Festival 45-45, Meretas Batas Bersama Anak Muda dan Para Penyintas

Apakah itu Festival 45-45? Festival 45-45 adalah festival yang memaparkan tentang sejarah masa lalu sekaligus mengimanijansikan Indonesia di masa depan. Di acara ini banyak anak-anak muda yang akan bertemu dengan para penyintas, para korban hak asasi manusia yang umurnya sudah semakin menua.

Festival 45-45 diadakan Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa), Koalisi Keadilan dan Pengungkapan Kebenaran (KKPK) dan program Peduli bersama sejumlah lembaga hak asasi manusia pada 29-31 Agustus 2019 di Gedung Cipta Niaga di kawasan kota tua, Jakarta. Acara ini memang ingin mempertemukan lintas generasi, yang tua dan yang muda dalam sebuah ruang pencarian di tengah stagnasi persoalan penuntasan kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) masa lalu.

Forum pertemuan lintas generasi ini bukan hanya sekedar kegiatan dan tidak hanya membahas isu HAM semata, melainkan sebuah ruang untuk melihat masa depan kehidupan berbangsa hingga tahun 2045 sekaligus melihat masa lalu.

Dalam sejarah Indonesia, kasus kekerasan masa lalu menjadi problem Indonesia hingga hari ini, apalagi ketika praktek Impunitas masih terus terjadi.

Direktur Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa), Anik Wusari mengatakan bahwa Festival 45-45 ini ingin mengumpulkan kembali ingatan-ingatan, peristiwa, pengalaman yang berserak dan menghadirkannya kembali dalam bentuk pameran foto-foto, instalasi seni, tuturan pengalaman dan kesaksian, teks-teks sastra hingga bait-bait musik. Forum pertemuan lintas generasi akan menjadi ruang connecting, solution, transformation hub, networking, dan media corner.

“Festival 45-45 ini juga menjadi upaya untuk menegaskan kembali bahwa memorialisasi menjadi penting agar generasi muda mengenali sekaligus mengakui sejumlah peristiwa kelam dan luka sejarah bangsanya sendiri. Dengan mengenali sejarah, mengenali jati diri bangsa, dengan demikian kita akan lebih kokoh berdiri kokoh sebagai sebuah bangsa yang adil dan beradab. Festival ini juga menjadi upaya untuk menegaskan kembali bahwa pentingnya memorialisasi dalam rangka untuk mencegah semakin menguatnya impunitas.”

Selain sebagai ruang pertukaran gagasan, Festival ini akan menjadi ruang kolaborasi untuk menemukan cara-cara kreatif yang lebih sesuai bagi generasi muda untuk perjuangan HAM masa depan. Termasuk ruang apresiasi dan menghargai upaya-upaya yang pernah dilakukan para korban/penyintas serta masyarakat sipil dalam jejak panjang perjuangan HAM.
Untuk itulah festival ini diselenggarakan dengan melibatkan secara luas mungkin berbagai elemen untuk berpartisipasi, seperti lembaga negara, organisasi korban, pekerja seni, organisasi masyarakat sipil hingga generasi muda.

Sejumlah acara yang diadakan di festival 45-45 tanggal 29-31 Agustus 2019 antaralain:

  1. Temu anak muda: "Yang jarang diomongin anak muda."
  2. Pameran dan diskusi sejarah keluarga: Rangga Purbaya
  3. Pojok cerita: "Tanya apapun yang kamu mau tahu?"
  4. Pameran foto "pengalaman inklusi sosial"
  5. Workshop pembuatan kartu pos HAM "kreativitas untuk kemanusiaan"
  6. Praktek baik program Peduli "pembelajaran advokasi hak ekosob"
  7. Temu pelaku budaya
  8. Give back sale Pundi Insani
  9. Festival film
  10. Konser musik menampilkan: Fajar Merah dan Paduan Suara Dialita.
  11. Booth komunitas dan lembaga

Acara ini juga didukung oleh Komnas HAM, Komnas Perempuan dan sejumlah lembaga hak asasi manusia seperti IKOHI, INFID, Elsam, Kontras, Amnesty Internasional, Pamflet, Kemudi, Lakpesdam dan Pamflet.