

Selamat Tahun Baru. Terima kasih untuk anda yang sudah mendukung kami.
Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) adalah Organisasi Sumber Daya Masyarakat Sipil (OSMS) yang didirikan pada tahun 1995. Lahir dari pemikiran para tokoh HAM dan demokrasi di Indonesia, IKa hadir sebagai jembatan sumber daya untuk memperkuat gerakan kemanusiaan di tingkat tapak. IKa berkomitmen pada nilai-nilai keadilan sosial melalui beberapa peran, salah satunya yaitu mendukung penyintas/korban pelanggaran HAM.
Beberapa tahun belakangan, kepedulian pada korban terutama yang telah mencapai lanjut usia, diwujudkan IKa melalui kerja-kerja penggalangan dan penyaluran dana di saat hari besar yang di Indonesia umumnya dirayakan secara nasional dan membawa kegembiraan. Untuk itu Desember, sebagai momen merayakan Natal dipilih untuk menjadi simbol perhatian bagi mereka yang mengalami kekerasan dan diskriminasi. Penyaluran dana bagi lansia korban, kami maknai sebagai upaya merawat ingatan dan momen apresiasi terhadap mereka yang telah memperjuangkan martabat dan kemanusiaan. Pada tahun ini kami memilih wilayah Indonesia Timur sebagai lokasi pendistribusian bingkisan Natal “Si Mbah” dengan total donasi Rp7.290.000,- . Dana ini disalurkan melalui program Pundi Insani IKa.
Pemilihan Timur Indonesia karena wilayah ini belum pernah memperoleh dana hibah Pundi Insani dalam bentuk bingkisan Natal, juga karena wilayah Timur Indonesia sebagian besar warganya merayakan Natal.
Berikut adalah kesaksian dari para penerima hibah Natal Pundi Insani IKa.
Mama Dominika (73), seorang petani perempuan lansia yang saat ini tinggal bersama suami dan seorang cucu. Anak-anak merantau, cari hidup di luar. Untuk menopang kehidupan keluarga, di usianya yang sudah tua, ia masih aktif kerja di kebun. Sebagai petani, selain mengalami ketidakpastian musim tanam akibat perubahan iklim, mereka juga merasa kesulitan untuk mendapatkan pupuk, ”kami setengah mati mendapatkan pupuk.”
Begitu pula dengan Bapak Adrianus (75). Pada Januari 2025, rumah dan tanamannya rata dengan tanah akibat penggusuran paksa. Namun, Bapak Adrianus memilih tetap bertahan di lokasi konflik. Baginya, tanah tersebut bukan sekadar tempat tinggal, melainkan simbol martabat yang harus dijaga.
Mereka berdua adalah lansia yang walau telah menjadi korban kekerasan dan pelanggaran HAM tapi terus bertahan dan bahkan menjadi teladan kehidupan. Sementara negara masih mengabaikan kesejahteraan mereka.
Untuk memastikan bahwa amanah para donatur sampai ke tangan yang tepat, IKa berkolaborasi dengan mitra di lokal yang dikenal memiliki konsistensi dalam mendampingi warga yang sedang berjuang mempertahankan haknya atas keadilan dan kebenaran. Kolaborasi ini terjalin dengan PBH Nusra yang sering memberi bantuan hukum pada komunitas yang teraniaya dan terampas hak hidupnya dan JPIT (Jaringan Perempuan Indonesia Timur) di Kupang- Nusa Tenggara Timur yang setia mengawal hak-hak perempuan dan lansia rentan.

JPIT (Jaringan Perempuan Indonesia Timur )
Melalui jaringan ini, dukungan tersalurkan secara spesifik sesuai kebutuhan di masing-masing wilayah. Sebanyak 25 lansia yang didampingi PBH Nusra (terdiri dari 17 perempuan dan 8 laki-laki) menerima bantuan kebutuhan pokok berupa beras, kopi, gula, teh, dan minyak goreng. Sementara itu, bagi 22 penerima manfaat di bawah naungan JPIT, bantuan difokuskan pada kesehatan dan sanitasi, seperti balsem, obat alergi, minyak urut, pampers dewasa, serta paket sembako. Perhatian detail terhadap kebutuhan ini menjadi bukti nyata bahwa solidaritas kita hadir untuk menyentuh sisi paling personal dari kehidupan mereka.

Sentuhan yang Memulihkan
Dukungan yang terkumpul melalui penggalangan dana “Si Mbah” ini akhirnya tersalurkan sebagai wujud solidaritas nyata. Bagi para penerima, bingkisan ini bukan sekadar bantuan logistik, melainkan pesan bahwa mereka tidak dilupakan dan tidak berjuang sendirian. Bahwa masih banyak di luar sana masyarakat yang mengingat dan ingin membersamai mereka.
Bapak Adrianus mengungkapkan rasa harunya dengan penuh syukur:
”ini kenangan, sebagai bukti bahwa hubungan dengan IKa tetap ada. Selama ini hilang kabar, tetapi hari ini datang kembali dan kami diberi bingkisan Natal. Kami senang, terima kasih Indonesia untuk Kemanusian” semoga berjumpa di lain waktu – Bapak Adrianus PBH Nusra
Bagi Mama Dominika dan Bapak Adrianus, perhatian ini adalah penghormatan atas keberanian mereka menjaga kehidupan di pelosok negeri. Terima kasih telah menjadi bagian dari perjalanan kemanusiaan ini.
