Workshop Pundi Budaya: Seni Sebagai Ruang Berekspresi dan Keberagaman

Mari kita ke Craft Day
September 8, 2018

Workshop Pundi Budaya: Seni Sebagai Ruang Berekspresi dan Keberagaman

Workshop Pundi Budaya Ika (Indonesia untuk Kemanusiaan) dan Koalisi Seni Indonesia (KSI)

Bagaimana perjalanan seni diantara isu demokratisasi dan keberagaman? Aquion W. Hayunta dari Koalisi Seni Indonesia (KSI) mengawalinya dengan memaparkan fakta-fakta tentang rezim otoriter di Indonesia yang mengontrol ekpresi seni.

Sensor pernah dilakukan dalam film-film, budaya Tionghoa yang tidak boleh ditampilkan, pembacaan puisi dan teater, bahkan dulu untuk memuat komik Mahabarata, R.A. Kosasih pencipta komik ini harus melaporkan ke polisi agar mendapatkan izin pemuatan. Padahal seni adalah ekpresi yang bisa digunakan sebagai alat untuk menyebarkan pendidikan dan mengubah masyarakat.

Hal lain, adanya budaya yang menyeragamkan ekspresi, seperti: tidak boleh berambut panjang bagi laki-laki karena dinilai tidak lazim, semua orang harus menggunakan seragam untuk membunuh cara berpikir yang berbeda.

Maka penting saat ini untuk mendukung para pekerja seni yang berbicara tentang persoaalan sosial melalui ekpresi seninya.

“Kita harus mendukung pegiat seni yang berbicara tentang hak asasi dan isu sosial melalui karya-karyanya, dan pegiat seni yang bekerja bersama kelompok masyarakat dalam mengembangkan kesadaran hak melalui kegiatan berkesenian untuk tujuan perubahan sosial.”

Bersama seniman Naomi Srikandi dan Ihsan Ali Fauzi dari Pusat Studi Agama dan Demokrasi (PUSAD) Universitas Paramadina, Aquino memaparkan hal ini dalam workshop Pundi Budaya yang diadakan IKa (Indonesia untuk Kemanusiaan) dan KSI. Workshop ini diikuti oleh 34 pegiat seni di Jakarta, Tangerang dan Jawa Barat pada 12 September 2018 di Jakarta.

Ihsan Ali Fauzi memaparkan tentang konflik komunal pasca reformasi yang berimbas pada kondisi demokratisasi dan keberagaman di Indonesia. Konflik kekerasan komunal di Indonesia terjadi di beberapa wilayah, seperti konflik keagamaan yang terus terjadi. Ada konflik antar agama, pembangunan rumah ibadah, anti Ahmadiyah dan anti syiah.

Hal ini juga dibarengi dengan menguatnya konflik sehari-hari, upaya untuk menghasut, mempolitisasi agama atas kasus Perda Syariah terorisme, Pemilu dan sejumlah Pilkada yang menyebarkan ujaran kebencian.

Seni seperti dikatakan Naomi Srikandi bisa menjadi ruang untuk mengekspresikan sesuatu, untuk berdialog dan memahami pendapat orang, menjadi diri sendiri dan dalam melihat orang lain.

“Seni bisa menjadi pertukaran nilai agar semua pihak bisa berdialog secara rileks sambil saling berargumen dan berpendapat,” ujar Naomi Srikandi.

Naomi mencontohkan sejumlah kegiatan seni dimana bisa menjadi ruang untuk berdialog, hal ini misalnya pernah dilakukan di Yogyakarta dalam kegiatan 100% Yogyakarta. Ini merupakan kegiatan jajak pendapat yang dilakukan di panggung bersama 100 orang aktor masyarakat yang mewakili 100% populasi. Lalu mereka diminta untuk berpidato di atas panggung terhadap persoalan yang menimpa masyarakat Yogyakarta.

Di luar itu, ada komunitas Tanoker di Jember yang menginisiasi pembentukan komunitas untuk menyelesaikan persoalan sosial di Ledokombo, Jember dimana masyarakatnya banyak yang putus sekolah, pengangguran, banyak yang menjadi buruh migran dan tereksploitase dan kecanduan obat serta terkena HIV/AIDS. Mereka kemudian memainkan musik, bermain teater dan olahraga egrang untuk bertemu dan sebagai sarana saling berpendapat.

Dalam workshop ini, 34 peserta kemudian juga bercerita soal kegiatan seni yang akan mereka lakukan nanti. Inggrid Silitonga, koordinator Pundi Budaya IKa menyatakan bahwa program ini memang mengajak para pekerja dan pegiat seni untuk membuat kegiatan yang melibatkan masyarakat dan komunitas di tengah situasi demokrasi dan perjuangan keberagaman di Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *