Cerita Perubahan: Upaya Perempuan Kobher Merawat Tanah dan Keluarga

Dengan dukungan  Indonesia untuk Kemanusiaan melalui hibah Pundi Hijau, Perempuan Kobher di Desa Matanair, Kecamatan Rubaru, Sumenep, Madura, berhasil menginkorporasikan Green Islam menjadi potensi pemberdayaan ekonomi melalui pengelolaan sampah.

Di Desa Matanair, Sumenep, sampah bukan lagi sekadar masalah lingkungan, melainkan peluang. Komunitas Perempuan Kobher hadir sebagai penggerak yang mengubah sisa rumah tangga menjadi produk bernilai ekonomi.

Sadar akan ancaman krisis sampah, kelompok perempuan produktif ini mengambil inisiatif untuk mandiri. Mereka membuktikan bahwa dengan kreativitas, kepedulian terhadap bumi bisa berjalan beriringan dengan pemberdayaan ekonomi keluarga. Bagi mereka, menjaga lingkungan adalah investasi masa depan yang nyata.

Diprakarsai oleh Raudlatun Odax, para ibu di Matanair mulai bergabung dalam sebuah kompolan atau perkumpulan informal. Asal nama ‘Kobher’ berasal dari maqolah atau kata-kata mutiara dalam bahasa Arab, yaitu  “Man Jadda Wajada” yang artinya ‘Barang siapa yang bersungguh-sungguh dalam melakukan sesuatu pasti akan berhasil‘. Selain itu, ‘Kobher’ juga berasal dari Bahasa Madura yang memiliki makna ‘sempat’ dan ‘semangat’. 

Penamaan komunitas yang bersumber dan integrasi antara budaya lokal Madura dan ajaran agama Islam ini menandakan adanya kesetaraan dari keduanya sebagai acuan pedoman komunitas. 

Komunitas Perempuan Kobher mengintegrasikan ajaran agama Islam, menjadi tindakan konkret dalam agenda pelestarian lingkungan (Green Islam) yang dampaknya berkelanjutan secara ekonomi. Aksi Perempuan Kobher dimulai dari isu lingkungan di sekitar mereka. 

“Sejak lima taon terakhir, di sini makin panas, Mbak. Kalau siang, rasanya seperti dipanggang,” keluh seorang anggota Perempuan Kobher. Hawa panas ini diperparah oleh banyaknya titik-titik pembuangan sampah. Di pinggir-pinggir jalan, tegalan, di lahan-lahan kosong, sungai-sungai, bahkan di lapangan/ tanah terbuka. Selain itu, perubahan juga terjadi di atas meja makan. Pangan lokal penopang hidup seperti jagung, singkong, dan kaburen atau ubi hutan, perlahan tergantikan oleh budaya konsumsi instan mie instan, seblak, sosis, dan nugget. Pergeseran ini membawa konsekuensi pahit: angka stunting yang mengkhawatirkan dan munculnya berbagai penyakit seperti asam urat, kolesterol, darah tinggi, hingga gangguan ginjal dan jantung pada usia produktif. 

Pelestarian lingkungan awalnya merupakan bonus dari agenda awal Komunitas Perempuan Kobher, yakni pemberdayaan ekonomi perempuan. Mulai dari pemetaan masalah, yaitu pemetaan masalah lingkungan, masyarakat sadar akan menumpuknya sampah kemasan, juga dari banyaknya tanaman sekitar yang terbuang atau hanya menjadi ‘hiasan’, komunitas kemudian menyimpulkan potensi dari menanam untuk menanam empon-empon, atau memanfaatkan tanaman lokal sebagai bahan baku jamu.

Titik balik perjalanan mereka terjadi pada tahun 2023, ketika Perempuan Kobher menjadi salah satu pemrakarsa Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa). Kolaborasi ini, didukung melalui hibah Pundi Hijau, membuka cakrawala baru. Keberanian yang telah mereka pupuk saat membahas isu sosial yang pelik menjadi fondasi kuat untuk menghadapi tantangan yang lebih luas: krisis ekologis. Para ibu mulai menyadari sebuah kebenaran mendasar, bahwa kesehatan keluarga tidak dapat dipisahkan dari kesehatan tanah yang mereka pijak. 

Dengan semangat baru, para perempuan ini mulai mengubah masalah menjadi solusi dengan tangan mereka sendiri. Sisa sayur dan buah di dapur mereka sulap menjadi kompos penyubur tanah. Air cucian beras, yang biasa terbuang, mereka olah menjadi pupuk cair inovatif yang dikenal sebagai Jakaba (Jamur Keberuntungan Abadi), sebuah langkah nyata untuk meninggalkan ketergantungan pada pupuk kimia. 

Kreativitas mereka tak berhenti di situ. Daun kelor, atau maronggi, superfood lokal yang melimpah namun sebelumnya dianggap sebagai “sayuran tersier” yang hanya layak untuk sayur bening, mereka kreasikan menjadi produk unik bernilai jual seperti steak kelor. Mereka juga meracik kembali jamu warisan leluhur, racek saebuh, untuk meningkatkan kesehatan sekaligus pendapatan. Inovasi ini terbukti berhasil; dalam sebuah perjalanan ke Jogja, Raudlatun Odax berhasil menjual produk mereka dan meraih pendapatan “tiga sampai empat ratusan” ribu rupiah, sebuah bukti nyata dari kemandirian ekonomi yang mulai bersemi.

Perjalanan Perempuan Kobher dengan IKa tidak berhenti hingga masa pemanfaatan hibah. Memasuki awal tahun 2025, Perempuan Kobher berpartisipasi dalam lokakarya aplikasi INCLINE lanjutan. Melalui lokakarya ini, mereka melakukan pemetaan lokasi rawan bencana seperti banjir dan kekeringan, serta mendata warga yang mengalami gizi buruk atau minim fasilitas sanitasi. Hingga kini, pemanfaatan data tersebut telah mencapai 60% dan sangat membantu pemerintah Desa Matanair dalam menyusun rencana pembangunan yang lebih terarah, ramah lingkungan, dan peka gender. Didampingi oleh Ning Palupi, mereka juga mengikuti proses JEDA untuk mendokumentasikan setiap langkah gerakan agar lebih terukur dan dapat memberikan inspirasi bagi khalayak luas.

Kisah Perempuan Kobher adalah panen harapan yang terus bertumbuh. Usaha mereka telah menciptakan efek domino yang luar biasa: para perempuan kini memiliki kemandirian ekonomi, komunitas secara bertahap merangkul gaya hidup berkelanjutan, dan produk-produk inovatif mereka bahkan telah diakui secara resmi oleh Sekretaris Desa, Moh Suryadi Hasan, sebagai “produk unggulan desa”. Perjalanan mereka menjadi contoh nyata dari semangat ekososiopreneurship – sebuah perpaduan kuat antara kesadaran ekologis, pemberdayaan sosial, dan daya cipta wirausaha. Jauh di Desa Matanair, semangat ‘Kobher’ yang lahir dari sebuah perkumpulan sederhana telah menjelma menjadi benih perubahan yang subur, menyebarkan inspirasi dan membuktikan bahwa dari bumi Madura, harapan dapat tumbuh dan mekar dengan gagah. 

Kini, mereka tidak berhenti pada pemberdayaan ekonomi, tetapi melangkah lebih jauh dengan visi besar sebagai gerakan ekososiopreneurship sebuah kewirausahaan sosial yang berlandaskan kepedulian terhadap ekologi. Dari dapur dan pekarangan di Desa Matanair, Perempuan Kobher telah menyalakan api harapan, membuktikan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah-langkah kecil yang konsisten, berakar pada kepedulian, dan didorong oleh semangat kebersamaan.

Artikel ini disusun berdasarkan laporan narasi Perempuan Kobher, juga dokumen JEDA oleh Ning Palupi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Selalu dapatkan kabar terbaru dari kami!