Memorialisasi dalam 3 Babak- Sebuah Refleksi dari Napak Reformasi

Memorialisasi selalu dimulai dengan niat yang sederhana: ingin tahu cerita seutuhnya. Sebagai late-millennial, saya terlalu muda untuk mengerti atau bahkan mengingat tonggak sejarah reformasi 1998 dari memori sendiri. Pengetahuan kami dibentuk melalui buku pelajaran sejarah. Narasi buku pelajaran memberi kami dua atau tiga paragraf tentang tahun 1998. Isinya lugas, berbicara tentang Reformasi, tentang Trisakti, tentang perubahan demokrasi. Namun, buku tidak berbicara tentang ketakutan di jalan-jalan Jakarta. Tidak berbicara tentang Surabaya, tentang Solo, tentang banyak ketidakadilan yang dikaburkan demi  menyederhanakan.

Pada 17 Mei 2025 lalu, Komnas Perempuan menyelenggarakan kegiatan “Napak Reformasi Mei 1998”. Kegiatan ini dimaksudkan untuk memperkuat memori kolektif tentang perjuangan reformasi, juga suara korban yang tidak boleh dilupakan. 

Babak 1: Pak Gun

Peserta Napak Reformasi diminta hadir di Komnas Perempuan jam 7 pagi untuk kemudian berangkat ke lokasi dengan bus. Agar tidak terlambat, saya memutuskan menggunakan jasa pengemudi online. Mungkin karena itu Sabtu, jam 6.33 pagi, sehingga Pengemudi GoCar hari itu, Pak Gun, bertanya untuk apa saya bertujuan ke Komnas Perempuan sepagi itu. 

Mendengar jawaban saya, Pak Gun mengungkapkan sesuatu yang membuat saya merinding: ia mengenal salah satu korban Trisakti, Heri, secara personal.

Heri Hartanto adalah satu dari empat mahasiswa Trisakti yang tewas dalam Tragedi Trisakti 12 Mei 1998. Mereka tewas tertembak di dalam kampus saat mengikuti demonstrasi yang menuntut turunnya Soeharto dari jabatan presiden.

Heri meninggal di umur 21 tahun.  Saat itu, Heri merupakan mahasiswa semester enam di Universitas Trisakti.

Pak Gun lanjut bercerita, bahwa ia juga mengenal keluarga Heri. Bahkan, ia menyebutkan bahwa Heri dan keluarganya tinggal tak jauh dari rumah saya- hanya kurang dari dua kilometer. Dan, ya, satu derajat kedekatan itu: pengemudi GoCar yang saya tumpangi adalah orang yang mengajarkan Heri cara menyetir.

Awalnya, saya tidak percaya, karena cerita Pak Gun sangat koinsidental-penuh kebetulan- dengan kegiatan Napak Tilas hari itu. Dari cerita Pak Gun, keluarga Heri “punya bisnis bus Mikrolet”, sehingga Heri berlatih menyetir menggunakan bus. Ketika saya pulang dari Napak Tilas hari itu, saya tergerak, tetapi agak penasaran terhadap validitas cerita pak Gun, sehingga saya melakukan pencarian di Google terhadap detil kecil itu:

https://megapolitan.kompas.com/read/2023/05/19/11333471/kisah-heri-hartanto-korban-tragedi-trisakti-awalnya-ingin-kuliah-di-ui.

Dikutip dari kompas.com

Lasmiati (ibu Heri- tambahan penulis) mengatakan, Heri mengambil jurusan itu karena setiap hari kerap berurusan dengan mesin kendaraan bermotor. Saat itu, Lasmiati mempunyai usaha bengkel mobil. Heri akhirnya ingin mengasah kemampuannya lebih dalam mengenai mesin mobil.” (Syahrial, 2023)

Di luar perkiraan, memorialisasi saya di hari itu dimulai bahkan sebelum Napak Reformasi berjalan. Rekoleksi Pak Gun masih membuat saya  terkejut, juga tertegun dan terhenyak sampai detik ini.

Saya turun dari mobil pak Gun dengan pemahaman yang sedikit lebih kaya tentang  ‘98. Sedikit cerita dari Pak Gun menguatkan pemahaman saya bahwa narasi sejarah tidak hanya satu suara seperti yang ditulis di buku, melainkan berbekas ke semua saksi peristiwa, baik yang secara langsung maupun tidak langsung mengalaminya. Trauma ini dialami bangsa secara kolektif, dan menghiraukan trauma ini seakan membiarkan luka terbuka begitu saja, dan adanya narasi yang berupaya mensamarkan memori bangsa, seakan secara periodikal menyiram luka terbuka itu dengan air garam.

Babak 2: S

Selanjutnya, mengingat kegiatan ini terbuka untuk umum- dengan undangan yang disebarkan melalui media sosial- banyak yang hadir berasal dari generasi muda. Kegiatan Napak Reformasi 1998 ini menyasar ke 4 titik yang tersebar di Jakarta Barat (Universitas Trisakti), Jakarta Selatan (Universitas Atma Jaya), dan Jakarta Timur (Mall Klender, TPU Pondok Ranggon). Karena saya membayangkan perjalanan yang pasti akan panjang di hari itu, saya mencari teman sebangku yang kiranya tidak jauh pantaran umur dari saya, dengan harapan bisa lebih terhubung dengan mudah.

Teman baru saya, S, bercerita bahwa seperti saya, ia juga lahir sebelum 1998-namun ia terlalu muda untuk mengingat reformasi. Namun berbeda dari saya yang seumur hidup tinggal di Jakarta, S besar di Surabaya. S bercerita kalau di Surabaya seakan tidak mengalami gejolak reformasi.

“ -Karena kerusuhan ‘98 kurang terasa di Surabaya ya?”, saya bertanya, dengan kembali mengingat buku sejarah saya semasa sekolah yang memang tidak mencantumkan selain demo di Jakarta.

S mengangguk, “Iya, beda dengan Jakarta”. 

Sepulang dari perjalanan, saya kembali melakukan cek fakta tentang 1998 di Surabaya, dengan membaca artikel-artikel di google. Ternyata asumsi saya bahwa kerusuhan tidak terjadi di Surabaya keliru besar.

Dengan mengutip KontraS Surabaya:

“Di Surabaya, peristiwa Kerusuhan Mei 1998 di beberapa tempat di kawasan Surabaya Utara, yaitu sekitar Semampir dan Pegirian, terjadi pada tanggal 14 Mei.” Kenang Poedjiati.

“Ada beberapa perbedaan jumlah data korban, dari Lembaga-lembaga yang melakukan investigasi. Korban pemerkosaan sekitar antara 10 – 19 orang, 2-6 orang korban penyiksaan seksual, dan puluhan orang korban pelecehan seksual.

Di luar Jakarta, kekerasan Mei 1998 seolah tenggelam dalam ketidakjelasan. Data korban simpang siur- jumlah yang tercatat berbeda di setiap laporan, tanpa ada upaya serius untuk benar-benar mengungkap angka yang sesungguhnya. Ini bukan hanya tentang kehilangan fakta, tetapi tentang bagaimana sejarah ditulis dan siapa yang diingat.

https://kontrassurabaya.org/aktivitas/tragedi-mei-1998-agenda-yang-belum-selesai/

Saya dan S juga membandingkan buku sejarah masing-masing waktu sekolah.  S menceritakan bahwa di sekolahnya materi lebih menitikberatkan pada pelanggaran HAM di 1965–1966. Materi tersebut disajikan dengan dukungan film-film yang menjadikannya lebih ‘familiar’ dibandingkan kisah 1998. Saya teringat memikirkan ironinya: untuk generasi kita yang secara garis waktu lebih dekat dengan 1998, tapi relevansinya dianggap rendah oleh buku sejarah sekolah

S menambahkan bahwa sayangnya peristiwa 1998 tidak ada film untuk menjadi bantuan narasi sejarah.

S kemudian bertanya, “Kamu nonton film Joko Anwar ‘Pengepungan di Bukit Duri’?”
Saya mengaku belum menontonnya, hanya tahu bahwa beberapa bulan lalu film itu sempat tayang di bioskop.  S menjelaskan bahwa film itu terinspirasi dari 1998, tapi ‘dikemas’ sedemikian rupa.

Saya yang lebih mengaitkan Joko Anwar ke film horror kemudian menyeletuk, “Itu genre nya apa? Non-fiksi horror?”

“Semacamnya…”, jawab S. “Thriller? Agak zombie gitu, eh- tapi bukan bener-bener zombie sih-

Melihat ekspresi saya yang kebingungan, S menjelaskan bahwa sebenarnya Ia berharap film Pengepungan di Bukit Duri merupakan narasi non-fiksi yang sedekat mungkin dengan peristiwa sebenarnya. Sebagai orang muda, belajar sejarah lewat budaya populer menjadi gerbang untuk membangun rasa ingin tahu terhadap sejarah sekaligus menyelami perspektif para korban. Disini ada kesempatan yang terlewatkan bagi media populer untuk membuka percakapan, mengangkat isu sosial yang terpinggirkan, dan membentuk kesadaran kolektif, tidak semata untuk menghibur.

Babak 3: Sendiri

Bagi saya, apa yang saya ingat tentang Mei 1998? Dari memori pribadi, tidak ada. 

Padahal, ketika terjadi kerusuhan 1998, saya dan keluarga termasuk yang mengungsi.

Kerusuhan dan pembakaran pun terjadi di pasar yang hanya berjarak 110 meter dari rumah saya.

Memori yang saya ingat tentang 98 malah dibentuk dari waktu sekolah. Lelucon internal angkatan saya: katanya kami lebih pendek dari generasi sebelum dan sesudah karena saat balita, kami tumbuh dalam krisis. Gizi buruk, orang tua tidak bisa beli susu karena ekonomi ambruk.

Dibalik lelucon itu, ada kemarahan. Faktanya, reformasi bukan hanya soal pergantian kekuasaan, tapi efek dominonya terasa bahkan sampai hal paling sepele- pertumbuhan generasi yang lahir dan tumbuh di tengah krisis.

Cuplikan-cuplikan sejarah yang saya cermati selama Kegiatan Napak Reformasi membuka mata saya bahwa narasi ‘resmi’ seringkali merupakan rangkuman, dibanding kebenaran yang utuh. Bahkan, angka-angka masih simpang siur, menunjukkan betapa banyak yang belum mendapatkan kejelasan dan keadilan.

Dalam proses ini, saya menyadari bahwa saya bukan sekadar peserta Napak Reformasi- saya adalah bagian dari generasi, yang perlahan mencoba menyusun kembali kepingan-kepingan ingatan sejarah yang tercerai. Saya, seorang anak pre-reformasi yang besar di tengah krisis, kini mewariskan semangat generasi sebelum saya untuk memperjuangkan hak-hak korban pelanggaran HAM  berat.

Memorialisasi bukan sekadar mengenang, tetapi juga memastikan bahwa sejarah yang kita ceritakan tidak berhenti pada versi yang nyaman atau sudah disederhanakan. Ia membutuhkan upaya berkelanjutan untuk melihat, mendengar, dan bertanya- karena di balik cerita yang terlupakan, maka masih ada korban yang merasa ditinggalkan.

Selalu dapatkan kabar terbaru dari kami!