Forum Belajar, Kegiatan Program dalam Mengembangkan Pengetahuan Tentang Rekonstruksi Berbasis Masyarakat

Kamu masih ingat khan, kira-kira setahun lalu atau tepatnya tanggal 27 September 2018 terjadi bencana tsunami di Kota Palu, Sigi, Donggala, Parigi Mouting dan Poso di Sulawesi Tengah? Bencana tsunami ini mengakibatkan sekitar 4 ribu orang meninggal, 55 ribu rumah hancur dan 18 ribu rusak dan hilang.

Bahkan menurut catatan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) masih banyak daerah yang hingga saat ini belum tersentuh penanganan pasca bencana, seperti di daerah Padagimo di Kabupaten Parigi Mouting. Hingga saat ini juga masih ada sekitar 4 ribu warga disana yang masih tinggal di tenda-tenda pengungsian.

Persoalan lain yang masih terjadi disana yaitu soal relokasi, kekerasan dan pelecehan yang terjadi di pengungsian dan kegiatan ekonomi masyarakat yang tidak berjalan dengan semestinya karena revisi tata ruang pasca bencana yang belum berperspektif kebencanaan. Maka penting untuk mengetahui apa yang dapat dilakukan untuk membangun pondasi model rekonstruksi yang cukup transformatif di masa mendatang sesuai dengan kebutuhan dan karakter kebencanaan di suatu wilayah.

Pencarian model ini dilakukan oleh Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) bersama mitra nya di tingkat local yaitu SKP-HAM dan Institut Mosintuwu sejak Januari 2019. Setelah melalui proses pelatihan bagi para orang muda yang diharapkan menjadi pendamping di desa pada bulan April 2019, pada 16-18 Oktober 2019 IKa kembali melakukan kegiatan lanjutan berupa forum refleksi di Palu, Sulawesi Tengah.

Forum refleksi ini disebut dengan nama forum belajar. Kegiatan untuk membincangkan dan saling membagi pengetahuan, keresahan, capaian dan tantangan yang terjadi di 4 desa yang menjadi lokasi pengembangan model rekonstruksi. Tidak hanya itu, forum ini juga bertujuan untuk memaknai proses perjalanan pencarian model secara bersama antara penggerak yang bekerja mendampingi masyarakat, organisasi pendamping SKP HAM dan Mosintuwu yang sejak awal bencana menyalurkan bantuan ke para korban, IKa sebagai pengelola sumberdaya, tim pengarah dan tim pemakna yang memiliki pengetahuan mendalam tentang demografi dan sejarah sebuah wilayah.

Direktur Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa), Anik Wusari pada pertemuan ini mengatakan bahwa IKa sebagai lembaga sumberdaya akan terus berupaya melakukan perannya untuk mempertemukan berbagai sumberdaya yang ada di masyarakat,“Selain memaknai tentang penanganan bencana, kegiatan ini juga dilakukan untuk mempertajam strategi penanganan kebencanaan agar menghasilkan daya transformatif bagi masyarakat,” ujar Maria Anik Tunjung.