Menggugah Sejarah Lewat Ruang Budaya

“Sejarah ditulis oleh pemenang.” Kita sering mendengar kalimat itu sebagai klise, namun kenyataannya jauh lebih kelam. Penulisan ‘sejarah resmi’ negara bekerja seperti mesin penghapus, secara sistematis melenyapkan fakta-fakta yang dianggap terlalu mengganggu terutama jejak-jejak pelanggaran Hak Asasi Manusia. Dikhawatirkan narasi “resmi” bersifat reduktif dan menghapus kompleksitas pengalaman mereka yang terlibat di dalamnya.

Pundi Insani, sebagai wadah penggalangan dana Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa), berkomitmen pada pemulihan korban HAM melalui prinsip keadilan sosial dan kesetaraan gender. Sejalan dengan misi tersebut, melalui sebuah pertemuan yang digelar di Hotel Ibis, Raden Saleh Jakarta pada akhir tahun lalu, sebuah inisiatif kolektif yang melibatkan penyintas, aktivis, seniman, dan akademisi berkumpul untuk menantang hegemoni ini.

Diskusi dipantik oleh Kamala Chandrakirana (Indonesia untuk Kemanusiaan), Melani Budianta (Akademisi), Lian Gogali (Institut Mosintuwu), Nia Dinata, KontraS, Syarikat Yogyakarta, Taman 65, dan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Kegiatan ini juga menjadi ruang temu bagi berbagai komunitas dan perintis kemanusiaan dari berbagai daerah, di antaranya Pelintas Aceh, PK2TL (Lampung), DIALITA, Sekber 65 Solo, Layar Kumendung (Banyuwangi), SKPHAM SulTeng, PBH Nusra, serta kehadiran sastrawan Putu Oka Sukanta, penari Wangi Indriya, musisi Lani Frau, dan aktivis Hardingga, serta Ibu Sanu dan Wulan dari Jakarta. Melalui rangkaian kegiatan Bincang Budaya, kebudayaan menjadi sarana merebut kembali ingatan kolektif yang selama ini terdistorsi oleh kepentingan politik.

Salah satu pembelajaran dalam kegiatan ini adalah peran vital anak muda yang tidak lagi sekadar menjadi penonton pasif sejarah. Implementasi nyata keterlibatan anak muda terlihat jelas di Solo melalui Ketoprak Saung Bersama Sekber 65. Di sana, mahasiswa terlibat menjadi penonton juga aktor yang melakukan rekontekstualisasi sejarah secara informal dan cair. Dengan menggunakan media tradisional Ketoprak yang dikemas secara kontemporer, sejarah yang berat menjadi lebih mudah diterima oleh generasinya sendiri. Pendekatan ini meruntuhkan dinding kaku antara masa lalu dan masa kini, membuktikan bahwa sejarah adalah milik mereka yang berani menceritakannya kembali. Di era digital, anak muda memanfaatkan media sosial untuk meresonansikan narasi sejarah melalui karya seni, mengundang keterlibatan audiens yang lebih luas.

Strategi kebudayaan ini juga menyentuh akar rumput di berbagai daerah. Di Institut Mosintuwu (Palu, Sulawesi Tengah), “rumah belajar” menjadi tempat bagi generasi muda untuk mendengarkan tutur para sesepuh, sementara di Paguyuban Keluarga Korban Talangsari Lampung (PK2TL), keterlibatan perempuan muda dalam kesenian Kuda Lumping menjadi simbol perlawanan terhadap stigma daerah. Di PBH Nusra Maumere, keterlibatan keluarga dan anak-anak muda dalam Ritus Tanah menunjukkan bahwa rekonsiliasi adalah proses lintas generasi. Mereka belajar bahwa mengakui kesalahan masa lalu bukan berarti memperlemah bangsa, melainkan langkah pertama untuk memohon pemulihan bersama.

Pembelajaran dari Bincang Budaya menggeser paradigma: memorialisasi secara individual menuju praktik relasional. Kita mulai memahami bahwa mendengarkan orang lain dengan rasa hormat memberikan lensa lain untuk melihat realitas kita sendiri. Akademisi Michi Saagiig Nishnaabeg, Simpson (2021: 6)[1], menekankan bahwa dalam bercerita sebagai sebuah “praktik mengontraksikan dan melepaskan suara di berbagai skala” (individu, kolektif, hingga sistemik) pada akhirnya “budaya mendengarkan” adalah hal yang paling krusial. Sejarah, dengan demikian, dikembalikan menjadi sebuah commoning sumber daya milik bersama yang harus dirawat dengan penuh ketelitian.


[1] Simpson LB (2016) Indigenous resurgence and co-resistance. Critical Ethnic Studies 2(2): 19–34.

Pada akhirnya,kita sadar posisi kita di dunia. Seperti yang ditulis oleh Fenske dan Norkunas (2017)[1], keadilan transisional berarti belajar untuk menjadi “hanya satu aktor dalam dunia yang saling terjalin, alih-alih menjadi makhluk dominan dalam hierarki yang berpusat pada manusia.” Bagi anak muda, ini adalah ajakan untuk berhenti menonton dan mulai merawat. Anak muda diajak untuk memahami bahwa sejarah adalah sebuah commoning sumber daya milik bersama yang harus dirawat. Dengan mendengarkan cerita-cerita yang dipinggirkan, mereka menjaga agar kemanusiaan kita tidak lagi ditimpa narasi tunggal penguasa.

Sebagai langkah konkret, Bincang Budaya menyepakati tindak lanjut jangka pendek berupa pembentukan ruang komunikasi bersama dan sebuah tim kolektif. Tim yang berfungsi sebagai “aktivator dan provokator” ini akan menjadi mesin penggerak utama dalam menjaga ritme gerakan, sekaligus mengoordinasikan agenda kunjungan pembelajaran antar komunitas. Melalui proses musyawarah mufakat, para peserta telah menetapkan anggota tim yang terdiri dari perwakilan setiap daerah serta dua perwakilan dari Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa), guna memastikan keberlanjutan sinergi ini di masa depan.


[1] Fenske M, Norkunas M (2017) Experiencing the more-than-human world. Narrative Culture 4(2): 105–110.

Solidaritas untuk Lansia Penyintas 

Selamat Tahun Baru. Terima kasih untuk anda yang sudah mendukung kami.

Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) adalah Organisasi Sumber Daya Masyarakat Sipil (OSMS) yang didirikan pada tahun 1995. Lahir dari pemikiran para tokoh HAM dan demokrasi di Indonesia, IKa hadir sebagai jembatan sumber daya untuk memperkuat gerakan kemanusiaan di tingkat tapak. IKa berkomitmen pada nilai-nilai keadilan sosial melalui beberapa peran, salah satunya yaitu mendukung penyintas/korban pelanggaran HAM.

Beberapa tahun belakangan, kepedulian pada korban terutama yang telah mencapai lanjut usia, diwujudkan IKa melalui kerja-kerja penggalangan dan penyaluran dana di saat hari besar yang di Indonesia umumnya dirayakan secara nasional dan membawa kegembiraan. Untuk itu Desember, sebagai momen merayakan Natal dipilih untuk menjadi simbol perhatian bagi mereka yang mengalami kekerasan dan diskriminasi. Penyaluran dana bagi lansia korban, kami maknai sebagai upaya merawat ingatan dan momen apresiasi terhadap mereka yang telah memperjuangkan martabat dan kemanusiaan. Pada tahun ini kami memilih wilayah Indonesia Timur sebagai lokasi pendistribusian bingkisan Natal “Si Mbah” dengan total donasi Rp7.290.000,- . Dana ini disalurkan melalui program Pundi Insani IKa.

Pemilihan Timur Indonesia karena wilayah ini belum pernah memperoleh dana hibah Pundi Insani dalam bentuk bingkisan Natal, juga karena wilayah Timur Indonesia sebagian besar warganya merayakan Natal.

Berikut adalah kesaksian dari para penerima hibah Natal Pundi Insani IKa.

Mama Dominika (73), seorang petani perempuan lansia yang saat ini tinggal bersama suami dan seorang cucu. Anak-anak merantau, cari hidup di luar. Untuk menopang kehidupan keluarga, di usianya yang sudah tua, ia masih aktif kerja di kebun. Sebagai petani, selain mengalami ketidakpastian musim tanam akibat perubahan iklim, mereka juga merasa kesulitan untuk mendapatkan pupuk, ”kami setengah mati mendapatkan pupuk.”

Begitu pula dengan Bapak Adrianus (75). Pada Januari 2025, rumah dan tanamannya rata dengan tanah akibat penggusuran paksa. Namun, Bapak Adrianus memilih tetap bertahan di lokasi konflik. Baginya, tanah tersebut bukan sekadar tempat tinggal, melainkan simbol martabat yang harus dijaga.

Mereka berdua adalah lansia yang walau telah menjadi korban kekerasan dan pelanggaran HAM tapi terus bertahan dan bahkan menjadi teladan kehidupan. Sementara negara masih mengabaikan kesejahteraan mereka.

Untuk memastikan bahwa amanah para donatur sampai ke tangan yang tepat, IKa berkolaborasi dengan mitra di lokal yang dikenal memiliki konsistensi dalam mendampingi warga yang sedang berjuang mempertahankan haknya atas keadilan dan kebenaran.  Kolaborasi ini terjalin dengan PBH Nusra yang sering memberi bantuan hukum pada komunitas yang teraniaya dan terampas hak hidupnya dan JPIT (Jaringan Perempuan Indonesia Timur) di Kupang- Nusa Tenggara Timur yang setia mengawal hak-hak perempuan dan lansia rentan.

JPIT (Jaringan Perempuan Indonesia Timur )

Melalui jaringan ini, dukungan tersalurkan secara spesifik sesuai kebutuhan di masing-masing wilayah. Sebanyak 25 lansia yang didampingi PBH Nusra (terdiri dari 17 perempuan dan 8 laki-laki) menerima bantuan kebutuhan pokok berupa beras, kopi, gula, teh, dan minyak goreng. Sementara itu, bagi 22 penerima manfaat di bawah naungan JPIT, bantuan difokuskan pada kesehatan dan sanitasi, seperti balsem, obat alergi, minyak urut, pampers dewasa, serta paket sembako. Perhatian detail terhadap kebutuhan ini menjadi bukti nyata bahwa solidaritas kita hadir untuk menyentuh sisi paling personal dari kehidupan mereka.

Sentuhan yang Memulihkan

Dukungan yang terkumpul melalui penggalangan dana “Si Mbah” ini akhirnya tersalurkan sebagai wujud solidaritas nyata. Bagi para penerima, bingkisan ini bukan sekadar bantuan logistik, melainkan pesan bahwa mereka tidak dilupakan dan tidak berjuang sendirian. Bahwa masih banyak di luar sana masyarakat yang mengingat dan ingin membersamai mereka.

Bapak Adrianus mengungkapkan rasa harunya dengan penuh syukur:

”ini kenangan, sebagai bukti bahwa hubungan dengan IKa tetap ada. Selama ini hilang kabar, tetapi hari ini datang kembali dan kami diberi bingkisan Natal. Kami senang, terima kasih Indonesia untuk Kemanusian” semoga berjumpa di lain waktu – Bapak Adrianus PBH Nusra

Bagi Mama Dominika dan Bapak Adrianus, perhatian ini adalah penghormatan atas keberanian mereka menjaga kehidupan di pelosok negeri. Terima kasih telah menjadi bagian dari perjalanan kemanusiaan ini.

Memorialisasi dalam 3 Babak- Sebuah Refleksi dari Napak Reformasi

Memorialisasi selalu dimulai dengan niat yang sederhana: ingin tahu cerita seutuhnya. Sebagai late-millennial, saya terlalu muda untuk mengerti atau bahkan mengingat tonggak sejarah reformasi 1998 dari memori sendiri. Pengetahuan kami dibentuk melalui buku pelajaran sejarah. Narasi buku pelajaran memberi kami dua atau tiga paragraf tentang tahun 1998. Isinya lugas, berbicara tentang Reformasi, tentang Trisakti, tentang perubahan demokrasi. Namun, buku tidak berbicara tentang ketakutan di jalan-jalan Jakarta. Tidak berbicara tentang Surabaya, tentang Solo, tentang banyak ketidakadilan yang dikaburkan demi  menyederhanakan.

Pada 17 Mei 2025 lalu, Komnas Perempuan menyelenggarakan kegiatan “Napak Reformasi Mei 1998”. Kegiatan ini dimaksudkan untuk memperkuat memori kolektif tentang perjuangan reformasi, juga suara korban yang tidak boleh dilupakan. 

Babak 1: Pak Gun

Peserta Napak Reformasi diminta hadir di Komnas Perempuan jam 7 pagi untuk kemudian berangkat ke lokasi dengan bus. Agar tidak terlambat, saya memutuskan menggunakan jasa pengemudi online. Mungkin karena itu Sabtu, jam 6.33 pagi, sehingga Pengemudi GoCar hari itu, Pak Gun, bertanya untuk apa saya bertujuan ke Komnas Perempuan sepagi itu. 

Mendengar jawaban saya, Pak Gun mengungkapkan sesuatu yang membuat saya merinding: ia mengenal salah satu korban Trisakti, Heri, secara personal.

Heri Hartanto adalah satu dari empat mahasiswa Trisakti yang tewas dalam Tragedi Trisakti 12 Mei 1998. Mereka tewas tertembak di dalam kampus saat mengikuti demonstrasi yang menuntut turunnya Soeharto dari jabatan presiden.

Heri meninggal di umur 21 tahun.  Saat itu, Heri merupakan mahasiswa semester enam di Universitas Trisakti.

Pak Gun lanjut bercerita, bahwa ia juga mengenal keluarga Heri. Bahkan, ia menyebutkan bahwa Heri dan keluarganya tinggal tak jauh dari rumah saya- hanya kurang dari dua kilometer. Dan, ya, satu derajat kedekatan itu: pengemudi GoCar yang saya tumpangi adalah orang yang mengajarkan Heri cara menyetir.

Awalnya, saya tidak percaya, karena cerita Pak Gun sangat koinsidental-penuh kebetulan- dengan kegiatan Napak Tilas hari itu. Dari cerita Pak Gun, keluarga Heri “punya bisnis bus Mikrolet”, sehingga Heri berlatih menyetir menggunakan bus. Ketika saya pulang dari Napak Tilas hari itu, saya tergerak, tetapi agak penasaran terhadap validitas cerita pak Gun, sehingga saya melakukan pencarian di Google terhadap detil kecil itu:

https://megapolitan.kompas.com/read/2023/05/19/11333471/kisah-heri-hartanto-korban-tragedi-trisakti-awalnya-ingin-kuliah-di-ui.

Dikutip dari kompas.com

Lasmiati (ibu Heri- tambahan penulis) mengatakan, Heri mengambil jurusan itu karena setiap hari kerap berurusan dengan mesin kendaraan bermotor. Saat itu, Lasmiati mempunyai usaha bengkel mobil. Heri akhirnya ingin mengasah kemampuannya lebih dalam mengenai mesin mobil.” (Syahrial, 2023)

Di luar perkiraan, memorialisasi saya di hari itu dimulai bahkan sebelum Napak Reformasi berjalan. Rekoleksi Pak Gun masih membuat saya  terkejut, juga tertegun dan terhenyak sampai detik ini.

Saya turun dari mobil pak Gun dengan pemahaman yang sedikit lebih kaya tentang  ‘98. Sedikit cerita dari Pak Gun menguatkan pemahaman saya bahwa narasi sejarah tidak hanya satu suara seperti yang ditulis di buku, melainkan berbekas ke semua saksi peristiwa, baik yang secara langsung maupun tidak langsung mengalaminya. Trauma ini dialami bangsa secara kolektif, dan menghiraukan trauma ini seakan membiarkan luka terbuka begitu saja, dan adanya narasi yang berupaya mensamarkan memori bangsa, seakan secara periodikal menyiram luka terbuka itu dengan air garam.

Babak 2: S

Selanjutnya, mengingat kegiatan ini terbuka untuk umum- dengan undangan yang disebarkan melalui media sosial- banyak yang hadir berasal dari generasi muda. Kegiatan Napak Reformasi 1998 ini menyasar ke 4 titik yang tersebar di Jakarta Barat (Universitas Trisakti), Jakarta Selatan (Universitas Atma Jaya), dan Jakarta Timur (Mall Klender, TPU Pondok Ranggon). Karena saya membayangkan perjalanan yang pasti akan panjang di hari itu, saya mencari teman sebangku yang kiranya tidak jauh pantaran umur dari saya, dengan harapan bisa lebih terhubung dengan mudah.

Teman baru saya, S, bercerita bahwa seperti saya, ia juga lahir sebelum 1998-namun ia terlalu muda untuk mengingat reformasi. Namun berbeda dari saya yang seumur hidup tinggal di Jakarta, S besar di Surabaya. S bercerita kalau di Surabaya seakan tidak mengalami gejolak reformasi.

“ -Karena kerusuhan ‘98 kurang terasa di Surabaya ya?”, saya bertanya, dengan kembali mengingat buku sejarah saya semasa sekolah yang memang tidak mencantumkan selain demo di Jakarta.

S mengangguk, “Iya, beda dengan Jakarta”. 

Sepulang dari perjalanan, saya kembali melakukan cek fakta tentang 1998 di Surabaya, dengan membaca artikel-artikel di google. Ternyata asumsi saya bahwa kerusuhan tidak terjadi di Surabaya keliru besar.

Dengan mengutip KontraS Surabaya:

“Di Surabaya, peristiwa Kerusuhan Mei 1998 di beberapa tempat di kawasan Surabaya Utara, yaitu sekitar Semampir dan Pegirian, terjadi pada tanggal 14 Mei.” Kenang Poedjiati.

“Ada beberapa perbedaan jumlah data korban, dari Lembaga-lembaga yang melakukan investigasi. Korban pemerkosaan sekitar antara 10 – 19 orang, 2-6 orang korban penyiksaan seksual, dan puluhan orang korban pelecehan seksual.

Di luar Jakarta, kekerasan Mei 1998 seolah tenggelam dalam ketidakjelasan. Data korban simpang siur- jumlah yang tercatat berbeda di setiap laporan, tanpa ada upaya serius untuk benar-benar mengungkap angka yang sesungguhnya. Ini bukan hanya tentang kehilangan fakta, tetapi tentang bagaimana sejarah ditulis dan siapa yang diingat.

https://kontrassurabaya.org/aktivitas/tragedi-mei-1998-agenda-yang-belum-selesai/

Saya dan S juga membandingkan buku sejarah masing-masing waktu sekolah.  S menceritakan bahwa di sekolahnya materi lebih menitikberatkan pada pelanggaran HAM di 1965–1966. Materi tersebut disajikan dengan dukungan film-film yang menjadikannya lebih ‘familiar’ dibandingkan kisah 1998. Saya teringat memikirkan ironinya: untuk generasi kita yang secara garis waktu lebih dekat dengan 1998, tapi relevansinya dianggap rendah oleh buku sejarah sekolah

S menambahkan bahwa sayangnya peristiwa 1998 tidak ada film untuk menjadi bantuan narasi sejarah.

S kemudian bertanya, “Kamu nonton film Joko Anwar ‘Pengepungan di Bukit Duri’?”
Saya mengaku belum menontonnya, hanya tahu bahwa beberapa bulan lalu film itu sempat tayang di bioskop.  S menjelaskan bahwa film itu terinspirasi dari 1998, tapi ‘dikemas’ sedemikian rupa.

Saya yang lebih mengaitkan Joko Anwar ke film horror kemudian menyeletuk, “Itu genre nya apa? Non-fiksi horror?”

“Semacamnya…”, jawab S. “Thriller? Agak zombie gitu, eh- tapi bukan bener-bener zombie sih-

Melihat ekspresi saya yang kebingungan, S menjelaskan bahwa sebenarnya Ia berharap film Pengepungan di Bukit Duri merupakan narasi non-fiksi yang sedekat mungkin dengan peristiwa sebenarnya. Sebagai orang muda, belajar sejarah lewat budaya populer menjadi gerbang untuk membangun rasa ingin tahu terhadap sejarah sekaligus menyelami perspektif para korban. Disini ada kesempatan yang terlewatkan bagi media populer untuk membuka percakapan, mengangkat isu sosial yang terpinggirkan, dan membentuk kesadaran kolektif, tidak semata untuk menghibur.

Babak 3: Sendiri

Bagi saya, apa yang saya ingat tentang Mei 1998? Dari memori pribadi, tidak ada. 

Padahal, ketika terjadi kerusuhan 1998, saya dan keluarga termasuk yang mengungsi.

Kerusuhan dan pembakaran pun terjadi di pasar yang hanya berjarak 110 meter dari rumah saya.

Memori yang saya ingat tentang 98 malah dibentuk dari waktu sekolah. Lelucon internal angkatan saya: katanya kami lebih pendek dari generasi sebelum dan sesudah karena saat balita, kami tumbuh dalam krisis. Gizi buruk, orang tua tidak bisa beli susu karena ekonomi ambruk.

Dibalik lelucon itu, ada kemarahan. Faktanya, reformasi bukan hanya soal pergantian kekuasaan, tapi efek dominonya terasa bahkan sampai hal paling sepele- pertumbuhan generasi yang lahir dan tumbuh di tengah krisis.

Cuplikan-cuplikan sejarah yang saya cermati selama Kegiatan Napak Reformasi membuka mata saya bahwa narasi ‘resmi’ seringkali merupakan rangkuman, dibanding kebenaran yang utuh. Bahkan, angka-angka masih simpang siur, menunjukkan betapa banyak yang belum mendapatkan kejelasan dan keadilan.

Dalam proses ini, saya menyadari bahwa saya bukan sekadar peserta Napak Reformasi- saya adalah bagian dari generasi, yang perlahan mencoba menyusun kembali kepingan-kepingan ingatan sejarah yang tercerai. Saya, seorang anak pre-reformasi yang besar di tengah krisis, kini mewariskan semangat generasi sebelum saya untuk memperjuangkan hak-hak korban pelanggaran HAM  berat.

Memorialisasi bukan sekadar mengenang, tetapi juga memastikan bahwa sejarah yang kita ceritakan tidak berhenti pada versi yang nyaman atau sudah disederhanakan. Ia membutuhkan upaya berkelanjutan untuk melihat, mendengar, dan bertanya- karena di balik cerita yang terlupakan, maka masih ada korban yang merasa ditinggalkan.

Natal: Kasih dan Harapan Si Mbah

Natal adalah momen untuk berbagi kasih dan kepedulian dalam tindakan nyata. Dari Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa), kami mengucapkan rasa terima kasih yang mendalam kepada para donatur atas dukungan mereka yang tiada henti bagi Si Mbah Penyintas ’65—para penyintas tragedi 1965 yang kini telah lanjut usia. Berkat donasi yang diberikan, kami dapat menyalurkan 97 paket bantuan dan santunan tunai kepada Si Mbah di Banyumas, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, dan Nusa Tenggara Timur.

Banyak dari Si Mbah Penyintas ’65, yang kini berada di usia senja, masih menanggung luka ketidakadilan negara yang mereka alami saat muda. Di Banyumas, mereka membentuk komunitas “Paguyuban 10 November”, di mana mereka berkumpul setiap bulan secara bergantian di rumah-rumah anggota atau di warung kopi milik para sponsor dan mentor mereka. Pertemuan ini menjadi ruang terapi emosional, tempat mereka bernyanyi, menari, dan berbagi kisah—menemukan ketenangan dan kekuatan dalam kebersamaan. Untuk membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari, komunitas ini juga mendirikan Koperasi Simpan-Pinjam.

Kunjungan kami ke Si Mbah saat Natal membawa banyak momen haru. Saat menyerahkan hadiah Natal, banyak dari mereka mengenang masa lalu seolah baru terjadi kemarin. Beberapa berbagi cerita tentang bagaimana keluarga mereka dijauhi, diusir dari lingkungan, dan dilarang bersekolah. Didera emosi yang mendalam, beberapa di antara mereka menangis dan tidak mampu menyelesaikan cerita mereka.

Salah satu Si Mbah, seorang perempuan yang hingga kini belum menikah, berbagi bagaimana stigma masa lalu telah merampas masa depan yang pernah ia impikan. Tunangannya saat itu, seperti banyak orang lain, menolak menikahinya dan berkata:

“Kamu seorang komunis, seorang kriminal, dari keluarga yang tercela. Aku tidak ingin berhubungan denganmu atau keluargamu.”

Kata-kata itu tertanam dalam ingatannya, menjadi luka yang terlalu dalam untuk sembuh—sebuah trauma yang membuatnya memilih untuk menjalani hidup dalam kesendirian.

Namun, di antara kepedihan, ada pula momen kebahagiaan dan rasa syukur. Si Mbah Sanjan, salah satu penyintas, mengungkapkan keterkejutannya sekaligus rasa terima kasihnya saat menerima bantuan Natal:

“Terima kasih kepada Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) dan para donatur yang peduli kepada saya. Saya tak menyangka ada yang mau berdonasi, memperhatikan, bahkan mengunjungi kami. Biasanya, yang datang menemui kami hanya LPSK (Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban). IKa, semoga terus maju dalam perjuangan kemanusiaan. Saya sungguh heran bahwa yang membantu kami justru pekerja biasa—orang-orang dengan gaji UMR—bukan pemerintah yang katanya kaya.”

Di tengah semangat berbagi, IKa turut berduka atas berpulangnya salah satu Si Mbah yang menerima bantuan Natal, hanya beberapa minggu kemudian, pada 21 Januari. Saat kami mengunjungi beliau, ia berkali-kali mengungkapkan keterkejutan dan rasa syukur bahwa ada orang yang masih peduli padanya. Kata-kata terima kasihnya kini menjadi kenangan yang mengingatkan kami betapa berharganya tindakan kecil kepedulian bagi mereka yang telah lama dilupakan.

Kami sadar bahwa tak ada bantuan yang bisa sepenuhnya menyembuhkan luka masa lalu Si Mbah. Namun, komitmen kami terhadap kemanusiaan dan keadilan akan terus berjalan, memastikan mereka mendapatkan dukungan, martabat, dan pengakuan yang layak. Dengan kedermawanan para donatur, dukungan dari platform GlobalGiving, serta kolaborasi dengan berbagai mitra, kami akan terus mendampingi Si Mbah Penyintas ’65.

Saat kita merenungkan makna Natal, mari kita terus menyalakan semangat solidaritas—menyebarkan kasih sayang bukan hanya di momen Natal, tetapi juga dalam setiap kesempatan berbagi kemanusiaan. Jangan biarkan ketidakpedulian memadamkan cahaya keteguhan hati Si Mbah atau membuat perjuangan mereka sia-sia.

Donasi Bingkisan Natal Si Mbah

Setiap Natal adalah momen berbagi kasih yang dirayakan.

Dalam rangka berbagi Bingkisan Natal untuk Simbah pada tanggal 29 November – 20 Desember 2024, Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) menggalang donasi melalui Pundi Insani.

Donasi berhasil terkumpul sebesar Rp67.007.100. dari 11 donatur dan telah didistribusikan pada 23-30 Desember kepada 97 Si Mbah di wilayah Banyumas, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara dan NTT.

Terima kasih telah memberikan kehangatan Natal yang berkesan di hati para Si Mbah Lansia.

Salam damai Natal di bumi manusia.

Solidaritas bagi Bu Betet:  Ketegaran Hati yang Menginspirasi

Kamis 18 Juli 2024, musibah kebakaran menimpa rumah Bu Betet (nama panggilan untuk Ibu Sumiyati) seorang penyintas 65. Peristiwa kebakaran terjadi pada sore hari, saat Ibu sedang beribadah ke gereja. Kebakaran berhasil dipadamkan dengan bantuan warga setempat bersama pemadam kebakaran dan hanya menyisakan tembok pada beberapa sisi rumah dan beberapa kursi yang masih cukup layak untuk digunakan. Bu Betet pada masa mudanya adalah juga seorang perias pengantin, Ibu tidak segan memberi pengurangan bahkan tidak keberatan ketika pengantin tidak memiliki dana tidak ada bayaran bagi pekerjaannya. Beberapa waktu ini, rumah Bu Betet kerap kali digunakan untuk menjadi tempat tinggal bagi  mahasiswa yang tengah melangsungkan KKN (Kuliah Kerja Nyata) di desanya. Tak mengherankan jika dibalik musibah yang terjadi, muncul kehangatan yang tak terduga. Tetangga dan kerabat segera berdatangan untuk memberikan simpati dan dukungan. 

Sehari selepas musibah kebakaran, bantuan BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) datang. Bersama dengan tetangga, mereka bahu-membahu membangun kembali rumah Bu Betet. Hal ini menggerakkan hati Mas Ari, salah satu tetangga Bu Betet yang juga seorang kontraktor yang dengan sukarela menanggulangi  biaya pembangunan kembali rumah tersebut. Sebuah tim bahkan dibentuk oleh masyarakat sekitarnya, untuk memperlancar proses pembangunan, mengurus dapur umum, dan mengelola segala bantuan yang masuk.

Bu Betet merupakan sosok yang tangguh, baginya, “Derita jika dijalankan memang menyakitkan namun kalau dihayati indah pada waktunya.” Ia selalu menebar senyum dan tidak sedikitpun memperlihatkan kesedihannya saat para relawan datang menemuinya. Selama proses pembangunan kembali rumahnya Bu Betet memilih tinggal di tenda yang diberikan Kemensos walau beberapa warga menawarinya bermalam di rumah mereka. Namun Ia menolak dan memilih tetap tinggal dan bermalam di halaman rumahnya. Rumah yang penuh kenangan. 

Bu Betet adalah juga seorang yang tak pernah lepas dari doa dan syukur. Atas solidaritas yang mengalir dari banyak orang, melampaui yang dia bayangkan, Ibu mengucapkan banyak terima kasih dan mendoakan para relawan dan donatur. Menurut Ibu, yang pernah hampir kehilangan nyawa karena ditangkap dalam tragedi 65, kehilangan materi bukanlah hal yang terberat. Sikap Ibu yang tegar ini mengundang rasa takjub dari relawan ataupun donatur yang berkunjung, alih-alih menghibur Bu Betet, malah mereka yang belajar banyak dari kearifan beliau.

Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) sebagai organisasi dengan  visi memperjuangkan kehidupan yang adil, bermartabat, dan sejahtera bagi semua , melakukan penggalangan donasi. Dan mengumpulkan bantuan sebesar Rp. 8.500.000 yang disalurkan kepada Bu Betet melalui mitra IKa, Sekretariat Bersama (Sekber) 65. Sekber 65 sendiri merupakan organisasi paguyuban para penyintas 65 yang kegiatannya fokus pada pendampingan lansia penyintas. IKa juga menyempatkan diri hadir mengunjungi Bu Betet, sebelum meninggalkan lokasi, Ibu berpesan,”Jadilah orang yang berguna”.

Serah Terima Bingkisan Idul Fitri untuk Si Mbah, Pegiat Kesenian Banyuwangi

Menjelang Hari Raya Idul Fitri 1445 H, Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) di bawah program Pundi Insani menggalang donasi dari tanggal 19 Maret – 2 April 2024 bertajuk Bingkisan Hari Raya untuk Si Mbah, Penyintas Peristiwa ‘65. Pada tahun sebelumnya, IKa mendistribusikan Bingkisan Hari Raya untuk Si Mbah di wilayah Jabodetabek. Berdasarkan diskusi di internal IKa dengan Tim Pengarah Pundi Insani, tahun ini IKa mendistribusikan Bingkisan Hari Raya ke wilayah Banyuwangi melalui komunitas Layar Kumendung, sebuah komunitas seni yang merupakan hasil inisiatif dari sebagian penyintas peristiwa 1965/1966 bersama sejumlah individu dari berbagai latar belakang. Layar Kumendung, melalui komunitas Angklung Soren yang dikelolanya, menjadikan seni sebagai cara untuk menghadirkan kemanusiaan melalui aktivitas pelestarian kesenian Banyuwangi. 

Bapak Slamet Abdul Radjat, Ketua Pengurus Layar Kumendung, adalah pegiat kesenian Banyuwangi. Beliau juga adalah pencipta tarian Genjer-Genjer dan karya terbarunya adalah Tarian Perawan Sunting. Meskipun termasuk dalam kelompok yang terkena stigma peristiwa ‘65, beliau tidak pernah kenal lelah berkesenian serta melestarikan kebudayaan Banyuwangi melalui sanggar asuhannya bahkan hingga usia senja. Melalui Pak Slamet, bingkisan hari raya diberikan kepada 26 lansia penyintas yang berada di Banyuwangi, Ketapang, Glagah, dan Giri.

Saat melakukan pembagian bingkisan, Pak Slamet berperan sebagai koordinator dan membaginya melalui dua skema. Skema pertama, para penyintas sebagai penerima bingkisan berkumpul langsung di Sanggar ataupun di rumah Pak Slamet. Kedua, Pak Slamet mendatangi langsung ke rumah para penerima. Hal ini ternyata semakin memperkuat solidaritas di antara para penyintas pelanggaran berat HAM. Pemberian donasi dilakukan sejak tanggal 7 April 2024, para penyintas merasa bahagia menerima karena merasa ada yang masih memiliki kepedulian terhadap mereka.

Terima kasih, semoga diparingi rezeki dan sehat kanggo donatur. Kami senang atas kepedulian yang diberikan terhadap kami. Berapapun nominal tidak menjadi persoalan,” ungkap Ibu Slamet menyampaikan kesan dari para penerima donasi yang sudah memasuki usia senja. 

Beberapa penyintas juga masih aktif dalam berkesenian. Namun yang menjadi kerisauan mereka adalah kurangnya pendokumentasian atas hasil seni yang dihasilkan. Sejauh ini, mereka merawat ingatan dengan bertutur serta mengajarkan kepada kaum muda kesenian Banyuwangi baik dari tarian maupun permainan alat musik seperti angklung, kesenian yang sedianya dikenal berasal dari Jawa Barat, ternyata terdapat juga di Banyuwangi dengan nama Angklung Banyuwangian dan sudah ada sejak zaman Kerajaan Blambangan.

Pak Slamet kembali menyampaikan harapannya kepada Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) dan secara umum kepada instansi atau lembaga terkait untuk mendukung dan memfasilitasi proses pendokumentasian karya seni dari Layar Kumendung dan Sanggar Angklung. Harapannya hal ini dapat merawat Sejarah bangsa dan menjaga kelestarian kesenian Banyuwangi.

Doa untuk Bangsa: Pertunjukan Wayang Hak Asasi Manusia

16 Desember 2023

Di sebuah Kabupaten di Banyumas, Jawa Tengah, Indonesia, pada bulan Desember 2023, sebuah peristiwa seni budaya yang penuh makna terlaksana. Dalam rangka peringatan Hari Hak Asasi Manusia (HAM) Sedunia, Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) melalui program Pundi Insani, berkolaborasi dengan mitra-mitra NGO, turut mendukung penyelenggaraan sebuah pagelaran Wayang Kulit dengan tema yang sangat mendalam, “Doa untuk Bangsa”. Pundi Insani, sebagai wadah pengumpulan sumber daya demi pemulihan dan pemberdayaan korban pelanggaran berat HAM, menemukan sinergi yang kuat dalam kesenian Wayang Kulit, terutama karena dalang yang tampil merupakan penyintas pelanggaran berat HAM yang terjadi tahun 1965.

Pagelaran ini bukan sekadar hiburan, melainkan sebuah medium untuk menyampaikan pesan tentang pentingnya hak asasi manusia dan diharapkan menjadi bagian dari pemulihan dan rekonsiliasi budaya antara penyintas pelanggaran berat HAM dan masyarakat luas. Wayang sendiri telah diakui oleh UNESCO sebagai warisan dunia yang tak tergantikan milik Indonesia.

Melalui lakon “Tumuruning Wahyu Cemethi Sapu Jagat Songsong Lumbung Wasiat”, Ki Dalang— penyintas pelanggaran berat HAM yang telah lama menderita stigma dan diskriminasi—memberikan pesan tentang wahyu yang turun untuk kebaikan dunia. Kisah ini dibuka dengan gambaran dunia yang penuh kekacauan, dimana Semar, tokoh sentral dalam pewayangan, menerima sinyal penting dari Khayangan. Semar kemudian menyampaikan bagaimana menghadapi dan menumpas angkara murka agar masa depan dunia menjadi lebih baik. Pesan ini sangat relevan dalam konteks pemulihan hak asasi manusia yang terjadi di Indonesia dengan pernyataan pengakuan dan penyesalan atas peristiwa pelanggaran berat HAM masa lalu dari Presiden Jokowi, 15 Januari 2023.

Menariknya, Ki Dalang menggunakan dua bahasa dalam pementasannya: Bahasa Kromo Inggil (bahasa Jawa halus) untuk narasi pewayangan melalui lakon Semar, untuk menceritakan kedatangan seorang tamu-tamu yang dianggap memiliki pengetahuan tentang HAM, dan Bahasa Ngapak, bahasa daerah setempat.

Kepala Desa Pageralang, dengan bangga, mengapresiasi desanya menjadi tempat peringatan Hari HAM Sedunia dan mengajak warganya untuk membangun rasa saling menghormati, mulai dari lingkungan keluarga dengan menghindari kekerasan terhadap istri dan anak.

Pagelaran Wayang Kulit “Doa untuk Bangsa” dihadiri banyak pihak mulai dari masyarakat setempat, Kepala Dusun, Kepala Desa, hingga Asosiasi Dalang Indonesia dan berbagai organisasi pendamping korban di tingkat lokal dan nasional. Kegiatan ini memperlihatkan bahwa proses kebudayaan yang inklusif membuat stigma dapat dikikis secara perlahan, memberikan pengakuan atas martabat penyintas, meningkatkan kesadaran tentang nilai-nilai HAM dan membangun masyarakat yang lebih adil dan berempati.

Donasi Bingkisan Natal Simbah

Natal menjadi momentum untuk berbagi kasih.

Dalam rangka berbagi Bingkisan Natal untuk Simbah pada tanggal 5 – 18 Desember 2023 melalui program Pundi Insani yang digalang oleh Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) membuka donasi untuk Simbah dan berhasil terkumpul sebesar Rp. 2.340.000,- yang akan disalurkan melalui komunitas Sekber’65 yang berada di wilayah Solo.

Salam damai Natal di bumi manusia.

Semangat Muda dalam Forum Lintas Generasi #BetterTogether

Foto: Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa)

Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) menyelenggarakan Forum Lintas Generasi pada tanggal 8 hingga 10 Agustus 2023 dengan mengundang 2 mitra konsorsium yaitu Sekber’65 dan PBH Nusra dengan relawan  pendamping dari masing-masing wilayah yaitu Surakarta dan Nusa Tenggara Timur (NTT).

Selain itu, forum ini dihadiri oleh orang muda yang berada di wilayah Jakarta, Cilacap, Tangerang, Tanjung Priok, dan Bekasi dengan isu yang sama yaitu peristiwa 65/66, dan peristiwa Mei 1998. Jumlah orang muda yang hadir sebanyak 16 orang, 12 pendamping lansia, serta 12 orang lansia. Dengan jumlah laki-laki  17 dan jumlah perempuan 23 orang. Pertemuan Lintas generasi yang menggabungkan orang muda, dan lansia penyintas merupakan acara penutupan dari program voice selama 2 tahun program ini berjalan. Tema atau tagline dari program voice ini yaitu #BetterTogether yang memiliki pengertian apabila kerja – kerja HAM yang dilakukan secara bersama jauh lebih baik karena kerja-kerja ini menyangkut pemenuhan hak ekosob bagi penyintas 65 yang melibatkan Lintas Generasi.

Forum Lintas Generasi ini membahas hal yang berbeda dari masing-masing hari, hari pertama membahas tentang Proses refleksi bersama (kilas balik) 10 tahun terakhir, hari kedua membahas tentang Mengumpulkan Pengetahuan (membaca konteks kekinian),  dan hari ketiga yang merupakan hari terakhir membahas tentang Mengembangkan Strategi.

Hari pertama

Dua tahun bukan waktu yang sebentar namun juga bukan waktu yang terbilang lama, tetapi ada perubahan-perubahan yang dirasakan oleh masing-masing baik oleh IKa, Sekber’65 dan juga PBH Nusra. Berlangsungnya Lintas Generasi ini membuktikan bahwa tidak semua orang paham tentang peristiwa pelanggaran berat HAM yang terjadi di Indonesia, namun orang muda ini mau dan melakukan dengan sadar dalam menjadi bagian dari perjuangan dalam memperjuangkan keadilan HAM seperti yang dikatakan oleh Isnur yang merupakan salah satu narasumber pada acara ini. Ia mengatakan “perubahan-perubahan atau perjuangan yang selama ini dilakukan oleh berbagai kalangan merupakan dampak atau respon dari pemerintah contohnya INPRES (Instruksi Presiden), hal itu bukan semata-mata diberikan oleh pemerintah namun ada usaha korban, pendamping yang bergerak terus menerus” Muhammad Isnur (Ketua Umum YLBHI).

Belajar HAM tidaklah mudah, butuh waktu yang cukup panjang untuk memahaminya, seperti yang dilakukan pada forum Lintas Generasi ini. Semua peserta yang hadir dari masing-masing organisasi/ komunitas diajak untuk melakukan refleksi/ kilas balik dalam 10 tahun terakhir perjalanan yang sudah dilakukan dalam menyelesaikan kasus pelanggaran HAM berat masa lalu mulai dari kasus pelanggaran HAM berat apa saja yang selama ini menjadi perhatian hingga mimpi apa yang masih dirawat hingga kini. Jawaban yang diperoleh oleh masing-masing peserta beragam  seperti kasus yang pernah terjadi di NTT yaitu pembunuhan masal yang mengakibatkan trauma hingga terstigma oleh lingkungan, dituduh sebagai underbouw PKI lansia penyintas di Sekber’65, perempuan yang dipenjarakan dengan tuduhan Gerwani dan masih banyak lainnya. Namun dari itu semua ada mimpi yang hingga kini masih menjadi harapan dari para penyintas yaitu mendapatkan pengakuan negara, kejadian kelam tidak terulang kembali, mendapatkan kompensasi yang layak dari negara, restitusi dan rehabilitasi dan masih banyak lainnya.

Luka yang dialami oleh penyintas tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata betapa pedihnya kejadian masa kelam tersebut sehingga tidak semua penyintas mau menceritakannya karena masih ada trauma yang mendarah daging hingga kini tahun 2023. Menurut Gandes (narasumber Lintas Generasi) ada 2 tipe korban/ penyintas pelanggaran berat HAM masa lalu “luka yang tidak mau diceritakan, dan luka yang bersedia untuk diceritakan. Sejarah tidak seharusnya untuk dilupakan, justru dari sejarah kita dapat membuat sebuah perubahan”. Cecilia Gandes (Manajer media sosial Kompas).

Hari Kedua

Pada hari kedua pengetahuan yang diperoleh atau informasi yang diperoleh direfleksikan kembali yang dituangkan pada pembentukan kelompok untuk saling berbagi cerita yang ada dari kasus 65/66 dan 98 dari orang muda akan bertukar organisasi untuk mendapatkan informasi dari kasus yang terjadi di tempat yang menjadi korban pelanggaran HAM berat masa lalu. Seperti kasus 65 yang terjadi di Maumere adanya peraturan wajib lapor bagi penyintas setiap bulan dan pemberian kartu C bagi para korban tragedi 65 yang mengakibatkan para korban tidak menerima hak-hak yang seharusnya mereka dapatkan, salah satunya adalah Hak Memilih dalam Pemilu beberapa tahun silam. “Sebelum tragedi 65, kami berjuang untuk rakyat, namun pasca 65 kami berjuang untuk diri sendiri, bukan karena egois, tetapi berupaya untuk bertahan dan survive di tengah apa yang telah terjadi” Kris (Solidaritas Indonesia).

Tak hanya kasus 65/66 yang menyayat hati tak terlupakan juga kasus dari Mei 98 Ibu Ruminah (penyintas 98) mengatakan “kalau saya dari semenjak jadi korban Mei 98 tidak pernah senang, selalu diintimidasi sama orang-orang yang nggak suka sama korban Mei 98”.

Berbagi cerita yang didapatkan dari korban maupun pendamping tidak berhenti disitu, peserta dari masing-masing kelompok yang terdiri dari 4 kelompok yaitu kelompok Flaron, Kelompok Sergius, Kelompok Rusa, dan Kelompok Pemburu Keadilan, perlu menemukan titik relevansi dengan cara menuliskan mengapa penyelesaian kasus harus dilanjutkan oleh orang muda.  Ada berbagai jawaban seperti dosa masa lalu tidak terulang kembali, orang muda melakukan kampanye dan dokumentasi (digitalisasi), pemulihan hak-hak korban pelanggaran berat HAM masa lalu dengan mengawal implementasi Inpres No. 2 tahun 2023, orang muda adalah garda terdepan bangsa Indonesia, dan mengembalikan hak dan martabat korban. Hal itu semua merupakan upaya dari titik relevansi dari masing-masing kelompok yang bisa dilakukan oleh orang muda.

Hari Ketiga

Hari ketiga ini merupakan hari terakhir, ada moment seru ketika lansia duduk bersama dan saling menguatkan mereka saling berbagi pesan bahwa merawat keadilan dan HAM kami serahkan tongkat estafet kepada orang muda dengan berbagai upaya dan strategi yang bisa dilakukan dari ranah negara seperti mendorong pemerintah untuk membuat kurikulum sejarah yang lebih valid, mendorong pemerintah meratifikasi konvensi penghilangan paksa yang saat ini masih tertahan di DPR. Upaya dalam ranah masyarakat yaitu dengan menjaga masyarakat dari ide-ide ekstrimisme dengan melakukan sosialisasi mengenai kesadaran HAM, memperbanyak strategi kampanye, melibatkan orang muda dalam memperjuangkan hak-hak korban dan dalam organisasi gerakan HAM. Upaya dalam pendampingan korban yaitu memperbanyak ruang temu diskusi lintas generasi, memberikan peningkatan kapasitas bagi orang muda dan keluarga korban.

Tiga hari forum Lintas Generasi merupakan acara yang berkesan di benak masing-masing baik orang muda, dan lansia. Berbaur satu sama lain dengan masing-masing organisasi sudah dapat membuktikan bahwa kepedulian yang dilakukan orang muda dilakukan dengan empati bukan hanya sekedar simpati sesaat. Karena lansia merasa diwongke (di orangkan) dan didengar apa yang diinginkan apa yang menjadi keresahan di hati. Senyuman, ucapan syukur dan terima kasih diucapkan dengan tulus dan air mata, mereka merasa aman dan nyaman saat bercerita. Penutupan ini diakhiri dengan panggung ekspresi #BetterTogether baik individu ataupun kelompok ada yang menampilkan dance, baca puisi, menyanyi, berjoget ria bersama, dan ada pula yang bermonolog. Terima kasih voice untuk dukungan yang diberikan kepada IKa maupun mitra konsorsium seperti Sekber’65 dan PBH Nusra. Penutupan ini akan menjadi dokumentasi nyata bahwa tiga hari pertemuan lintas generasi merupakan salah satu cara dalam mengkampanyekan keadilan pelanggaran HAM berat masa lalu dengan menghadirkan korban maupun pendamping.

Selalu dapatkan kabar terbaru dari kami!