Menggugah Sejarah Lewat Ruang Budaya

“Sejarah ditulis oleh pemenang.” Kita sering mendengar kalimat itu sebagai klise, namun kenyataannya jauh lebih kelam. Penulisan ‘sejarah resmi’ negara bekerja seperti mesin penghapus, secara sistematis melenyapkan fakta-fakta yang dianggap terlalu mengganggu terutama jejak-jejak pelanggaran Hak Asasi Manusia. Dikhawatirkan narasi “resmi” bersifat reduktif dan menghapus kompleksitas pengalaman mereka yang terlibat di dalamnya.

Pundi Insani, sebagai wadah penggalangan dana Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa), berkomitmen pada pemulihan korban HAM melalui prinsip keadilan sosial dan kesetaraan gender. Sejalan dengan misi tersebut, melalui sebuah pertemuan yang digelar di Hotel Ibis, Raden Saleh Jakarta pada akhir tahun lalu, sebuah inisiatif kolektif yang melibatkan penyintas, aktivis, seniman, dan akademisi berkumpul untuk menantang hegemoni ini.

Diskusi dipantik oleh Kamala Chandrakirana (Indonesia untuk Kemanusiaan), Melani Budianta (Akademisi), Lian Gogali (Institut Mosintuwu), Nia Dinata, KontraS, Syarikat Yogyakarta, Taman 65, dan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Kegiatan ini juga menjadi ruang temu bagi berbagai komunitas dan perintis kemanusiaan dari berbagai daerah, di antaranya Pelintas Aceh, PK2TL (Lampung), DIALITA, Sekber 65 Solo, Layar Kumendung (Banyuwangi), SKPHAM SulTeng, PBH Nusra, serta kehadiran sastrawan Putu Oka Sukanta, penari Wangi Indriya, musisi Lani Frau, dan aktivis Hardingga, serta Ibu Sanu dan Wulan dari Jakarta. Melalui rangkaian kegiatan Bincang Budaya, kebudayaan menjadi sarana merebut kembali ingatan kolektif yang selama ini terdistorsi oleh kepentingan politik.

Salah satu pembelajaran dalam kegiatan ini adalah peran vital anak muda yang tidak lagi sekadar menjadi penonton pasif sejarah. Implementasi nyata keterlibatan anak muda terlihat jelas di Solo melalui Ketoprak Saung Bersama Sekber 65. Di sana, mahasiswa terlibat menjadi penonton juga aktor yang melakukan rekontekstualisasi sejarah secara informal dan cair. Dengan menggunakan media tradisional Ketoprak yang dikemas secara kontemporer, sejarah yang berat menjadi lebih mudah diterima oleh generasinya sendiri. Pendekatan ini meruntuhkan dinding kaku antara masa lalu dan masa kini, membuktikan bahwa sejarah adalah milik mereka yang berani menceritakannya kembali. Di era digital, anak muda memanfaatkan media sosial untuk meresonansikan narasi sejarah melalui karya seni, mengundang keterlibatan audiens yang lebih luas.

Strategi kebudayaan ini juga menyentuh akar rumput di berbagai daerah. Di Institut Mosintuwu (Palu, Sulawesi Tengah), “rumah belajar” menjadi tempat bagi generasi muda untuk mendengarkan tutur para sesepuh, sementara di Paguyuban Keluarga Korban Talangsari Lampung (PK2TL), keterlibatan perempuan muda dalam kesenian Kuda Lumping menjadi simbol perlawanan terhadap stigma daerah. Di PBH Nusra Maumere, keterlibatan keluarga dan anak-anak muda dalam Ritus Tanah menunjukkan bahwa rekonsiliasi adalah proses lintas generasi. Mereka belajar bahwa mengakui kesalahan masa lalu bukan berarti memperlemah bangsa, melainkan langkah pertama untuk memohon pemulihan bersama.

Pembelajaran dari Bincang Budaya menggeser paradigma: memorialisasi secara individual menuju praktik relasional. Kita mulai memahami bahwa mendengarkan orang lain dengan rasa hormat memberikan lensa lain untuk melihat realitas kita sendiri. Akademisi Michi Saagiig Nishnaabeg, Simpson (2021: 6)[1], menekankan bahwa dalam bercerita sebagai sebuah “praktik mengontraksikan dan melepaskan suara di berbagai skala” (individu, kolektif, hingga sistemik) pada akhirnya “budaya mendengarkan” adalah hal yang paling krusial. Sejarah, dengan demikian, dikembalikan menjadi sebuah commoning sumber daya milik bersama yang harus dirawat dengan penuh ketelitian.


[1] Simpson LB (2016) Indigenous resurgence and co-resistance. Critical Ethnic Studies 2(2): 19–34.

Pada akhirnya,kita sadar posisi kita di dunia. Seperti yang ditulis oleh Fenske dan Norkunas (2017)[1], keadilan transisional berarti belajar untuk menjadi “hanya satu aktor dalam dunia yang saling terjalin, alih-alih menjadi makhluk dominan dalam hierarki yang berpusat pada manusia.” Bagi anak muda, ini adalah ajakan untuk berhenti menonton dan mulai merawat. Anak muda diajak untuk memahami bahwa sejarah adalah sebuah commoning sumber daya milik bersama yang harus dirawat. Dengan mendengarkan cerita-cerita yang dipinggirkan, mereka menjaga agar kemanusiaan kita tidak lagi ditimpa narasi tunggal penguasa.

Sebagai langkah konkret, Bincang Budaya menyepakati tindak lanjut jangka pendek berupa pembentukan ruang komunikasi bersama dan sebuah tim kolektif. Tim yang berfungsi sebagai “aktivator dan provokator” ini akan menjadi mesin penggerak utama dalam menjaga ritme gerakan, sekaligus mengoordinasikan agenda kunjungan pembelajaran antar komunitas. Melalui proses musyawarah mufakat, para peserta telah menetapkan anggota tim yang terdiri dari perwakilan setiap daerah serta dua perwakilan dari Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa), guna memastikan keberlanjutan sinergi ini di masa depan.


[1] Fenske M, Norkunas M (2017) Experiencing the more-than-human world. Narrative Culture 4(2): 105–110.

Solidaritas untuk Lansia Penyintas 

Selamat Tahun Baru. Terima kasih untuk anda yang sudah mendukung kami.

Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) adalah Organisasi Sumber Daya Masyarakat Sipil (OSMS) yang didirikan pada tahun 1995. Lahir dari pemikiran para tokoh HAM dan demokrasi di Indonesia, IKa hadir sebagai jembatan sumber daya untuk memperkuat gerakan kemanusiaan di tingkat tapak. IKa berkomitmen pada nilai-nilai keadilan sosial melalui beberapa peran, salah satunya yaitu mendukung penyintas/korban pelanggaran HAM.

Beberapa tahun belakangan, kepedulian pada korban terutama yang telah mencapai lanjut usia, diwujudkan IKa melalui kerja-kerja penggalangan dan penyaluran dana di saat hari besar yang di Indonesia umumnya dirayakan secara nasional dan membawa kegembiraan. Untuk itu Desember, sebagai momen merayakan Natal dipilih untuk menjadi simbol perhatian bagi mereka yang mengalami kekerasan dan diskriminasi. Penyaluran dana bagi lansia korban, kami maknai sebagai upaya merawat ingatan dan momen apresiasi terhadap mereka yang telah memperjuangkan martabat dan kemanusiaan. Pada tahun ini kami memilih wilayah Indonesia Timur sebagai lokasi pendistribusian bingkisan Natal “Si Mbah” dengan total donasi Rp7.290.000,- . Dana ini disalurkan melalui program Pundi Insani IKa.

Pemilihan Timur Indonesia karena wilayah ini belum pernah memperoleh dana hibah Pundi Insani dalam bentuk bingkisan Natal, juga karena wilayah Timur Indonesia sebagian besar warganya merayakan Natal.

Berikut adalah kesaksian dari para penerima hibah Natal Pundi Insani IKa.

Mama Dominika (73), seorang petani perempuan lansia yang saat ini tinggal bersama suami dan seorang cucu. Anak-anak merantau, cari hidup di luar. Untuk menopang kehidupan keluarga, di usianya yang sudah tua, ia masih aktif kerja di kebun. Sebagai petani, selain mengalami ketidakpastian musim tanam akibat perubahan iklim, mereka juga merasa kesulitan untuk mendapatkan pupuk, ”kami setengah mati mendapatkan pupuk.”

Begitu pula dengan Bapak Adrianus (75). Pada Januari 2025, rumah dan tanamannya rata dengan tanah akibat penggusuran paksa. Namun, Bapak Adrianus memilih tetap bertahan di lokasi konflik. Baginya, tanah tersebut bukan sekadar tempat tinggal, melainkan simbol martabat yang harus dijaga.

Mereka berdua adalah lansia yang walau telah menjadi korban kekerasan dan pelanggaran HAM tapi terus bertahan dan bahkan menjadi teladan kehidupan. Sementara negara masih mengabaikan kesejahteraan mereka.

Untuk memastikan bahwa amanah para donatur sampai ke tangan yang tepat, IKa berkolaborasi dengan mitra di lokal yang dikenal memiliki konsistensi dalam mendampingi warga yang sedang berjuang mempertahankan haknya atas keadilan dan kebenaran.  Kolaborasi ini terjalin dengan PBH Nusra yang sering memberi bantuan hukum pada komunitas yang teraniaya dan terampas hak hidupnya dan JPIT (Jaringan Perempuan Indonesia Timur) di Kupang- Nusa Tenggara Timur yang setia mengawal hak-hak perempuan dan lansia rentan.

JPIT (Jaringan Perempuan Indonesia Timur )

Melalui jaringan ini, dukungan tersalurkan secara spesifik sesuai kebutuhan di masing-masing wilayah. Sebanyak 25 lansia yang didampingi PBH Nusra (terdiri dari 17 perempuan dan 8 laki-laki) menerima bantuan kebutuhan pokok berupa beras, kopi, gula, teh, dan minyak goreng. Sementara itu, bagi 22 penerima manfaat di bawah naungan JPIT, bantuan difokuskan pada kesehatan dan sanitasi, seperti balsem, obat alergi, minyak urut, pampers dewasa, serta paket sembako. Perhatian detail terhadap kebutuhan ini menjadi bukti nyata bahwa solidaritas kita hadir untuk menyentuh sisi paling personal dari kehidupan mereka.

Sentuhan yang Memulihkan

Dukungan yang terkumpul melalui penggalangan dana “Si Mbah” ini akhirnya tersalurkan sebagai wujud solidaritas nyata. Bagi para penerima, bingkisan ini bukan sekadar bantuan logistik, melainkan pesan bahwa mereka tidak dilupakan dan tidak berjuang sendirian. Bahwa masih banyak di luar sana masyarakat yang mengingat dan ingin membersamai mereka.

Bapak Adrianus mengungkapkan rasa harunya dengan penuh syukur:

”ini kenangan, sebagai bukti bahwa hubungan dengan IKa tetap ada. Selama ini hilang kabar, tetapi hari ini datang kembali dan kami diberi bingkisan Natal. Kami senang, terima kasih Indonesia untuk Kemanusian” semoga berjumpa di lain waktu – Bapak Adrianus PBH Nusra

Bagi Mama Dominika dan Bapak Adrianus, perhatian ini adalah penghormatan atas keberanian mereka menjaga kehidupan di pelosok negeri. Terima kasih telah menjadi bagian dari perjalanan kemanusiaan ini.

Solidarity for Elderly Survivors

Happy New Year. Thank you to everyone who continues to support our work.

Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) is a civil society resource organization founded in 1995 by human rights and democracy advocates in Indonesia. It was formed from the thinking of human rights and democracy figures in Indonesia, and was established as a bridge for resources to strengthen humanitarian movements at the grassroots level. IKa is committed to the values of social justice through several roles, one of which is supporting survivors and victims of human rights violations. 

In recent years, IKa’s concern for victims, particularly those who are now elderly, has been expressed through fundraising and the distribution of funds during major public holidays in Indonesia – moments that are generally celebrated nationwide and associated with joy. For this reason, December, as a time when Christmas is celebrated, was chosen as a symbol of care for those who have experienced violence and discrimination. The distribution of funds to elderly survivors (Si Mbah) is understood by IKa as an effort to care for memory and as a moment of appreciation for those who have struggled for dignity and humanity. 

This year, we selected Eastern Indonesia as the location for the distribution of the “Si Mbah” Christmas gift packages, with total donations amounting to IDR 7,290,000. These funds were distributed through IKa’s Pundi Insani program. 

Eastern Indonesia was chosen because this region has never previously received Pundi Insani grant support in the form of Christmas gift packages, and also because a large proportion of the population in Eastern Indonesia celebrates Christmas.

Below are testimonies from recipients of IKa’s Pundi Insani Christmas support.

Mama Dominika (73) is an elderly woman farmer who currently lives with her husband and one grandchild. Her children have migrated elsewhere to earn a living. To support her family, even at her advanced age, she remains active working in the fields. As a farmer, in addition to facing uncertainty in planting seasons due to climate change, she and her family also struggle to obtain fertilizer. “We struggle greatly just to get fertilizer,” she said. 

The same holds true for Adrianus (75). In January 2025, his home and crops were leveled to the ground as a result of forced eviction. Despite this, Adrianus chose to remain at the site of conflict. For him, the land is not merely a place to live, but a symbol of dignity that must be defended. 

Both of them are elderly people who, despite having experienced violence and human rights violations, continue to endure and even serve as examples of life itself. Meanwhile, the state continues to neglect their welfare.

To ensure that donors’ trust reaches the right hands, IKa collaborates with local partners known for their consistency in accompanying communities who are struggling to defend their rights to justice and truth. This collaboration is carried out with PBH Nusra, which frequently provides legal assistance to communities who have been oppressed and deprived of their right to live with dignity, and Jaringan Perempuan Indonesia Timur (JPIT) in Kupang, East Nusa Tenggara, which has long been committed to safeguarding the rights of women and vulnerable elderly people.

Through this network, support was distributed in ways that were specific to the needs of each area. A total of 25 elderly people accompanied by PBH Nusra (17 women & 8 men) received basic necessities, including rice, coffee, sugar, tea, and cooking oil. Meanwhile, for the 22 beneficiaries under the accompaniment of JPIT, support focused on health and sanitation needs, such as balm, allergy medicine, massage oil, adult diapers, as well as basic food packages. This careful attention to specific needs is a concrete reflection of how our solidarity reaches into the most personal aspect of their everyday lives. 

A Restorative Touch

The support collected through the “Si Mbah” fundraising effort was ultimately distributed as a tangible expression of solidarity. For the Si Mbah we accompanied, these gift packages were not merely logistical assistance, but a message that they are not forgotten and they are not struggling alone. It affirms that solidarity is present, and that others are walking alongside them.

Adrianus shared his emotions with deep gratitude:

“This is a memory, proof that the relationship with IKa remains. For some time, there was no news, but today, we heard from them again and received Christmas gifts. We are happy. Thank you, IKa. Hopefully we will meet again another time.” – Adrianus, assisted by PBH Nusra.

For Mama Dominika and Adrianus, this attention is a form of respect for their courage in sustaining life in the remote corners of the country. Thank you for being part of this humanitarian journey. 

Caring and Remembering

As the holy month of Ramadan comes to a close and the joyful spirit of Eid al-Fitr begins to glow on the horizon, many families in Indonesia prepare to gather, share meals, and exchange gifts as symbols of love and togetherness. Yet for some, especially those who have endured the wounds of history, these moments of joy are often shadowed by hardship and silence.

There are elderly survivors of human rights violations whose lives have been marked by loss and resilience in Eastern Indonesia, South East Sulawesi Province. For years, they have carried memories that cannot be erased, while still trying to meet their most basic needs in old age. As their peers celebrate with their loved ones, they continue to remind us that justice and compassion are not only about remembering the past, but also about caring for those who still live with its consequences today.

Through the Pundi Insani program, Indonesia for Humanity (IKa) were organizing a donation drive during March-April 2025.This initiative seeks to bring comfort and dignity to these elderly groups during Eid, ensuring they do not face this sacred time in isolation.

Pundi Insani is more than just a seasonal effort—it is a platform of solidarity, built to sustain the recovery and empowerment of survivors of human rights violations across Indonesia. It extends support to human rights defenders who dedicate their lives to justice, providing them with pathways to live in safe, healthy, and dignified conditions, even in the midst of emergencies.

IKa collaborated with  South East Sulawesi-based local organizations that are actively supporting vulnerable, marginalized, and impoverished groups in their region and focus on victims of gross human rights violations with members spread across three districts. They distributed the donation to 25 elderly (11 female,14 male) and a few of them equipped with reading glasses and walking sticks.

One of the elderly recipients, Mrs. CT (75), lives in a modest home and has never received any kind of assistance before. She was deeply moved, even in disbelief, when she received the Eid gift package.” For me, this support is not just about meeting daily needs, but something far greater: it is a symbol that we are still remembered, that someone still cares, and that our life—though quiet and difficult—is not entirely forgotten’, stated her.

Kodrat Alam: Ingat Hak, Jaga Bumi

Dalam rangka merayakan 30 Tahun Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa), bersama Marjin Kiri & Ke:kini secara bersama menggaungkan upaya Merajut Daya Merawat Bumi.

Vandana Shiva melalui bukunya “Kodrat Alam“, mengajak kita untuk menemukan alternatif solusi krisis dalam upaya meregenerasi bumi dan menjaga ketahanan pangan seturut hukum ekologi alam.
Robertus Robet mengajak kita membangun ekonasionalisme sebagai perjuangan bersama yang melibatkan front persatuan antara manusia dan alam.

Ingin tahu lebih jauh tentang kegiatan ini, ikuti rangkaian acara kami pada:
???? Jumat – Minggu, 29 – 31 Agustus 2025 | ???? Ke:kini Ruang Bersama Jl. Cikini Raya No.43-45, Jakarta Pusat, Indonesia

Bersama, kita kuatkan daya hidup dari akar rumput, satukan solidaritas dan dorong terwujudnya keadilan sosial dan keadilan iklim.

Shifting the Power: Understanding Donor-Grantee Relationships

Grants play a critical role in the civil society space internationally. both Grants locally enable and local initiatives to address issues related to social injustices, environmental human rights and sustainability. Non Governmental Organizations (NGOs) in Indonesia are highly dependent on grants from foreign aid donors to fund their initiatives due to limited domestic funding opportunities. This has caused high international donor dependency and limited funding diversity among Indonesia’s NGOs, which has serious implications for Indonesia’s civil society space.

Due to limited donor diversity, Indonesia’s NGO sector must compete for international funding, causing power imbalances between donors and grantees. Understanding the power relationships between donors and grantees is necessary for developing a strong civil society structure in Indonesia. Developing a strong civil society structure in Indonesia requires shifting the power from large foreign donors to local communities by prioritizing ‘people-led development’ focused on the strengths of local communities.

On Friday the 31st of January 2025, IKa hosted the 9th forum for transformative resources alongside other local and international NGOs to discuss shifting the power movement, aimed at understanding donor-grantee relationships in the civil society sector. The meeting included members from the Samdhana Institute, MAF Indonesia, Peace Direct, Komunitas Ibu Jamu, and individuals concerned about transformative resources, all providing valuable insights into the shifting power movement.

All members agreed that understanding the drivers of unequal power relations in the grant space is essential to increasing independence in the civil society space. Martua from the Samdhana Institute discussed the ‘Cubic of Power’ to help analyse the three dimensions of power, these being spaces of power, levels of power and faces of power (see figure 1). Applying the ‘Cubic of Power’ can support NGOs in understanding the most appropriate strategies for shifting the power. Siti from MAF Indonesia, highlighted the importance of knowledge production for shifting the power to address issues related to poverty and the ecological environment. With reference to the ‘Cubic of Power’ this requires a created space of power, allowing for local level involvement by sharing their traditional knowledge.

This contrasts with top-down donors who hold a closed space of power characterized by closed-door meetings that exclude local involvement and knowledge production, also known as the dominant system.

Unequal power relations between donors and grantees are a characteristic of the dominant aid system which mirrors aspects of colonialism. For example, donors exert their power to control how grantees must use their funding. Regina from Peace Direct highlighted how the entire aid system is set up for local and community organizations to fail; donor dependency is a reflection of this. Moving away from the dominant system to what is called the emergent system is essential for shifting the power.

Emergent systems such as shifting the power can decolonize traditional aid systems and redistribute power into the hands of local communities, allowing grantees to determine how they use their funding in accordance with their community values and strengths. IKa applies the term ‘Akar Daya’ which translates to ‘community rooted potentials’, an important component to shifting the power by focusing on the unique strengths of communities to address challenges they may face.

When local communities hold the power, they increase their independence and ability to address oncoming challenges without relying on external funding.

Increased NGO independence is especially important in relation to the newly elected US prime minister. On the recent day of inaugaration, US President Donald Trump introduced a 90-day pause on all US foreign development assistance. At present, USAID (the world’s number 1 provider for humanitarian aid) is no longer in operation, meaning over $60 billion worth of programs supporting vulnerable people have now stopped. According to the US secretary of state Marco Rubio, the pause on foreign aid aims to assess whether the programs supported USAID align with US priorities. The uncertainty surrounding the pause is placing NGOs in a vulnerable position, particularly in countries such as Indonesia that heavily dependent on foreign aid. Now more than ever, there is a sense of urgency among civil society groups to decolonize the dominant aid system so local communities can regain their power and funding independence.

Regina provided examples of international initiatives that are attempting to decolonize traditional aid, one being the Latin American Permanent Forum on Decolonized and Antiracist Aid. The forum acts as a permanent space that brings together and educates actors who are committed to making international aid more equitable and democratic while benefiting all parties involved.

Implementing donor education can help prevent unequal power relations between donors and grantees. Shifting the power in the donor-grantee spaces does not call for an end to foreign aid but rather encourages participation from all actors involved and prioritizes the needs and unique strengths of grantees.

The forum hosted by IKa successfully highlighted the different approaches to shifting the power to increase independence in the civil society sector. Understanding donor-grantee relationships independence to must improve be a NGO priority, particularly after the recent US election results. The forum established the importance of knowledge sharing between NGOs when discussing shifting the power movement, as each organization or individual holds their own view or experience that may benefit others.

As an intern myself at IKa, the forum for transformative change deepened my understanding of the shifting power movement. I could feel the passion and urgency among forum participants to improve NGO and civil society independence particularly after the recent US election results. I believe now more than ever the civil society sector must increase their independence and embrace Akar Daya so communities can continue to thrive, no matter what the future of foreign aid holds. Whilst the situation in the US is far from ideal, it can be seen as motivation for more communities to reflect on their unique strengths and traditional knowledge in addressing various obstacles they may face.

I hope to share my newfound knowledge on the shifting power movement in Australia with my university when I return. Shifting the power is particularly important for Australia’s Aboriginal peoples who have been continually oppressed. The traditional knowledges and practices held within the Aboriginal community has the potential to manage a variety of environmental, economic and social challenges within Australia if they were provided with the power to implement their own ‘Akar Daya’.

FAJAR #9 initiative is supported by CIVICUS Global Alliance https://www.civicus.org/

Bumi, Sejarah, dan Kita: Membaca Ulang Nusantara dalam Krisis Iklim

Hai Sahabat IKa,

???? Bumi, Sejarah, dan Kita: Membaca Ulang Nusantara dalam Krisis Iklim
Bagaimana jejak sejarah dan kearifan lokal Nusantara bisa memberi arah di tengah krisis iklim hari ini?
Mari bersama membaca ulang relasi manusia dan alam dari perspektif budaya, spiritualitas, dan ekologi Nusantara bersama Hilmar Farid, PhD. Ketua Senat IKJ

Waktu:
???? Selasa, 29 Juli 2025
⏰ Pukul 14.00–16.00 WIB
Hybrid:
????Luring: Ke:Kini Ruang Bersama Jl. Cikini Raya No.43/45, Cikini, Menteng, Jakarta Pusat (bertempat di lt.2, hanya bisa diakses melalui tangga)

???? Daring:
YouTube: https://s.id/IndonesiauntukKemanusiaan
Zoom: Link Zoom akan dikirimkan setelah Anda melakukan registrasi

????Link Registrasi : https://s.id/RegistrasiKuliahUmumIKa

*Peserta terbatas untuk 45 orang yang hadir secara offline

???? Yuk, hadir dan ajak rekan-rekanmu belajar bersama!

Lokakarya Incline #2 dan Temu Kolaborasi Mitra: Menuju Ekosistem Advokasi Iklim yang Berkeadilan

Perubahan iklim berdampak ke seluruh dunia, tapi beban terberat justru ditanggung oleh komunitas rentan yang paling sedikit berkontribusi terhadap terjadinya krisis iklim (Sumber: earth.org). Dari mata pencaharian yang terganggu hingga cuaca ekstrem yang makin sering terjadi, mereka menghadapi dampak yang tidak sebanding- dan ketidakadilan ini membutuhkan aksi segera. Misalnya, di Desa Timbulsloko, Sayung, Demak, Jawa Tengah, abrasi mengikis garis pantai Kabupaten Demak, sehingga berdampak pada peralihan fungsi lahan setempat; dari awalnya areal pertanian produktif, berangsur menjadi tambak ikan, bahkan sebagian telah menjadi perairan akibat kenaikan permukaan air laut disertai penurunan permukaan tanah (Sumber: Kompas.com). Sementara itu, musim kemarau juga berdampak besar bagi masyarakat Kecamatan Beruntung Baru, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Di bulan September 2024 lalu, BPBD Kabupaten Banjar menyalurkan 168.400 liter air bersih ke empat desa: Kampung Baru, Babirik, Muara Halayung, dan Haur Kuning (Sumber: radarbanjarmasin).

Upaya kolektif dan terorganisir menjadi semakin penting untuk memastikan komunitas terdampak tidak tertinggal dalam upaya adaptasi dan mitigasi. Menjawab kebutuhan tersebut, Pundi Hijau hadir sebagai inisiatif penggalangan dana dalam Catur Daya Indonesia untuk Kemanusiaan (dana, pengetahuan, kerelawanan, jaringan), sebagai aksi menanggapi tantangan lingkungan dan sosial yang kita hadapi saat ini. Pundi Hijau mengutamakan inisiatif kedaulatan pangan, keadilan iklim, pelestarian keanekaragaman hayati dan pulau kecil dan pesisir, dengan fokus menciptakan dampak positif yang berkelanjutan. 

Merespon situasi ini, Pundi Hijau didukung ClimateWorks Foundation (CWF) melalui program “Strengthening Justice and Equity-Based Climate Justice Partnerships to Support the Vulnerable People” , atau ‘Program penguatan kemitraan keadilan iklim yang berbasis pada keadilan dan kesetaraan untuk mendukung kelompok rentan’ sejak tahun 2023. Pendekatan kemitraan ini bersifat partisipatif, dengan tujuan membangun pemahaman bersama tentang keadilan iklim, dengan mempertimbangkan keberagaman budaya dan wilayah di Indonesia. Dari pemahaman ini, lahirlah aksi nyata: IKa membentuk jaringan INCLINE (Indonesian Climate Justice Network) atau #JAGAINIklim (Jaringan Gerakan Indonesia untuk Keadilan Iklim) guna memperkuat gerakan yang lebih inklusif dan berdampak. Sebagai bagian dari inovasi digital, INCLINE terdiri dari aplikasi, situs web, dan akun media sosial yang difokuskan pada isu keadilan iklim. 

Uji coba INCLINE Apps telah berlangsung pada tahun pertama dan kedua, lalu IKa memandang penting untuk menyelenggarakan pertemuan tatap muka guna memperkokoh pemanfaatan perangkat ini. Pertemuan pun berlangsung pada tanggal 18-21 Maret 2025 di Kuta, Bali. Kegiatan bertajuk Lokakarya INCLINE #2 dan Temu Kolaborasi Mitra Pundi Hijau ini mempertemukan para Pemrakarsa Pundi Hijau lintas tahun (2023, 2024, 2025) bersama perangkat desa dampingan komunitas masing-masing. Keterlibatan perangkat desa memiliki peran strategis sebagai pihak yang memiliki kewenangan menentukan arah kebijakan desa, mereka perlu dilibatkan sejak awal dalam proses sekaligus memperkuat posisi komunitas dalam perencanaan pembangunan di tingkat lokal—dengan menjadikan data sebagai dasar pengambilan keputusan. 

Pemrakarsa Pundi Hijau 2023, yakni Perempuan Kobher, hadir bersama perangkat desa dari Desa Matanair. Sementara itu, dari Pundi Hijau 2024, turut berpartisipasi RUBEK PASI (bersama perangkat desa dari Telaga Gosong Utara), PAPHA Indonesia (bersama perangkat desa dari Desa Done, Sikka, Maumere, NTT), dan LSM Pelita Harapan (bersama perangkat desa dari Katakeja, Lembata, NTT). Seluruh pemrakarsa Pundi Hijau 2025 hadir dalam pertemuan yang berlangsung selama empat hari, yaitu Pusur Institute (Desa Pundungan, Klaten, Jawa Tengah), Yayasan Agro Sorgum Flores/YASORES (Desa Pajinian, Adonara Barat, Flores Timur, NTT), Lembaga Olah Hidup/LOH (Desa Balebrang, Sumbawa, NTB), dan Himpunan Maluku untuk Kemanusiaan/HUMANUM (Desa Liang, Ambon, Maluku). Selain itu, jaringan Akar Daya IKa juga turut serta melalui kehadiran Yayasan Wisnu dan komunitas dampingan mereka dari Desa Tigawasa, Bali. 

Lokakarya ini memotivasi komunitas untuk meningkatkan kapasitas mereka dalam menghadapi krisis iklim melalui pembelajaran bersama, mengenalkan teknologi berbasis data, dan menyusun strategi menghadapi potensi bencana iklim. Peserta tidak hanya mengumpulkan data menggunakan aplikasi INCLINE, tetapi juga menganalisis data tersebut dengan kerangka lima modal—alam, fisik, sosial, finansial, dan sumber daya manusia—untuk mengidentifikasi area rentan dan merumuskan strategi kolaboratif dengan pemangku kepentingan. Lokakarya selama empat hari ini menghasilkan rencana aksi lanjut berdasarkan data yang dianalisis. Seusai kegiatan, IKa akan mengadakan sesi pelatihan daring secara berkala guna menjaga kesinambungan rencana aksi. Melalui jaringan #JAGAINIklim dan platform Pundi Hijau, IKa terus mendorong terciptanya ekosistem advokasi iklim yang berpihak pada masyarakat, berbasis data, dan berakar pada kekuatan komunitas.

Pemahaman penting juga muncul dari lokakarya ini, seperti yang diilustrasikan oleh Pak Jalal—anggota Tim Pengarah Pundi Hijau—yang menyatakan bahwa “Sebuah botol tetap akan kosong meski diisi air sampai penuh, jika ada satu lubang kecil.” Artinya, aset yang paling lemah justru yang paling menentukan daya tahan komunitas. Sebaliknya, aset terkuat dapat menjadi tumpuan untuk memperkuat modal lainnya, khususnya modal alam. Wawasan ini membuka ruang bagi peserta untuk merumuskan solusi berbasis kekuatan dan kebutuhan spesifik wilayah mereka. Secara keseluruhan, lokakarya ini menjadi salah satu langkah penting dalam membangun solidaritas lintas wilayah, meningkatkan kapasitas lokal, dan menyusun strategi yang tidak hanya adaptif, tetapi juga adil dan berkelanjutan.

Dokumentasi video Lokakarya Incline #2 dan Temu Kolaborasi Mitra bisa diakses melalui tautan ini

Sumber:

  • https://earth.org/climate-changes-unequal-burden-why-do-low-income-communities-bear-the-brunt/)
  • https://lestari.kompas.com/read/2023/11/24/150000586/perubahan-iklim-ancam-199-kabupaten-kota-pesisir-indonesia-40-sangat-rentan.)
  • https://radarbanjarmasin.jawapos.com/banua/1975076373/4-desa-di-kab-banjar-krisis-air-bersih

Panggilan Hibah Pundi Perempuan Termin II 2025

Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) dan Komnas Perempuan membuka kesempatan pengajuan Hibah Pundi Perempuan bagi komunitas/organisasi masyarakat sipil yang memberikan layanan dan pendampingan kepada perempuan korban kekerasan di Indonesia. 

Untuk itu, kami mengundang komunitas/organisasi untuk mengajukan proposal Hibah Pundi Perempuan termin II di tahun 2025 dengan dana hibah maksimal sebesar Rp 25.000.000, – (Dua Puluh Lima Juta Rupiah). Dana hibah ini dapat digunakan untuk mendanai pendampingan hukum dan pemulihan psikososial.

Kriteria Penerima Hibah:

  1. Komunitas/organisasi masyarakat yang melakukan pendampingan dan pemulihan perempuan korban kekerasan.
  2. Memprioritaskan komunitas/organisasi masyarakat yang belum pernah mengakses dana hibah Pundi Perempuan.
  3. Minimal mencakup kegiatan: pendampingan dan pemulihan, konseling, penguatan kapasitas pendamping, pengelolaan rumah aman.
  4. Menyediakan layanan pendampingan bagi perempuan korban kekerasan, minimal 5 kasus perbulan dan melibatkan orang muda dalam kegiatan layanannya.
  5. Memiliki tata kelola yang menjamin adanya akuntabilitas dan diharapkan dapat menunjukkan kemampuan dalam menyusun laporan kegiatan dan keuangan dengan baik.

Informasi Hibah:

  1. Komunitas/organisasi mengajukan proposal melalui tautan berikut https://s.id/CallforProposalPPT22025
  2. Pemanfaatan hibah dimulai pada Agustus 2025 dengan periode pelaksanaan 6-12 bulan.
  3. Batas pengajuan proposal hibah Pundi Perempuan tanggal 7 Juni 2025 pukul 23.59 WIB.
  4. Seleksi proposal dilakukan oleh Tim Pengarah Pundi Perempuan.
  5. Penerima hibah akan diumumkan pada Juli 2025 melalui media sosial Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) dan konfirmasi email.
  6. Komunitas/organisasi terpilih mengirimkan cerita lapangan, foto, video, laporan kegiatan dan keuangan.
  7. Bagi yang membutuhkan, dapat mengikuti sesi penjelasan pengajuan hibah bertujuan untuk menjelaskan teknis pengisian proposal Pundi Perempuan beserta kelengkapannya; yang akan dilaksanakan secara daring 2 Juni 2025, Pkl 14.00. https://s.id/sesipengajuanhibah

Proposal yang masuk akan diseleksi oleh tim pengarah Pundi Perempuan.

*Klik link di bawah ini untuk pengisian proposal naratif dan template anggaran secara online:

Gerakan Kolaborasi untuk Keadilan Iklim, Menemukan Harapan di Tengah Perubahan Iklim

Pernahkah kamu berpikir bagaimana masyarakat yang tinggal di wilayah terpencil menghadapi dampak perubahan iklim? Mereka yang tidak menjadi penyebab utama krisis ini justru menanggung beban paling berat. Namun, di tengah kesulitan itu, muncul inisiatif inspiratif dari berbagai pihak yang berjuang membawa keadilan iklim bagi mereka yang paling rentan.

Dalam keresahan itu, sebagai bagian dari komitmen Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) dalam menghadapi tantangan perubahan iklim terutama di tengah komunitas masyarakat rentan, IKa terlibat aktif dalam Program “Strengthening Justice and Equity-Based Climate Justice Partnerships to Support the Vulnerable People” yang juga dikenal sebagai Program Kolaborasi Multipihak untuk Keadilan Iklim. Program ini merupakan bagian dari Pundi Hijau, sebuah inisiatif inti IKa yang bertujuan mendukung komunitas akar rumput menuju masa depan yang adil dan berkelanjutan.

Melalui program ini, IKa berfokus membangun kolaborasi antara berbagai pihak untuk menciptakan kesepahaman bersama tentang keadilan iklim. Ini bukan hanya tentang mengatasi dampak perubahan iklim, tetapi juga memastikan manfaat adaptasi dan mitigasi dirasakan secara adil oleh masyarakat yang paling terdampak.

Keadilan Iklim dan Dukungan IKa

Perubahan iklim adalah masalah global, tetapi dampaknya dirasakan secara tidak merata. Masyarakat di tingkat akar rumput sering kali menghadapi ancaman seperti kelangkaan sumber daya, gangguan ekosistem, dan bencana alam yang semakin sering terjadi. Padahal, mereka bukan kontributor utama emisi gas rumah kaca yang memicu perubahan iklim. Keadilan iklim bertujuan untuk memastikan bahwa mereka yang paling rentan mendapat dukungan yang layak. Ini termasuk pendekatan yang adil dalam mengurangi risiko, mendukung adaptasi, dan mengadvokasi perubahan kebijakan yang berpihak pada masyarakat.

Salah satu cara IKa mendukung keadilan iklim adalah melalui hibah Pundi Hijau, yang mengembangkan keterhubungan antar komunitas dan mendukung berbagai inisiatif solusi yang telah dikembangkan di tapak. Sejak 2023, program ini fokus pada inisiatif yang berkaitan dengan keadilan iklim di komunitas tapak dengan fokus tema tertentu. Tahun 2024, tema utama yang diusung adalah kedaulatan pangan dan kesehatan, dua elemen kunci dalam menghadapi perubahan iklim. Hibah diberikan kepada sejumlah mitra komunitas dari berbagai daerah di Indonesia, dimana masing-masing mitra membawa pendekatan unik yang sesuai dengan kebutuhan lokal. 

Selain itu, IKa juga mengembangkan jaringan komunikasi dengan belasan gerakan di komunitas tapak lainnya, dari berbagai daerah di Indonesia. Dari jaringan ini diharapkan dapat saling bertukar informasi terkini kondisi yang dihadapi masyarakat tapak, dan juga upaya-upaya solusi dan mitigasi yang dilaksanakan oleh masyarakat. 

Dampak yang Lebih Luas

Melalui program ini, IKa tidak hanya mendukung komunitas lokal, tetapi juga menciptakan sumber referensi dan pengetahuan yang dapat digunakan oleh berbagai pihak. Informasi dari program ini diharapkan bisa memandu perubahan transformatif dalam kebijakan dan praktik keadilan iklim di Indonesia. Karena keadilan iklim adalah tanggung jawab bersama, IKa juga mendorong keterlibatan semua pemangku kepentingan di tengah masyarakat, termasuk juga kaum muda. Kamu bisa mendukung gerakan ini antara lain dengan:

  • Meningkatkan kesadaran tentang keadilan iklim di komunitasmu.
  • Mendukung inisiatif lokal yang berfokus pada keberlanjutan.
  • Mengadvokasi perubahan kebijakan yang mendukung keadilan iklim.

Yuk. Bersama-sama kita bisa menciptakan masa depan yang lebih adil, berkelanjutan, dan bermartabat untuk semua. Mari menjadi bagian dari gerakan ini dan tunjukkan bahwa perubahan itu mungkin!

Selalu dapatkan kabar terbaru dari kami!