
Hari Raya Idul Fitri selalu menjadi momen istimewa untuk menebar kasih sayang dan kepedulian kepada sesama. Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa), melalui Pundi Insani sebuah platform penggalangan dana untuk pemulihan dan pemberdayaan korban pelanggaran hak asasi manusia (HAM), melaksanakan program Bingkisan Hari Raya untuk Si Mbah.
Program ini merupakan bentuk penghormatan dan dukungan kepada para lansia, khususnya mereka yang merupakan penyintas atau bagian dari keluarga penyintas pelanggaran HAM masa lalu. Selama hidupnya mereka mengalami stigma, diskriminasi dan disingkirkan dari masyarakat
Bingkisan Idul Fitri ini disalurkan melalui jaringan komunitas akar rumput IKa yang tersebar di empat wilayah, yaitu di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), Sumatera, Jawa, dan Sulawesi. Komunitas-komunitas ini merupakan jejaring yang selama ini secara konsisten mendampingi para lansia korban pelanggaran HAM di wilayahnya masing-masing.
Dengan semangat sukarela dan kepedulian yang tinggi, para anggota komunitas mendatangi para lansia dari pintu ke pintu, bahkan menelusuri pelosok dan wilayah terpencil demi memastikan bingkisan sampai kepada mereka yang membutuhkan. Cara distribusi ini tidak hanya menunjukkan komitmen komunitas terhadap kemanusiaan, tetapi juga memastikan bahwa tidak ada lansia penyintas yang terlewatkan atau dilupakan.
Jawa: “Diuwongke”, Merasa Dihargai dan Diakui
Di Provinsi Jawa, IKa bekerja sama dengan organisasi korban di tingkat lokal yang merupakan wadah perjuangan korban yang mendorong penyelesaian pelanggaran HAM berat masa lalu melalui mekanisme rekonsiliasi.
Puluhan lansia penyintas di kota ini, mayoritas hidup sendiri dan bergantung pada orang lain. Menerima bingkisan lebaran ini bagi mereka bukan sekadar bentuk materi, melainkan simbol perhatian yang membuat mereka merasa “diuwongke” atau dihargai dan diakui keberadaannya sebagai manusia.
Ibu MG (82), lansia yang bertahan hidup dan tinggal sendiri di rumah kecil di pojok pekarangan, wajahnya menunjukkan sinar kebahagian bantuan diberikan. Dirinya berharap uang ini bisa digunakan untuk menambah pembelian lauk dan naik becak jika beliau akan pergi ke Puskesmas dan ke Gereja. Bapak SK (79), dengan sabar merawat istrinya yang mengalami gangguan jiwa sambil bertani seadanya, “Terimakasih sekali, karena bantuan ini bisa sedikit meringankan beban saya. Bisa meringankan pembelian kebutuhan sehari-hari. Tapi yang lebih dari uang, dengan bantuan ini saya merasa ‘diuwongke’ dan dihargai” menjadi pengingat akan kehidupan yang rapuh namun tetap penuh rasa syukur yang mendalam.
NAD: “Melawan Rintangan, Menemukan Harapan”
Di NAD, IKa bermitra dengan sebuah organisasi lokal yang fokus pada pemberdayaan perempuan dan anak serta perlindungan hak asasi manusia.
Distribusi bingkisan di wilayah ini menghadapi tantangan berat seperti jalan berlubang, tanah longsor, hingga hujan deras yang mengguyur tanpa henti. Namun, semangat para pendamping tak pernah surut. Mereka melintasi medan yang sulit demi menyampaikan bingkisan kepada para lansia yang menunggu dengan penuh harap.
Sambutan haru dan ucapan terima kasih yang tulus dari para penerima menunjukkan betapa dalam arti perhatian itu. Mereka merasa tidak lagi dilupakan, bahwa ada tangan-tangan peduli yang tetap mengingat dan memperhatikan mereka, meskipun dari kejauhan.
Sulawesi: Ibu CT dan Simbol Harapan
Di Provinsi Sulawesi, IKa bekerja sama dengan organisasi lokal yang aktif dalam mendampingi kelompok rentan, terdiskriminasi dan miskin di wilayah nya.
Salah satu lansia penerima bingkisan Ibu CT (75), tinggal di rumah sederhana dan selama ini tak pernah menerima bantuan apa pun, Ibu CT merasa sangat terharu dan bahkan tak percaya ketika menerima bingkisan lebaran. Baginya, bantuan ini bukan sekadar memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi lebih dari itu: ia adalah simbol bahwa dirinya masih diingat, masih ada yang peduli, dan bahwa hidupnya meskipun sunyi dan berat tidak sepenuhnya terabaikan.
Sumatera: Komitmen Pribadi yang Tak Pernah Luntur
Di Sumatera, IKa bekerja sama dengan Bapak YF dalam melakukan distribusi bingkisan. Bapak YN adalah seorang relawan individu yang juga merupakan anak dari korban pelanggaran HAM. Dengan tekad dan komitmen pribadi, beliau menyalurkan bantuan kepada para penyintas yang tersebar di banyak lokasi.
Pak YF tidak hanya hadir sebagai relawan, tapi juga sebagai bagian dari keluarga korban yang memahami betul luka dan beban sejarah yang masih membayangi para penyintas hingga hari ini.
*Tulisan dan kisah dari para pendamping komunitas di empat wilayah ini mengungkapkan kehidupan para lansia penyintas yang selama ini jarang terlihat oleh publik. Mereka bukan sekadar lansia biasa, mereka adalah saksi bisu masa kelam yang masih menyisakan luka hingga kini.
Melalui bingkisan sederhana, Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) dan jejaringnya tidak hanya berbagi bantuan, tetapi juga menyampaikan pesan yang lebih besar: bahwa mereka tidak sendiri. Bahwa mereka masih dianggap ada. Bahwa kasih sayang dan solidaritas kemanusiaan tetap hidup dan terus berjalan, bahkan dari generasi yang tidak pernah mengalami langsung masa kelam itu.
Bagi IKa dan para korban, dukungan yang berasal dari banyak pihak bahkan dari internasional yang menandakan bahwa nyala kemanusiaan masih hidup dan ini yang menjadi harapan para korban agar suatu saat keadilan dapat menghampiri mereka.
