Sumilah, Tentang Perempuan yang Tak Pernah Menyerah

Tentang Give Back Sale
November 26, 2018

Sumilah, Tentang Perempuan yang Tak Pernah Menyerah

Suatu sore, setelah ia selesai menyanyi dan menari di  halaman rumahnya, anak perempuan berumur 14 tahun itu lalu ditangkap dan dipenjarakan selama 14 tahun. Sumilah, anak perempuan itu, tak pernah tahu mengapa ia menjadi buron dan dipenjara dalam usianya yang masih cukup belia. 

Sumilah, dengan tangan dan kaki kecilnya, kedinginan di penjara. Ia ditanya banyak orang, ditanya para penghuni penjara, mengapa ia bisa dipenjara? Apa yang sudah dilakukannya?

“Tidak tahu, hanya menari dan menyanyi, lalu ditangkap dan dipenjara,” kata Sumilah kecil. Ia benar-benar tak tahu bagaimana harus menjawabnya.

Semua yang berada dalam penjara merasa iba, kasian melihat Sumilah kecil tak berdaya.

Sumilah dibawa ke penjara Wiragunan, di tempat itu ia ditahan selama 6 bulan. Selanjutnya ia dipindah ke penjara di Pulau Bulu dan terakhir dibawa ke penjara Plantungan yang merupakan penampungan para penderita penyakit Lepra. 12 tahun lamanya ia mendekam disana.

Saat ditangkap, Sumilah masih kelas 4 Sekolah Dasar yang umurnya saja masih 14 tahun, ia sendiri tidak mengerti politik bahkan tentang Partai Komunis Indonesia (PKI) saja ia tidak pernah mendengarnya. Sama seperti ia tak bisa memahami, sepenting apa yang telah dilakukannya hingga ia dicari-cari, dijemput paksa dan dipenjara?

Selepas dari penjara, Sumilah seperti mengembara. Ia tak tahu apa yang akan dilakukannya. Sumilah lalu mencoba berjualan baju di pasar untuk bertahan hidup. Sampai kemudian ia berjualan sate kambing di pasar Prambanan sampai akhir hidupnya.

Dari jualan itu ingin mendapatkan kesempatan untuk bisa menjajaki kehidupan yang lebih baik, rasanya tidak ada ingin  memilih untuk bisa bertahan hidup dengan stigma buruk di zaman pergolakan politik kala itu, namun Sumilah terus mendapatkan stigma tersebut, dan stigma tersebut mengakar terus sampai ke anak-anaknya.

Setitik Saja tentang Sumilah Adalah Ingatan untuk Anak-Anaknya

Yohanes Bayu Adi adalah anak kedua dari Sumilah. Ia berada di sekitaran panggung bersama adiknya, ikut menonton pertunjukan mengenang ibunya. Yohanes Bayu merasa sedih bercampur haru. Ia tidak membayangkan akan bisa memperingati hari lahir ibunya dengan perayaan pertunjukan teater.

Setiap adegan yang dipentaskan, ia merasa selalu ingat kepada ibunya. Setitik kisah tentang Sumilah, selalu menjadi penanda ingatan sejarah bagi Bayu.

“Terus terang, setahu saya dari lahir, tidak pernah ada ulang tahun untuk ibu. 1 Desember ulang tahun ibu, dengan adanya ini saya jadi ingat ibu,” ungkap Bayu sembari menetaskan air mata tak kuasa mengenang sang ibunya.

Ibu dalam ingatan Bayu tidak pernah mengetahui apa yang terjadi.

“Sebenarnya saya ingin menyampaikan bahwa ibu pernah bicara dengan kami, bahwa ibu  bukanlah orang kriminial, memang dia tahanan politik tapi dia tidak tahu apa-apa, dia masih anak-anak ketika dipenjara,’’ ujar Bayu.

Bayu menuturkan yang menjadi beban berat perihal ibunya bukanlah hanya saat ibunya dipenjara selama 14 tahun. Melainkan legitimasi buruk sebagai tahanan  politik terus membayangi sang Ibu setiap harinya. Masa-masa berat itu adalah sebuah ujian yang tidak mudah bagi seorang tahanan politik untuk bisa kuat menghadapi dinamika kehidupan pasca bebas.

“Sebenarnya beratnya bukan dipenjara, tapi setelah ibu bebas karena dimana pun ibu selalu ada dianggap itu jahat, penjahat, padahal tidak. Ibu selalu bilang, ya sudahlah orang bilang apa, biarkan saja orang lain menghina, kita ditampar pipi kanan, kita kasih saja pipi kiri. Yang penting kita selalu berbuat baik,’’ katanya mengenang pernyataan ibunya.

Sosok Ibu begitu berharga baginya, lambat laut nasehat ibunya mulai mendapatkan hasil. Di suatu hari, ada perempuan lain yang bernama Sumilah mendatangi mereka. Orang memanggil perempuan itu dengan sebutan bunda Sumilah. Bunda Sumilah aktif di sebuah organisasi politik kala itu.

Pada bunda Sumilah ketika bertemu inilah, Bayu menjadi semakin mengerti bahwa ibunya merupakan korban salah tangkap. Yang seharusnya ditangkap adalah bunda Sumilah, bukan Sumilah ibunya.  Dari sana Bayu menjadi yakin soal tragedi salah tangkap itu.

Teater Selamatan Anak Cucu Sumilah

Di panggung itu terdapat dua alat pembakar sate, dua orang perempuan terlihat sedang membakar sate di “Warung Sate Kambing, Gule Tongseng Bu Milah.” Semuanya ada di pojok-pojok panggung.

Kegiatan berjualan sate ini sama seperti kegiatan para penjual di pasar-pasar tradisional, orang-orang datang mendekat dan menunggu makanan selesai dimasak, atau membicarakan sesuatu yang sedang ramai dibicarakan.

Pembicaraan di warung sate Ibu Sumilah ini menyinggung perihal Minke, sosok yang ditulis oleh sastrawan Pramoedya Ananta Toer dalam novel “Rumah Kaca” yang dinarasikan dalam kehidupan Sumilah.

“Begini mas Tuan Pangeman, setahu saya mas Minke pada akhirnya meninggal dunia tidak lama setelah pulang dari pengasingannya. Kalau boleh tahu bagaimana ceritanya kok mas Minke bisa meninggal dunia secepat itu?,” kata Kipper II yang diperankan oleh Svetlana.

Kisah  Minke merupakan adegan set ketiga dari tiga set yang dipentaskan dalam teater yang berjudul “Selamatan Anak Cucu Sumilah”. Teater yang diadakan oleh Teater Selasar, Teater Tamara atau Kipper, Studio Malya, Teater Gajah Mada yang didukung oleh IKa (Indonesia untuk Kemanusiaan), Fopperham dan program Peduli ini dilaksanakan di Selasar Fisipol Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta, Jumat 30 November 2018 lalu.

Setting ini mencoba mengurai kisah  kematian Minke yang mengkaitkan dengan perjuangan Sumilah.

Pementasan tersebut kemudian berupaya memperingati perjuangan hidup Sumilah yang diberi judul ”Selamatkan Anak Cucu Sumilah”. Pertunjukan yang dirancang sebagai pertunjukan interaktif dengan desain panggung panoptikon sebagai ide utamanya. Sebuah menara pengawas diletakkan di tengah panggung selama pertunjukan berlangsung. Dari pertunjukan ini disusun sebuah peristwa yang dimulai dari pengolahan masakan daging kambing dan pembacaan nukilan novel “ Rumah Kaca”  karya Pramoedya Ananta Toer yang kelindannya dengan narasi perjuangan hidup Sumilah.

Penulis dan sutradara teater, Irfanuddien Ghozali menyatakan bahwa peristiwa kekerasan 65 memang telah melahirkan banyak tokoh yang kemudian menjadi rujukan. Tokoh-tokoh itu menjadi ikon ketika isu genosida diangkat. Pertunjukan ini mencoba melihat isu dari kacamata penyintas 65 yang bukan ‘siapa-siapa,’ dari anak kecil yang tidak tahu apa-apa.

“Pertunjukan ini melihat tragedi politik 65 dan pasca tragedi politik karena ingin melihat Sumilah bertahan hidup dengan berjualan sate kambing sampai akhir hidupnya.”

(Foto: anak-anak Sumilah)

(Referensi: tulisan Abdus Somad/ Narasi tentang Ruang Hidup yang Terus Hidup)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *