Mengakar

Pada fase ini, IKa mulai menggalang dana dari publik dalam negeri dan menguatkan akarnya. Peluang muncul pada tahun 2002 saat Komnas Perempuan membutuhkan mitra yang dapat mengelola arus sumbangan masyarakat untuk mendukung perempuan korban kekerasan dalam mengakses keadilan dan pemulihan. Lahirlah Pundi Perempuan yang dihidupi sepenuhnya oleh sumbangan publik selama dua dekade. 

Pola menggalang dukungan dana dan kerelawanan secara bertahap diterapkan untuk tiga pundi lain: Pundi Insani, Pundi Budaya dan Pundi Hijau. Upaya IKa menggalang dana publik mengandalkan energi kolektif para pembela kemanusiaan yang tergabung sebagai relawan dalam Komunitas Pemberdaya. 

Sumbangan publik dimungkinkan karena konteks politik dan ekonomi Indonesia telah berubah. Seiring dengan menguatnya ekonomi nasional dan membesarnya kelas menengah, publik semakin peka dan tanggap atas masalah-masalah sosial yang dihadapi masyarakat. Saat praktik corporate social responsibility semakin meluas di dunia swasta, IKa mulai memperoleh dukungan dari perusahaan, khususnya untuk Pundi Perempuan. 

Pada fase ini, IKa merasa perlu untuk menegaskan identitasnya sebagai lembaga sumber daya yang punya kekhasan cara kerja. Semakin jelas bagi IKa bahwa yang dimaksud dengan ‘sumber daya’ tidak sebatas dana saja tetapi juga pengetahuan, jejaring dan kerelawanan yang saling menopang dan menguatkan (Catur Daya).

IKa juga mengembangkan cara baru dalam memahami kiprah mitra-mitra penerima hibahnya, yang kemudia disebut pemrakarsa, yaitu melalui pendekatan Pemaknaan yang mengutamakan proses dialog secara reflektif dan strategis antar sesama pembela kemanusiaan. Kesemua ini membentuk otentisitas IKa sebagai lembaga sumber daya serta menegaskan keberakarannya dalam ekonomi nasional dan gerakan sosial.

Selalu dapatkan kabar terbaru dari kami!