
Pada fase ini, IKa membuat upaya khusus dengan niat membangun keswadayaan bagi dirinya dan gerakan sosial di akar rumput. Masyarakat sipil sedang semakin menyempit ruang geraknya, sementara ketergantungan organisasi-organisasinya pada lembaga-lembaga donor internasional sangat tinggi. Sejumlah organisasi nyaris tidak bisa bertahan dalam kondisi ini. Menemukan jalan untuk berdikari dan merawat kedaulatan menjadi urgensi tersendiri.
Ternyata keresahan dan niat serupa hidup di berbagai belahan dunia. IKa menjadi bagian dari sebuah gerakan yang menggugat ketimpangan relasi kuasa antara lembaga donor internasional dan organisasi-organisasi lokal penerima hibahnya. Gerakan ini disebut #ShiftThePower dan membuka ruang dialog dan advokasi, termasuk dalam konteks dekolonisasi bantuan internasional.
Untuk melangkah maju, IKa merasa perlu adanya cara pandang dan imajinasi baru tentang basis sumber daya bagi gerakan sosial, terutama di akar rumput. Dengan sejumlah mitra lokal, IKa menggagas proses bersama untuk menemukenali aset yang tersedia dan berpotensi dikembangkan di komunitas masing-masing (Akar Daya). Dari sini, IKa membuka dialog dengan jejaring yang lebih luas dan beragam untuk membangun sebuah kontrak sosial yang dapat mempersatukan sumber daya dalam arti Catur Daya demi terciptanya keswadayaan masyarakat sipil dari kekuatan dan pertukaran antar kita.
IKa meyakini bahwa basis sumber daya bagi gerakan sosial sejatinya bisa tumbuh dalam sebuah ekonomi berbasis solidaritas. Imajinasi tentang keswadayaan bukan sekedar soal menggalang sumbangan karitatif dari publik ataupun dari bantuan donor-donor kaya, melainkan menyangkut upaya yang seksama untuk ikut mengembangkan sistem ekonomi yang berbeda, yang saling menghidupi, dan memastikan keberlanjutan gerakan sosial menjadi bagian integral darinya. IKa percaya di sini adalah ruang tumbuh yang niscaya, mendesak dan menjanjikan.
