak tersebut berasal dari kelompok-kelompok rentan yang menjadi sasaran Program Peduli, yaitu kelompok anak dan remaja rentan, kelompok masyarakat adat dan terpencil yang tergantung pada sumber daya alam, kelompok orang dengan disabilitas, kelompok agama yang mengalami diskriminasi, intoleransi dan kekerasan. Acara ini dilakukan untuk mempertemukan anak-anak dari berbagai kelompok untuk dapat saling bertukar pengalaman dan impian tentang bagaimana mewujudkan Indonesia yang ramah anak.

Pada kesempatan ini, anak-anak tidak hanya saling bertukar pengalaman tetapi juga menghasilkan beberapa karya sebagai bagian dari ekspresi pengalaman, perasaan, dan suara harapan mereka. Pertemuan juga mengajak anak untuk berdiskusi tentang desa ramah anak, contoh-contoh keberagaman di sekitar kita, dan isu spesifik anak seperti pernikahan anak, pekerja anak, dan kekerasan terhadap anak. Di kelas-kelas tersebut anak-anak difasilitasi oleh beberapa fasilitator dari executing organization (EO) di Pilar Anak Program Peduli yaitu LPKP Jawa Timur (Lembaga Pengkajian Kemasyarakatan dan Pembangunan), Sekretariat Anak Merdeka Indonesia atau Yayasan Samin, dan Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI).

Fasilitator yang bertugas di masing-masing kelas bertugas untuk membantu peserta anak-anak agar bisa menggali pengalaman dan pandangan mereka tentang permasalahan anak di komunitas mereka. Dari pengalaman-pengalaman tersebut anak-anak diminta untuk menuangkan harapan mereka terhadap penyelesaian permasalahan ke dalam bentuk karya-karya yang berbeda setiap kelasnya.

Presentasi kemudian dilanjutkan dengan acara dialog, hadir dari perwakilan dari kementerian yang terkait dengan isu anak, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dan Pemerintah Kota Makassar, dan juga perwakilan lembaga-lembaga yang bergerak pada isu anak. Di sesi dialog ini, para undangan yang hadir dipersilahkan untuk menanyakan apapun kepada anak-anak peserta Temu Anak PINTAR Program Peduli, mulai dari proses pembuatan karya di masing-masing kelas, pengalaman apa yang mereka rasakan yang menjadi latar belakang hasil karya yang mereka presentasikan, hingga manfaat apa yang mereka rasakan saat mengikuti rangkaian kegiatan di Temu Anak PINTAR ini (Nunu Aziz)