Saya Bertemu Banyak Pengalaman Baru Setelah Mendampingi Para Lansia

Namaku Susanti. Ketika aku mulai tinggal di Gunungkidul, Yogyakarta sekitar 36 tahun lalu aku merasa bahwa hidup disini tak pernah mudah. Ayahku seorang petani miskin, dan Gunungkidul adalah daerah perbukitan berbatu kapur yang hanya bisa ditanami padi setahun sekali ketika musim hujan tiba. Di luar itu, hanya ada tanaman ketela, kacang tanah dan jagung yang bergantian tumbuh.

Kondisi inilah yang membuat adik dan kakak saya kemudian merantau ke kota untuk mencari pekerjaan disana. Saya pernah bekerja selama 6 tahun di restoran makanan di kota Yogya. Namun sejak lulus SMA dan menikah di tahun 2006 lalu, saya memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga dan mengurus anak di rumah. Sejak itu, kegiatan saya sehari-hari adalah mengurus anak dan mengerjakan pekerjaan domestik di rumah.

Sampai suatu ketika Ibu Suprih dan mbak Tini, keduanya merupakan tetangga saya yang selama ini aktif dalam kegiatan Lanjut Usia (Lansia), mengajak saya untuk ikut mengurus Lansia, kegiatannya yaitu mengurus simbah-simbah di desa.

Saya kemudian menjadi relawan di lembaga yang mengurus Lansia yang bernama Forum Pendidikan dan Perjuangan Hak Asasi Manusia (Fopprham). Dari sana saya menjadi semakin tahu mengapa banyak Lansia memutuskan untuk bunuh diri. Hal-hal seperti ini saya dapatkan ketika bertemu dan menjadi relawan di Desa Kedungkeris ini.

Disinilah saya untuk pertamakalinya mengikuti pelatihan dasar hak asasi manusia. Saya menjadi tahu tentang sejarah Desa Kedungkeris dimana pernah terjadi peristiwa kekerasan di tahun 1965/1966, ternyata banyak korban yang berasal di desa ini. Saya kemudian mengunjungi, berbincang dengan mereka yang kini telah menjadi Lansia. Salah satu yang mendorong adalah karena saya merasa kasian dengan kondisi simbah disini. Anak dan cucu mereka berada jauh di perantauan, tidak ada yang mengajak mengobrol, padahal mereka membutuhkan orang-orang yang hidup bersama mereka.

Saya tergabung bersama 57 relawan pendamping Lansia di Desa Kedungkeris yang terdiri dari para ibu dan perempuan muda. Kami bersama-sama melakukan pendampingan bagi para Lansia seperti pemberian gizi pada Lansia, mengunjungi Lansia secara rutin, mengajak para relawan untuk bergabung. Ada sejumlah mahasiswa yang kemudian bergabung menjadi relawan, mereka mempunyai komitmen selangkah berkah mengurus simbah dengan para Lansia.

Setiap selapan atau setiap 35 hari, kami juga mengunjungi simbah-simbah di tiap-tiap dusun yang sudah tidak bisa beraktivitas. Kami mendatangi pertemuan Lansia dan menuliskan kegiatan tersebut dalam sebuah buku harian. Para pendamping Lansia seperti kami mempunyai buku harian tentang catatan pertemuan-pertemuan kami dengan Lansia. Catatan ini sangat penting untuk mengetahui keterlibatan Lansia dan kami gunakan agar pemerintah memberikan perhatian untuk para Lansia. Pemerintah akan mendukung pengorganisasian dan memberikan pendanaan untuk keberlanjutan Lansia di desa-desa.

Dua tahun lalu, tahun 2017 pengorganisasian Lansia ini kemudian diwadahi dengan didirikannya Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) Raharja sebagai media koordinasi di tingkat desa. Saya semakin tertarik untuk mengikuti seluruh proses belajar. Saya yang semula bekerja di rumah sebagai ibu rumah tangga, sejak itu bisa ikut terlibat dalam banyak kegiatan yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya yaitu ikut dalam audiensi-audiensi ke pemerintah. Saya pernah ikut audiensi dengan wakil Bupati Gunung Kidul Bapak Imawan Wahyudi dengan Organisasi Perangkat Daerah di Kabupaten Gunung Kidul. Pertemuan ini sangat berkesan buat saya. Di samping banyak bertemu dengan orang penting, saya juga semakin berani menyampaikan pendapat kepada orang lain. Saya banyak belajar bahwa rakyat kecil seperti saya ini boleh menyampaikan pendapatnya di depan pejabat pemerintah. Kegiatan saya di desa semakian padat.

Pengalaman yang mengesankan buat saya adalah ketika Desa Kedung keris mengadakan acara Gebyar Lansia, pada 25 April 2019. “Gebyar Lansia” ini untuk mempromosikan Desa Kedungkeris sebagai Desa Ramah Lansia di Kabupaten Gunung Kidul. Acara ini dilakukan di Pendopo Desa Kedungkeris, Kecamatan Nglipar, Kabupaten Gunung Kidul. Sejumlah acara yang dilakukan dalam Gebyar Lansia ini antaralain senam Lansia, pemeriksaan kesehatan dan pengobatan gratis, pentas kesenian Lansia dan launching buku relawan tentang kerelawanan pendamping Lansia. Acara ini juga dihadiri oleh Kepala Desa Kedungkeris dan Bupati Gunungkidul. Saya senang bisa terlibat dalam acara tersebut. Semakin bersemangat untuk mengurus simbah-simbah.

Pada akhir Juni 2019 lalu, saya mendapatkan undangan dari Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) untuk mengikuti kegiatan Forum Lansia di Surakarta. Mas Andon dari Foperham mengatakan bahwa saya akan diberi kesempatan untuk sharing tentang pengalaman LKS Raharja. Saya sangat ragu-ragu tapi teman-teman Foperham menyakinkan saya. Saya dibantu menyiapkan bahan untuk presentasi.

Akhirnya, saat itu tiba. Untuk pertama kalinya saya melakukan presentasi di sebuah forum yang besar. Sampai deg-degan, tapi akhirnya bisa saya lalui. Itu adalah pertama kali saya bicara di forum yang sangat besar. Biasanya saya presentasi di tingkat dusun atau desa dengan orang-orang yang banyak saya kenal. Namun di forum Lansia itu saya mempresentasikan kegiatan LKS Raharja di depan orang banyak yang tidak saya kenal. Namun ternyata saya bisa melakukannya.

Dalam presentasi itu, saya cerita tentang kegiatan sehari-hari yang kami lakukan selama ini diantaranya adalah layanan kunjungan atau home visit yakni melakukan kunjungan kepada Lansia penyintas, pemeriksaan kesehatan gratis, pemberian makanan tambahan (PMT) serta kegiatan kesenian untuk Lansia. Ketika ada peserta daerah lain yang bertanya, saya menjawab dengan apa yang telah kami praktekkan dalam melakukan pendampingan kepada Lansia selama ini.

Saya sangat senang bisa hadir di tengah-tengah orang penting dari berbagai daerah dan dari berbagai provinsi, ada perwakilan dari pemerintah dan lembaga-lembaga yang belum saya kenal. Saya senang sekali bisa hadir di forum Lansia kemarin dengan pengalaman yang sangat berkesan dalam hidup saya. Acaranya formal tapi santai. Saya mendapatkan banyak teman, banyak pengetahuan dan pengalaman.

Setelah pulang ke Desa Kedungkeris, saya menjadi semakin bersemangat untuk kembali mengurus simbah-simbah (Lilik HS)

Foto: Susanti (tengah) dalam acara Forum Lansia yang diadakan Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) dan Program Peduli di Surakarta, Jateng 28 Juni 2019