1965 dan Mereka yang Berani Merawat Ingatan

06 Dec 2019

Sumber: https://tirto.id/emP8

Pekan lalu, tiga hari berturut-turut saya lari pagi keliling kompleks Universitas Sebelas Maret, Solo. Saya menikmati suasana kampus yang akronimnya kerap memicu perdebatan itu. Udara masih segar. Nyaring ocehan burung, rontokan bunga angsana yang berwarna kuning cerah dengan bentuk kelopak seperti lonceng membuat jalanan di dalam kampus seperti di musim gugur.

Ada tiga orang saya jumpai usai lari pagi. Pertama adalah Mbah Karno, 74 tahun. Ia tengah menenteng satu kantung besar berisi dua ratus potong tahu goreng yang hendak dititip ke kios makanan dekat pasar Panggungrejo ketika saya menyapa dan membantu membopong kantung plastiknya. Mbah Karno tersenyum, membenahi letak kerudung yang melorot yang bikin anak-anak rambut putihnya mencuat keluar. Ia bilang, tahun 1960-an ia berdagang batik di Pasar Klewer. Modalnya habis untuk menyekolahkan tujuh anak.

Mendengar ia menyebut tahun 1965, tiba-tiba saya ingat berita tentang pidato Prabowo Subianto yang tengah ramai dibincang: "Dengan demikian ideologi komunis dan gerakan komunisme di Indonesia patut diduga masih tetap eksis!" Teks pidato itu dibacakan oleh Rektor Universitas Pertahanan Letnan Jenderal Tri Legionosuko dalam pembukaan acara bedah buku “PKI Dalang dan Pelaku G30S 1965” di kantor Lembaga Ketahanan Nasional, pada Sabtu, 23 November 2019.

Saya pun tergelitik bertanya pada Mbah Karno,

“Waktu gegeran 1965, Simbah menyaksikan tidak?"

“Waaa.. ya sudah. Saya dengar ada gegeran di desa saya. Lha itu orang-orang dijemputi dari rumahnya. Trus dibuang, ke bengawan itu….”

Saya memungkasi obrolan. Matahari baru saja menyembul keluar, rasanya janggal membahas tema yang begini berat. Kami pun beralih ke tema-tema enteng. Tentang jenis tahu yang cocok untuk dibuat tahu isi dan tahu bacem.

Esoknya, saya bertemu Mbah Wulan, 65 tahun, penjual tengkleng, makanan maknyus khas Solo berbahan baku tulang dan kepala kambing. Ia tengah menguliti empat buah kepala kambing ketika saya lewat. Senyumnya merekah. Saya pun berhenti, membenarkan tali sepatu yang ambyar, lalu membuka percakapan soal cara mengolah tengkleng. Ia sudah berjualan tengkleng sejak 30 tahun lalu. Mulai dari digendong keliling kampung, hingga sekarang sudah punya kios tetap dan pelanggan setia. Mengingat usianya, saya tak tahan untuk bertanya tentang ‘tahun yang tak pernah berakhir’ yang telah mengubah peradaban Indonesia, yakni peristiwa 1965.

“Wah, ya, saya tahu. Waktu itu ada gegeran. Di kali sebelah desa saya banyak yang mayit-mayit mengambang!” ujarnya sambil mengayun pisau, membelah kepala kambing yang telah dikuliti bulu-bulunya. “Itu baunya sampai berbulan-bulan ndak ilang…”

Lagi-lagi saya kemudian menyudahi obrolan. Adegan ia menguliti kepala kambing dan tema tentang 1965 itu bikin ulu hati saya mendadak ngilu.

Esok paginya, saya bertemu dengan Mbah Ahmad, penjual buah dari Jumantono, Karanganyar, sekira 20 km dari kampus UNS. Ia menyerahkan KTP kepada saya ketika saya dengan hati-hati menanyakan umurnya, 77 tahun. Hari itu ia membawa beberapa sisir pisang bawen, mangga manalagi, buah naga dan beberapa butir durian asli Jumantono. Pukul 04.00, anaknya mengantar ke Terminal Karanganyar naik sepeda motor dengan dua keranjang besar di kanan dan kiri. Lalu ia naik bis jurusan terminal Solo dan turun di depan kampus UNS.

“Waktu gegeran 1965, sampai ke Jumantono, ndak, Pak?”

Ia memicingkan matanya sebentar, menatap saya lekat-lekat lalu menjawab agak keras.

Baca selengkapnya di Tirto.id