Ziarah Sendu di Makam Korban Rusuh Reformasi

28 Nov 2019

Sumber: Harian Umum Solopos

Supriyono, 40, duduk di antara bangunan makam yang berjajar di Tempat Permakaman Umum (TPU) Purwoloyo, Pucangsawit, Kecamatan Jebres, Solo, Rabu (27/11). Sambil berteduh di bawah pohon, tukang bersih-bersih makam itu mengamati rombongan dari berbagai lembaga pegiat hak asasi manusia (HAM) dan mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo yang sedang berkumpul di dekat sebuah petak kuburan massal korban era reformasi 1998.

Kedatangan rombongan yang sedang melakukan napak tilas jalur reformasi 1998 itu mengingatkannya pada peristiwa 21 tahun silam di tempat tersebut. Saat itu Supriyono melihat 23 jenazah yang sudah terbungkus plastik dikubur bersama-sama dalam satu lubang kuburan berukuran sekitar 2 x 10 meter. “Sore itu sekitar pukul 16.00 WIB, ada mobil ambulans dan beberapa mobil lain datang ke sini. Setelah berhenti, orangorang dari dalam mobil itu turun dan mengeluarkan jenazah-jenazah itu kemudian memasukkannya ke lubang kubur itu kemudian ditimbun dengan tanah,” kenangnya.

Ada banyak tukang bersih kubur lain seperti Supriyono yang ikut menyaksikan peristiwa itu. Salah satunya adalah Warti, 60, warga yang tinggal di sekitar makam. Menurut kesaksiannya, saat itu kondisi jenazah hampir semuanya sudah dalam kondisi rusak dan tidak dapat dikenali. “Tidak ada yang tahu siapa saja mereka itu,” kata Warti.

Hingga sekarang, tidak ada yang tahu pasti identitas 23 jenazah dan dari mana mereka berasal. Namun menurut Warti, ada tiga keluarga yang terkadang datang dan nyekar di kuburan massal tersebut.

“Katanya dari Sangkrah [Solo], Ngruki [Sukoharjo], dan sekitar Kartasura [Sukoharjo],” ungkapnya

Kondisi kuburan massal itu tak terawat. Bahkan ada bagiannya yang jadi tempat pembuangan material bekas pembongkaran bangunan..

Rombongan napak tilas juga berziarah ke makam Gilang, seorang remaja yang hilang pada masa gegeran Reformasi 1998 dan kemudian ditemukan jenazahnya di Gunung Lawu tiga hari kemudian. Ibu Gilang, Budiarti, 63, dan adik ketiga Gilang, Isti Komariyah, 27 juga datang ke acara itu. Tangis pilu Budiarti dan beberapa aktivis HAM pun pecah saat Budiarti menceritakan kenangan tentang anak sulungnya itu.

Salah satu pemrakarsa kegiatan, dosen FISIP UNS, Ahmad Ramdhon, mengatakan napak tilas menjadi bagian kegiatan Melaung HAM. Kegiatan itu diselenggarakan Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) bersama Komnas HAM, Prodi Sosiologi FISP UNS, dan pegiat HAM Selasa-Rabu (26-27/11) yang bertujuan mengenalkan persoalan HAM kepada generasi muda, khususnya mahasiswa.