TENTANG INDONESIA UNTUK KEMANUSIAAN (IKa)

Pada tahun 1995, Yayasan Sosial Indonesia untuk Kemanusiaan (YSIK) didirikan oleh Wilarsa Budiharga, Alm. Fauzi Abdullah dan Zumrotin K. Susilo, yang resah akan isu kemanusiaan dan keadilan di rezim Orde Baru. Saat itu, aktivisme mendukung gerakan kemanusiaan, keadilan dan pro demokrasi tidak bisa dijalankan secara terbuka di atas permukaan karena dianggap ancaman oleh Negara. Mereka pun kemudian menggambarkan keberadaan lembaga ini sebagai silent foundation.

Di tahun 1999, YSIK berperan sebagai Liaison Office bagi sejumlah lembaga donor internasional dalam mengelola ‘microfund’ untuk mendukung inisiatif perubahan oleh masyarakat sipil. Hingga di tahun 2010, sejalan dengan keterbukaan pada era reformasi YSIK kemudian menata diri sebagai lembaga publik dengan sebutan ‘Indonesia untuk Kemanusiaan’ (IKa).

IKa adalah human rights fund pertama di Indonesia. Dalam kerjanya, IKa menggalang, mengelola, dan membagikan sumber daya melalui donasi publik, pengelolaan hibah dari lembaga donor, penanaman modal dalam ekonomi solidaritas, dan pengembangan kemitraan berbasis nilai dalam kerangka tanggung jawab sosial korporasi. Selain itu, IKa juga mengembangkan jaringan, menyebarluaskan pengetahuan serta menggalang semangat kerelawanan.

Selama lebih dari 20 tahun, IKa telah mendukung kurang lebih 815 inisiatif yang dilakukan oleh lebih dari 500 komunitas atau organisasi yang bergerak di Aceh hingga Papua. Selain itu, IKa juga didukung oleh jejaring yang luas, diantaranya Komnas Perempuan, Koalisi untuk Keadilan dan Pengungkapan Kebenaran (KKPK), Konsorsia Salemba Tengah (PT Remdec dan Praxis), dan Konfederasi INSIST. Di tingkat internasional, IKa adalah anggota Foundations for Peace dan mitra dari Global Fund for Women, Urgent Action Fund for Women’s Human Rights, dan Sangat South Asian Feminist Network.