Turning Pain into Power: Menjadi Penggerak Sosial Berdaya

Di tengah berbagai masalah sosial, ekonomi, dan lingkungan yang semakin kompleks, kebutuhan akan penggerak sosial menjadi semakin penting. Namun, para penggerak komunitas sering kali sibuk membantu orang lain tanpa ruang untuk berhenti dan merefleksikan diri. Karena itu, Indonesia untuk Kemanusiaan mengadakan workshop bertajuk “Fasilitator Menjadi Berdaya untuk Transformasi Sosial”. Workshop yang dilaksanakan di Kekini:Ruang Bersama ini hadir sebagai ruang pembelajaran bersama. Di sini, para peserta diajak untuk mengeksplorasi pengalaman dan cara  pandang sebagai sumber daya dalam diri mereka.

Proses ini melalui tahapan yang unik, yaitu unlearning, imagining, dan becoming. Tahap unlearning melihat ke dalam diri masing-masing peserta cara pandang dan pemahaman tentang diri sendiri yang bertujuan membangun kesadaran, rasa aman, serta koneksi antara pikiran dan tubuh. Tahap imagining mengajak para peserta untuk mempertanyakan berbagai kemungkinan dan potensi dalam gerakan sosial. Terakhir, becoming  adalah suatu kesadaran untuk merawat suatu gerakan berkelanjutan dalam skala komunitas maupun individu. 

Workshop ini dimulai dengan proses perkenalan yang unik: masing-masing peserta membawa benda yang merepresentasikan dirinya. Berbagai benda muncul, dari buku kosong untuk belajar, kipas angin yang nyaring tapi menyejukkan, hingga minyak kayu putih yang hangat. Para peserta juga diminta untuk menuliskan harapan dan kekhawatiran mereka selama sesi workshop. Walaupun kekhawatiran seperti tantangan implementasi dan keterbatasan waktu muncul, kesempatan untuk memperoleh perspektif baru dan membangun jejaring justru menumbuhkan harapan para peserta. 

Peserta diajak melakukan sesi grounding dengan memperhatikan napas dan menjawab pertanyaan “What’s moving inside me?” Banyak pengalaman yang dibagikan, seperti bagaimana melambatkan diri membantu beberapa peserta mengenali emosi, kelelahan, dan harapan yang sudah lama terabaikan. Diskusi pun berkembang untuk membahas pentingnya presence atau kehadiran penuh dalam fasilitasi; kehadiran tidak hanya soal berada di ruangan yang sama, tetapi juga memberikan perhatian yang utuh kepada orang lain.

Sesi River of Life mengajak kita untuk mundur sejenak dengan meminta peserta menggambarkan alasan dan perjalanan mereka sebagai penggerak sosial. Berbagai kata muncul, di antaranya: cinta, kesadaran, kepedulian, feminisme, dan kebermanfaatan. Beberapa peserta juga menyadari bahwa kesulitan, ketidakadilan, dan rasa sakit justru menjadi sumber motivasi mereka alasan untuk terus bertahan. Dalam sesi ini, muncul refleksi penting: bagaimana pengalaman personal tadi dapat diubah menjadi energi kolektif untuk menciptakan perubahan. Satu gagasan yang muncul adalah “turning pain into power,” atau mengubah rasa sakit menjadi kekuatan. 

Walaupun begitu, tidak bisa dipungkiri bahwa banyak aktivis mengalami  mental block yang disebabkan oleh trauma jika tidak dikelola, risiko terjebak dalam stres dan kelelahan akan meningkat. Banyak peserta menekankan pentingnya merawat tubuh, emosi, dan spiritualitas dalam pekerjaan mereka. Beberapa peserta menyoroti bahwa banyak penggerak yang berfokus pada perubahan sosial tanpa mempedulikan kesejahteraan diri. Muncul ide tentang pentingnya circle of care, atau bagaimana komunitas harus menjaga dan mendukung satu sama lain. Selain itu, peserta juga menekankan pentingnya kecerdasan intelektual dan emosional dalam menghadapi dunia yang kompleks; kesadaran, belas kasih, dan mindfulness merupakan keterampilan penting bagi penggerak sosial. 

Selama tiga hari, workshop ini menegaskan bahwa perubahan sosial tidak hanya bergantung pada strategi, program, atau sumber daya material; perubahan yang berkelanjutan dapat dimulai dari kemampuan individu untuk memahami dirinya dan membangun relasi yang sehat dengan orang-orang dan komunitas di sekitarnya. 

Dengan mengenali sumber daya dalam diri, para penggerak sosial dapat menjalankan perannya secara lebih reflektif, berkesadaran, dan berdaya. Perjalanan menuju perubahan sosial ternyata juga merupakan perjalanan untuk mengenal diri sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *