Sejarah
Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) pada awalnya bernama Yayasan Sosial Indonesia untuk Kemanusiaan (YSIK). Lembaga ini didirikan pada tahun 1995 oleh tiga aktivis kemanusiaan, Wilarsa Budiharga (1951-2022), Zoemrotin KS dan Fauzi Abdullah (1949-2009), untuk mendukung pergerakan para pembela kemanusiaan dan keadilan serta aktivis pro-demokrasi pada saat rezim Orde Baru bersifat refresif. Saat itu, aktivisme semacam ini tidak bisa dijalankan secara terbuka di atas permukaan – karena dianggap ancaman oleh Negara – sehingga para pendiri IKa pun menggambarkan keberadaan YSIK sebagai sebuah lembaga yang memposisikan diri sebagai ‘silent foundation’.
Ketiga pendiri ini menyebut IKa sebagai lembaga sumber daya karenanya IKa sebagai lembaga tidak pernah terlepas dari gerakan-gerakan yang didukungnya. Secara pribadi, ketiga aktivis ini juga tak pernah berhenti memainkan peran kepemimpinan dalam berbagai ruang perjuangan.
Tahun 2010, nama IKa diperkenalkan menggantikan YSIK untuk memberi identitas yang lebih kuat dan terbuka sebagai sebuah lembaga sumber daya (tidak saja merupakan nama lembaga akan tetapi juga menyiratkan makna sebuah gerakan). Namun secara hukum, nama Yayasan Sosial Indonesia untuk Kemanusiaan tetap menjadi nama resmi yang tercatat pada Akta Notaris dan terdaftar dalam Kementrian Hukum dan HAM.
Untuk menjaga relevansi peran dalam arus gerakan sosial di Indonesia, IKa melakukan berbagai langkah strategis, terutama yang berhubungan dengan cara-cara kerja organisasi, seperti;
- memberi makna lebih luas bagi sumber daya, yang tidak hanya terbatas pada dana, tapi juga pengetahuan, jejaring dan kerelawanan sehingga kami sebut sebagai Catur Daya;
- membangun ekosistem kolaboratif dengan semangat solidaritas dalam mengelola sumber daya melalui Komunitas Pemberdaya;
- mengembangkan pendekatan partisipatif dan reflektif dalam menjalan peran Galang Daya, Bagi Daya dan Bangun Keswadayaan;
- mengelola sumber daya berdasarkan ranah juang melalui empat pundi, yaitu Pundi Insani, Pundi Perempuan, Pundi Hijau dan Pundi Budaya;
- mengubah logo lembaga, dimana dalam logo baru tidak ada garis-garis yang lurus karena IKa selalu berusaha menjaga kelenturannya. Sosok penyemai benih yang sekaligus penabur pupuk adalah representasi dari keberadaan IKa untuk mendukung tumbuh-kembang inisiatif perubahan oleh para mitra yang bekerja langsung di masyarakat/komunitas. Empat benih melambangkan Catur Daya yang dikelola IKa, sementara warna terang mencerminkan semangat dan keberanian.
Tranformasi Logo IKa

Logo Lama IKa

Logo IKa Baru
