Ngulik Budaya, Mendiskusikan Keberlanjutan Batik Tulis dan Pengrajinnya

Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) melalui Pundi Budaya mempersembahkan “Ngulik Budaya: Batik Tulis sebagai Bentuk Keberagaman, Kelestarian, dan Kearifan Lokal”, sebuah diskusi budaya yang diadakan pada Jumat (14/4) silam. Diskusi ini dirancang oleh Humaira Sentosa, Prysafella Deviena, dan Tariska Salsabila, tiga mahasiswa Universitas Indonesia yang sedang melakukan praktikum di IKa. Ngulik Budaya dilaksanakan secara daring via Zoom dan menghadirkan Kwan Hwie Liong (William Kwan), Direktur Institut Pluralisme Indonesia (IPI) sekaligus pemerhati batik.

Dalam beberapa tahun terakhir, muncul pembaharuan fokus untuk melestarikan batik tulis sebagai salah satu identitas budaya Indonesia. “Ngulik Budaya” hadir sebagai respon atas pergulatan batik tulis untuk tetap relevan hari ini. Pasalnya, batik tulis kini harus bersaing dengan tren fast fashion dan tuntutan industri akan metode produksi yang lebih cepat dan murah. William Kwan pun mengeksplorasi pelestarian batik tulis sebagai refleksi keberagaman dan signifikansinya dalam budaya Indonesia, khususnya di era modern ini.

William menjelaskan bahwa setiap daerah di Indonesia memiliki gaya batik yang unik, mencerminkan budaya lokal, sejarah, dan lingkungan alam. Penggunaan batik tidak terbatas pada pakaian, karena juga digunakan untuk berbagai keperluan, seperti dekorasi hingga ritual keagamaan. Motif batik dapat bervariasi dari desain geometris sederhana hingga adegan naratif yang kompleks, masing-masing dengan simbolisme dan maknanya sendiri.

Kesejahteraan pengrajin batik tulis memiliki kaitan yang erat dengan pelestarian batik tulis sebagai warisan budaya.  Para pengrajin mewarisi tradisi dalam membuat desain batik dari para leluhur mereka. Mata pencaharian mereka pun bergantung pada kemampuan untuk terus mempraktekkan kerajinan ini. Munculnya tekstil yang diproduksi secara massal menjadi tantangan lainnya bagi para pengrajin batik tulis.  Karenanya, keberlanjutan komunitas pengrajin batik tulis turut menjadi sorotan dalam diskusi budaya ini.

Namun, William menuturkan realitanya adalah kebanyakan pembatik tulis hanya menerima upah di angka puluhan ribu rupiah saja setiap bulannya. Ini tentu tak sebanding jika melihat bagaimana para pembatik tulis adalah pahlawan budaya yang berperan penting dalam melestarikan warisan budaya Indonesia.

William melihat bahwa salah satu alasan minimnya upah pembatik tulis karena kurangnya riset untuk memahami permintaan dan ketertarikan pasar di mana batik tulis dikembangkan. “Selama ini pembuatan batik dan pengupahan di level lokal kurang dikaitkan dengan pasar besarnya, entah itu di Indonesia atau di luar negeri. Misalnya negara Swedia, di sana orang suka apa, motif apa. Kalau bisa pahami itu, maka kita bisa punya value yang tinggi,” tuturnya.

Lebih jauh lagi, William meneropong situasi kecilnya upah pembatik tulis dapat berdampak pada ketertarikan orang muda untuk menjadi generasi baru pembatik tulis. Karenanya, pemerintah perlu membuat upaya pemetaan daerah potensial sebagai pasar batik tulis dan memelajari preferensi dan tuntutan pasar di daerah tersebut. Dari situ bisa dibuatkan perencanaan untuk membuat pengembangan batik yang dapat menggerakkan orang muda agar terlibat di dalamnya.

Mendorong upaya menumbuhkan ketertarikan akan batik tulis pun bisa dimulai walau pemerintah belum pasang kuda-kuda. Salah satunya adalah dengan memanfaatkan kegemaran orang muda masa kini untuk mengikuti workshop – khususnya di wilayah urban. Penyelenggara workshop dapat mengadakan kelas membatik tulis. Dengan demikian, orang muda tak hanya menyalurkan keinginan mereka untuk mencoba hal baru tapi juga berpartisipasi pada pelestarian budaya. Nantinya, ketika rasa cinta orang muda akan batik tulis sudah mengakar, mentransformasi kesukaan tersebut menjadi sumber penghaasilan pun jadi lebih terbuka. “Harapannya batik ini bisa menjadi salah satu sumber penghasilan anak muda,” kata William.

IKa sebagai organisasi sumber daya masyarakat sipil mendukung keberlanjutan para pengrajin batik tulis dan pegiat pelestariannya. Diskusi budaya ini sekaligus adalah ajakan untuk berdonasi melalui Pundi Budaya, sebuah program mobilisasi sumber daya IKa yang didedikasikan untuk mendukung seniman, aktivis, dan pembela budaya dan keberagaman.

“Khusus di IKa sendiri kita ada program Pundi Budaya sehingga harapannya melalui kegiatan yang proaktif bisa mendorong pelestarian batik maupun pelestarian budaya Indonesia yang lainnya. Harapannya, di IKa kita akan mengembangkan komunitas pemberdaya, termasuk di dalamnya di bidang batik ini,” papar William.

Membatik bukan hanya sebagai bentuk kesenian; ini juga merupakan cerminan keragaman budaya Indonesia. Selain menjaga keberlanjutan para pengrajin batik, pelestarian batik juga untuk memastikan generasi mendatang masih dapat menyaksikan keindahan batik dan keragaman budaya Indonesia masih terus dirayakan.

Ketoprak Pagebluk dan Penggambaran Ketakutan di Masa Pandemi

Wabah Covid-19 adalah hal yang menakutkan untuk masyarakat Indonesia. Kasus pertama virus ini ditemukan dua bulan lalu di Indonesia, dan saat ini sudah lebih dari 12 juta yang terinfeksi. Ketakutan ini sama persis dengan apa yang yang dirasakan oleh korban Tragedi 65 pada saat pembantaian pasca Gerakan 30 September.

“Tahun ’65 mereka terbuang di penjara, di pulau buru, kalau sekarang mereka diasingkan jauh dari keluarga, ditolak jenazahnya dan diberi stigma buruk karena berpenyakit. Jadi persamaan tragedi ’65 dengan pandemik corona ini yang kita angkat dan pentaskan.“Ucap Winarso, Koordinator Ketoprak Srawung Bersama (KSB).

Pagebluk yang disutradarai oleh St. Wiyono berangkat dari ide cerita Winarso. ST Wiyono sendiri adalah seorang seniman dan penulis naskah teater yang telah mengabdi selama 32 tahun di Taman Budaya Surakarta. Dalam berkarya, ia selalu menekankan pada tiga aspek yakni edukasi, kultural dan rekreasi. Sejumlah karya ST Wiyono yaitu Medio 1980-1990 cukup disegani di tingkat nasional. Naskahnya yang berjudul Dua Matahari, Ranggalawe dan Gendhuk Gotri juga pernah masuk tiga besar festival teater tingkat nasional.

Pemain dari Ketoprak Pagebluk ini terdiri dari gabungan seniman tradisional dan seniman modern, anak cucu korban, dan anak muda yang umumnya adalah mahasiswa UNS dan ISI Solo, serta dilengkapi pertunjukan karawitan dari Lumbini dkk. Ketoprak Pagebluk hadir dengan dukungan dari Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) dan Program Peduli.

Program Peduli adalah sebuah program pengentasan kemiskinan yang menggunakan pendekatan pembangunan inklusif untuk memastikan kelompok masyarakat marginal yang tidak terjangkau juga dapat terlibat dan mendapat manfaat dari pembangunan. Program Peduli bekerja dengan dan untuk orang-orang terpinggirkan di seluruh Indonesia untuk mendukung mereka mengakses layanan publik, keadilan dan peluang ekonomi.

Sedianya ketoprak akan pentas dengan mengadaptasi cerita Pramoedya Ananta Toer yang berjudul Mangir pada 28 Maret secara langsung. Namun, karena pandemi Covid-19, Sekber 65 berdiskusi dengan seniman ketoprak, untuk merespons situasi ini. Akhirnya mereka memutuskan untuk ikut memberi edukasi tentang pandemi. jadilah akhirnya ketoprak melakukan pementasan Pagebluk yang dilaksanakan secara streaming, agar bisa disaksikan lebih banyak orang, dengan tema disesuaikan yakni Covid-19.

Pagebluk bercerita tentang sebuah Kadipaten Selogumito yang terkena wabah Covid-19. Awalnya sang Adipati kebingungan dalam merespon wabah tersebut, namun setelah diskusi panjang dengan dua orang kepercayaannya, Adipati memutuskan untuk mengeluarkan kebijakan lockdown, yang ternyata merupakan akronim dari:

L : Lungguh ayem ning omah (duduk tentram di rumah)

O : Ora usah keluyuran (tidak boleh keluar rumah jika tidak sangat penting)

C : Cukup ngasohi (harus banyak istirahat)

K : Kumpul karo keluarga (berkumpul dan berbahagia bersama keluarga)

D : Dipepe awake (berjemur di bawah sinar matahari)

O : Olahraga secukupe (olahraga secukupnya)

W : Wisuh karo sabun (cuci tangan pakai sabun)

N : Ngerungo seng akeh (diam yang banyak)

Keputusan ini tidak hadir dari ruang kosong. Awalnya Adimas Senopati, sebagai petinggi Kadipaten, merasa Adipati perlu mengeluarkan kebijakan tegas kepada rakyat agar Covid-19 tidak tersebar. Ia mendorong kebijakan penangkapan warga yang tetap keluar dari rumah tanpa mempedulikan hak asasi masyarakat. Namun, berkat perenungan salah satu mantap prajurit Kadipaten yang merasa bersalah telah melakukan tindak kekerasan yang bahkan menimbulkan darah pada 55 tahun sebelumnya, akhirnya Adipati mengeluarkan kebijakan yang fokus untuk menangkap wabah dengan tetap memperhatikan hak asasi masyarakat.

Mengangkat Cerita Pelanggaran HAM dengan Budaya

Hingga hari ini, membahas pelanggaran HAM berat yang terjadi di Indonesia perlu pendekatan menarik agar bisa diterima masyarakat. Salah satu pendekatan yang bisa digunakan adalah pendekatan budaya dan kesenian. Kesenian tradisional dan kesenian modern memang membahas isu sosial, tapi masih kurang dalam menyinggung soal pelanggaran HAM berat. Penerimaan pelaku seni juga berbeda-beda, bahkan ada yang belum menerima.Winarso bercerita, awalnya pelaku seni tradisional dan modern di Solo sempat menolak untuk mengangkat isu pelanggaran HAM Berat.

Setelah banyak berdiskusi dan melakukan pendekatan personal, banyak pelaku seni yang setuju untuk mengangkat isu pelanggaran HAM berat. Selain itu, para pelaku seni juga dipertemukan dengan korban dan anak cucunya supaya bisa mendapatkan pemahaman yang utuh mengenai apa yang dialami korban dan anak cucunya. Setelah berproses, mulai banyak pihak yang terlibat dalam berbagai pementasan yang dilakukan KSB, seperti mahasiswa dan dosen UNS Surakarta dan ISI Solo.

Ketoprak Pagebluk mendapatkan apresiasi yang cukup baik dari masyarakat luas. Hal ini dikarenakan ketoprak yang merupakan kesenian tradisional, tidak hanya menghibur, tapi juga mampu memberikan edukasi terhadap masyarakat terkait pandemi Covid-19 dan pelanggaran HAM berat yang terjadi di Indonesia. Bahkan, Walikota Solo memberikan apresiasi langsung melalui pesan singkat WhatsApp dan berharap pementasan Pagebluk bisa dilaksanakan di Balai Kota.

Ketoprak Pagebluk adalah satu langkah baik yang bisa dikembangkan lebih jauh oleh semua pihak untuk memberikan edukasi ke masyarakat mengenai kasus pelanggaran HAM berat di Indonesia. Kita semua perlu mengingat dan belajar dari masa lalu agar berbagai tragedi di Indonesia tidak kembali terulang “Dengan kesenian kita bisa memberikan edukasi masyarakat tanpa terasa sedang menggurui. Kesenian adalah medium yang sangat ampuh untuk bisa diterima masyarakat dengan hati senang.” Tutup Winarso

Selalu dapatkan kabar terbaru dari kami!